Ritual Penguburan Mayat Paling Sadis

February 3rd, 2010


Prolog :

Sesosok tubuh anak muda berkulit putih yang sudah tidak bernyawa itu terbungkus kain putih dan dalam keadaan terikat kedua tangan dan kakinya, para pengusung jenazah tersebut dengan hati-hati menurunkan bungkusan yang dipanggul oleh salah seorang lelaki dan lelaki itu kini meletakkan bungkusan tersebut dan membuka kain kafan yang membungkusnya dan kemudian menelungkupkan jenazah anak muda  tersebut di atas sebuah altar, dan segera membuka kedua ikatan tangan dan kakinya. Salah seorang pendeta yang bertugas memimpin ritual maju ke depan dengan mengenggam sebatang parang yang nampak tajam berkilat, sementara itu para pelayat yang hadir di tempat sunyi itu nampak diam khidmat menyimak upacara yang segera dimulai dengan iringan nyanyian-nyanyian suci yang ritmik menghipnotis dan makin lama makin bergema dan irama yang berayun-ayun magis,  angin yang semula bertiup sepoi-sepoi mendadak seolah berhenti, suasana makin mencekam, hanya nyanyian para pendeta yang terdengar makin kompak dan menyatu, kemudian…………satu, dua tida dan……

“Croooooooooook…crooooooooooooooooook…creeeeeeeeeees……………”

Mata parang yang tajam terdengar nyaring. Ya, proses  memotong-motong tubuh jenazah telah dimuali. Suasana makin mencekam. Seemntara lelaki yang tengah melakukan ‘deed’ tersebut tampak kalem dan begitu tenggelan dalam pekerjaannya, hanya sekali-kali terdengar bunyi parangnya di tengah-tengah gemuruh suara burung bangkai yang mulai ribut dan juga doa-doa suci yang berasal dari para pendeta yang mengelilingi lelaki tersebut. Puluhan burung bangkai sudah nampak bergerombol menanti makan siang yang hampir siap.



Dear KoKiers,

Topik pemakaman sky burial ini kembali mengusikku. Beberapa hari lalu, secara tidak sengaja, aku came accross salah satu web log yang mengupas tentang hal ini, jujur topik ini seolah kembali membuka ‘memori’ lama salah satu artikel yang pernah kutulis untuk koki.  Kira-kira dua minggu sebelumnya, ketika lagi-lagi aku came accross chatting dengan tokoh KoKiers beken Ria Kansas yang juga dalam salah satu topik chattingan kembali membuka ‘memori’ artikel tersebut yang menurut beliau, Ria terkesan oleh artikel tersebut. Pengakuan Ria membuatku melambung dan terbersit keinginan untuk kembali menulis topik sama, dan niat semakin kuat ketika ‘baru’ dua malam lalu, kembali aku seolah diingatkan oleh niat ini, gara-gara menonton film yang dalam salah satu adegannya, menampilkan upacara sky burial ini, yang ilustrasinya ada di bagian ‘prolog’ tulisan ini.

Ritual pemakaman sky burial yang walau tidak banyak tetapi masih tetep ada sampai sekarang. Adalah sebuah sekte dari agama di Tibet  terutama yang  masih percaya akan reinkarnasi, masih melakukan ritual pemakaman sky burial.  Metode penguburan mayat ini tidak berlaku untuk sembarang mayat. Ritual ini tidak untuk orang yang pada waktu menjadi almarhum/mah belum berusia 18 tahun, atau bagi wanita hamil yang meninggal atau orang-orang yang meninggal karena penyakit menular dan berbahaya.

Pada dasarnya, selain dikubur  layaknya di belahan bumi manapun, di Tibet khususnya, masih ada tiga jenis pemakaman, yaitu : dipersembahkan kepada laut (water burial,  yaitu metode penguburan dimana mayat di berikan kepada ikan-ikan untuk jadi santapan sang ikan di laut), yang kedua adalah : dikremasi dan  yang terakhir adalah sky burial ini, yaitu metode penguburan mayat dimana tubuh mayat dipersembahkan kepada vultures atau burung bangkai.

Pemakaman ini berpangkal pada logika karena adanya kesuliatn untuk menggali kubur dan mencari kayu untuk mengkremasi mayat, hal ini seperti kita ketahui bahwa kondisi geografis  Tibet yang bergunung-gunung yang seringkali sangat terjal sangat menyulitkan pemakaman ‘normal’  dan karena alasan inilah, dari sekian aliran agama di Tibet, ada sebuah kelompok aliran tertentu di Tibet yang lebih senang mengubur mayat dengan metode sky burial. yang intinya adalah memberikan jazad almarhum kepada burung pemakan bangkai. Dipercaya bahwa sky burial akan lebih mempercepat roh si mati untuk naik ke nirvana .  Perjalanan akan jauh lebih cepat dengan bantuan burung vultures. Yang dalam bahasa Tibet disebut Dakinis  atau terjemahannya adalah “sky dancer’ yang berarti  “angel”.

Ritual penguburan ini, dinilai  sangat barbar dan keji, dan juga dianggap tidak menghormati mayat yang bersangkutan dan oleh karenanya, upacara sky burial ini pernah dilarang oleh pemerintah China  ketika China  komunis masih berkuasa di Tibet pada tahun 1960-1970, namun pada tahun 1980 an pemerintah Tibet mengijinkan kembali acara ini untuk tetep berlangsung, karena bagaimanpun juga model ritual ini selain masih dilakukukan oleh sebagian masyarakat,  walau sudah dilarang,.

Sky burial juga merupakan ritual agama yang mempunyai arti sangat penting bagi kelompok yang menyakininya dan merupakan warisan budaya Tibet juga . Bahkan di tahun-tahun belakangan juga menarik para jurnalis dunia untuk menggali berbagai informasi tentang Sky burial dan juga tentu menarik para turis, walau upacara sky burial ini lebih sering dilakukan sangat tertutup dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan jalannya upacara yang mendirikan bulu roma ini.

How about the actual ritual…?? Apakah hanya merupakan isapan jempol saja atau memang benar-benar ada?

Here the details :

Pertama-tama jika ada anggota keluarga yang meninggal, maka mayat si orang tersebut akan didiamkan selama 3 hari sampai 7 hari tanpa disentuh. Kemudian setelah anggota keluarga setuju mengenai jenis pemakaman apa yang hendak dilakukan, barulah mereka menyiapkan ubo rampenya. Pada umumnya mereka memilih metode sky burial. Ya, karena dengan kepercayaan kuat bahwa burung vulture akan mempercepat proses si arwah untuk naik ke sorga.  Dengan kata lain : thanks to the vultures. Sky burial faktanya memerlukan dana cukup besar,  walau masih dibilang jauh lebih murah jika dibanding dengan upacara kremasi.

Ketika kematian menimpa sebuah keluarga, maka pihak keluarga akan segera mengundang pendeta yang akan mengepalai upacara dan  selanjutnya sang pimpinan pendeta akan menunjuk juga pendeta-pendeta lain yang tugasnya membakar hio dan chanting doa, mendoakan arwah yang meninggal dan juga sang pemimpin menunjuk seorang yang disebut “flesh breaker”  sang jagal mayat  yang tugasnya sangat vital dalam upacara ritual.  Seorang flesh breaker kehadirannya adalah mutlak karena tugas inti dari ritual pemakaman ini ada di pundaknya. Lebih sering flesh breaker lebih dari satu.

Setelah si mayat dimandikan dan dibersihkan, tubuh si mayat dibungkus dengan kain putih dan di arak ke tempat upacara  dengan cara ditandu atau hanya digendong di pundak. Dalam beberapa video yang aku saksikan upacara sky burial sering dilakukan secara kolektif juga,  Biasanya di sebuah kuil, dimana upacara pre-penguburan, mayat lebih dari satu. Kadang-kadang dalam suatu upacara bisa terdiri dari lima mayat sekaligus. Mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Satu-satu mayat datang dengan dipanggul dan dalam keadaan ditekuk seperti duduk.  Dan kemudian mayat diletakkan di salah satu hall di kuil tempat diadakan ritual dan didoakan sebelum diangkut ke lokasi pemakaman. Tempatnya biasanya berlokasi di puncak gunung, dan yang dianggap punya makna khusus. Dengan diiringi kepulan asap hio yang tiada henti mengepul, serta doa-doa pendeta  yang penuh khidmad mereka menuju tempat penguburan.

Ritual upacara ini sangat tertutup bagi masyarakat umum dan biasanya juga tidak banyak yang menyaksikan. Walau disarankan anggota keluarga turut menyaksikan sky burial untuk menyaksikan “kenaikan” arwah orang tercinta dalam memulai perjalanannya menuju ke nirvana. Kelompok  penganut agama ini percaya bahwa tubuh manusia yang sudah meninggal adalah hanya sebagai ” vessel atau wadag” saja, artinya sudah tidak ada maknanya, dan sesuai dengan ajaran agama mereka yang berdasar “memberi” maka dengan dipersempahkan wadag ini kepada burung, akan membantu makhluk lemah yang perlu survive untuk hidup,  dalam hal ini  memberi makan vultures dengan potongan daging berasal dari jazad yang meninggal juga merupakan simbol suci agama tersebut. (dakinis)

Setelah iring-iringan pengangkut mayat tiba di tempat upacara, mayat dibaringkan dalam posisi fetal (seperti ketika bayi dilahirkan) di atas sebuah altar yang berbetuk batu besar dengan permuakaan datar yang berada di tengah-tengajh lokasi. Setelah itu,  dibuka kain pembungkusnya dan mayat dalam keadaan telanjang, yang tak jarang juga sudah berbau busuk dan bengkak-bengkak kemudian sang pendenta melakukan doa-doa dan tugas si flesh breaker ini dimulai. Dia akan segera memotong-motong tubuh si mayat dan memisahkan antara daging dan tulang, dan hanya meninggalkan kepala dan rambut. Biasanya mereka menyimpan rambut untuk dibawa pulang atau ada yang disimpan di  kuil-kuil, walau tak jarang mereka juga memecah kepala mayat dan mengambil tengkoraknya dan dibawa pulang untuk dijadikan sebuah cangkir untuk minum teh talking about a cup of butter tea…...But of course, cangkir inipun lebih bermakna simbolis saja.

Proses selanjutnya adalah sang pendeta akan memanggil puluhan burung bangkai yang ginuk-ginuk yang sudah ngiler  kelaparan dan tidak sabar menanti dinner. Mereka bergerombol terbang rendah di sekitar altar dan dengan panggilan khusus dari pemimpin upacara,

“…tzsoooooooooooooooooo…tzshooooooo…………..tzshoooooooooooo…….”

dan….bebbeerrrrrrrrrrrrrrrrr  berpuluh-puluh monster yang sudah menunggu mulai pesta pora tanpa membuag waktu lagi, and the real party is started.  Burung-burung yang kelaparan mulai merayah organ-organ dalam si mayat yang dilemparkan oleh si pendeta sebagai appetizer. Setelah platter antipasto organ lenyap di mulut para burung, dilanjut dengan daging-daging yang di sebarkan ke arah mereka. Darah berceceran di TKP semakin membuat barisan burung bangkai mad as a hell. Seasana makin sinister. Mereka menimbulkan suara gaduh yang mendirikan bulu roma.

Setelah kenyang,  mereka terbang , namun ada juga dari sekian puluh yang belum kebagian jatah makan siang masih konsentrasi di tempat menunggu sisa-sisa daging. Si flesh breaker akan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai, yaitu mengumpulkan tulang belulang si mayat, setelah itu dia mengambil  palu dan mulai meremukkan tulang belulang sampai menjadi serpihan-serpihan kecil, atau berupa bubuk tulang dan setelah serpihan yang sudah terkumpul  termasuk kadang-kadang otak, maka bubuk tulang tersebut dicampur dengan tsampa (tepung barley) makanan khas Tibet dan juga kadang-kadang dicampur dengan Yak butter (sejenis keledai/sapi/or kebo), setelah itu, adonan itu disebar ke penjuru tempat ritual dengan maksud diberikan kepada burung-burung yang lebih kecil lainnya seperti burung gagak atau rajawali.

Para peserta ritual ini belum boleh meninggalkan arena kalau belum diyakini benar bahwa tidak ada sisa-sisa sedikitpun dari tubuh si mayat yang berserakan, alias bersih..sih.  Sehingga tidak ada yang sampai ketinggalan untuk kembali ke nirvana. Setiap inci tubuh mayat tidak ada yang boleh ketinggalan secuil pun.

Dear KoKiers, burung vultures ini dipercaya bukan hanya sekedar makan sepotong dua potong daging  si almarhum, tetapi actually they are removing the body and completing the life’s cycle.

Memang nampaknya metode penguburan sky burial ini sangat kejam dan brutal sekali, tetapi itulah kenyataan yang ada di dunia ini, aneh tetapi nyata. Berbagai macam adat istiadat yang mungkin bagi sebagian orang sangat kejam tetapi bagi orang lain merupakan sebuah “deed”. Lain ladang lain belalang.Simple as that.

Salam manis,

oleh : Reef Australia

koki.

Bookmark and Share
The End

My Last Valentine

February 2nd, 2010

Aku pernah bertanya dalam hatiku, apa yang aku cari ketika di hari semua orang memberikan kasih sayang. Sedangkan aku tetap di sini untuk terdiam, bertanya siapa yang akan memberikan aku sebuah coklat ataupun setangkai mawar merah yang artinya aku disayangi. Dan ternyata hingga kini usiaku 20 tahun, tak seorang pun yang memberikan hadiah, namun tahun ini aku mendapatkan sebuah hal yang tak pernah aku pikirkan. Hadiah dari kakekku.

Ia datang menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda tuanya yang layak untuk dimuseumkan. Bunyi sepeda yang mengiris dengki dan ngilu. Namun ia tetap setia datang untuk memberikan aku sebuah hadiah. Aku membuka pintu utama rumahku ketika ia datang memarkir sepedanya di halaman rumahku. Ia tersenyum menatapku dengan membuka topi tua klasik Cinanya. Usianya yang sudah 70 tahun tampak terlihat dengan rambutnya yang sudah memutih.

“Kakek kok siang-siang gini datang , apa ga kepanasan?”

“Gapapa. Mana mamamu?” Tanya Kakek

“Dia lagi pergi ke rumah tetangga..?”

“Oh.. ya sudah tak apa? Kamu kenapa tidak kuliah?”

“Ya, ampun kakek ini kan hari libur . Hari Minggu. Kakek pikun ya?”

“Ah.. maaf, Kakek lupa. Ini Kakek ada hadiah kecil untuk kamu?

Kakek memberikan aku sebuah hadiah dalam kotak kecil kusam yang berwarna merah. Tampak dekil dan aku menyentuhnya dengan sedikit jijik lalu membukanya tampak sebuah liontin anting berbentuk bunga matahari perak.

“Apa ini.. ?

“Ini hadiah untuk kamu, Cuma ada satu. Satunya lagi ilang. Ini saja baru kakek temukan pas lagi beres-beres gudang, sayang kalau dibuang. Itu hadiah berkesan kakek untuk kamu.?”

“Hah.. mana jaman aku pake ginian..?”

“Hehehe.. ya simpan saja kalau kamu tidak suka?”

“Oh..kakek mau masuk dulu ga?”

“Kakek mau duduk di teras rumah saja. Kamu ambilkan kakek teh hangat saja?”

“Oo.. ya sudah, tunggu ya..!”

Beberapa saat kemudian aku keluar dengan sebuah teh hangat sisa milik ayahku yang sedang pergi bersama ibu. Memberikan teh tersebut di meja teras, menatap wajah kakek yang sedang termenung memandang halaman rumahku yang dipenuhi ikan mas di kolam kecil.

“Kek. Ini air tehnya..!”

“Makasih.. kamu kenapa kok Valentine gini masih di rumah?”

“Hm.. kakek tau Valentine juga ya.. kirain ga ada jamannya!”

“Enak saja. Biar tua gini.. kakek juga pernah muda lah!”

“Oh gitu ya..”

Aku memperhatikan wajahnya yang termenung. Keringat basah yang bercucuran di keningnya terlihat menyatu dengan keriput tua di garis wajahnya. Lalu ia tiba-tiba mengajakku bicara.

“Kamu kenapa tidak punya pacar sampe sekarang?”

“Ga tau , Kek. Nasib jelek kali. Emangnya kenapa?”

“Ga pa pa. Kakek juga pernah berpikir sama kayak kamu kok. Tapi jangan cemas Agnes cucuku. Takdir cinta manusia itu akan selalu ada..!”|

“Lah.. kok bisa ngomong gitu. Kan Agnes ga jelek-jelek amat, Kek. Kenapa masih single ya. Iri deh sama temen temen yang punya pacar di Valentine gini.!!”

“Hehehe.. kakek ada cerita buat kamu. Mau denger..?”

Aku mulai males mendengarkan dongengnya yang selalu kudengar sejak kecil. Namun kesepian dalam rumah juga membosankan. Akhirnya aku terdiam mendengarkan kisahnya saja. Toh tidak ada salahnya.

*****

Di masa lalu.

Martin ( Kakekku) adalah seorang pria pemalu dalam segala hal. Bahkan hingga ia duduk dibangku SMA ia tidak mendapatkan kekasih yang ia inginkan. Namun ia bertaruh dengan seorang rekannya akan membawa seorang wanita di hari Valentine. Ia pun bertekad memamerkan wanita itu pada harinya. Dengan segenap usaha dan waktu yang sempit ia pun mulai mencari-cari. Dari adik kelas yang cantik hingga kakak kelas yang cantik semuanya ia coba cari untuk menjadi pacarnya.

Namun tidak ada satupun yang berhasil membuat hatinya luluh. Wajah Martin tidak jelek-jelek banget untuk menjadi pria jomblo. Ketika ia pulang sekolah dengan sepedanya yang masih ada hingga sekarang ia pake. Bannya kempes karena tertancap paku. Ia pun terpaksa mendorong sepeda itu hingga ke rumah. Di dalam perjalanan. Seorang gadis muda berlari memukul kepalanya dengan keras, gadis itu tampak pucat. Martin kontan marah

“Ngapain sih kamu pake mukul kepala aku. Sakit tau?”

Gadis itu tampak pucat dan tidak bicara. Ia hanya mengerakkan tangan seperti memberikan sandi kepada Martin untuk mengerti maksudnya.

“Apa sih. Ga ngerti ah.. gila ya kamu?”

Gadis itu terus mengerakkan tangannya. Wajahnya seperti meminta pertolongan. Martin mengira gadis itu tidak waras. Lalu pergi ketakutan. Tapi gadis itu tidak menyerah begitu saja, ia pun menarik lengan baju Martin. Martin pun semakin marah.

“Eh orang cacat ngapain sih ganggu aku. Ngomong aja ga bisa. Uda sana pergi”

Gadis itu terdiam. Ia menangis. Dan Martin menjadi tak enak hati berkata kasar. Lalu berkata

“Emang ada apa sih?” tanya Martin

Gadis itu menarik tangan Martin untuk mengikutinya. Memasuki sebuah tepi hutan kosong. Ketika mereka tiba. Terlihat seekor anak burung terjatuh dari kandangnya yang terdapat di atas rumah pohon belimbing. Martin mengerti maksud gadis itu, ia hendak meminta tolong mengembalikan burung kecil itu di atas pohon. Ia hanya berpikir mengapa gadis itu harus peduli terhadap burung kecil yang tak ada artinya tersebut. Untungnya bayi burung kecil itu tidak terluka. Ia selamat ke kandangnya , gadis itu tampak senang. Wajahnya yang sedih kemudian berseri seri.

“Uda kan. Sana pulang..?” ujar Martin

Martin pun meninggalkan gadis itu begitu saja. Namun gadis itu menempuk badannya dari belakang.

“Kenapa lagi?”

Gadis itu mengambil sebuah tangkai pohon kecil menuliskan sesuatu di tanah liat. Lalu Martin membacanya.

“Maaf aku bisu, aku tulis disini saja. Nama aku sapa?”

“.. oh nama aku Martin, kamu?” jawab Martin mengapa gadis ini dari tadi berkelakuan aneh,

“Angel…” tulisan itu berkata

“Oh.. Angel “

Gadis itu kemudian menuliskan tulisan kembali

“Terima kasih. salam kenal”

“Ok. Sama sama.. aku pulang dulu ya. Kamu pulang sana.. “

Martin berjalan meninggalkan Angel. Namun Angel terus mengikuti pria itu. ia menjadi risih namun tidak berusaha peduli. Ia terus menuntun sepedanya dan gadis itu terus mengikutinya, ia semakin emosi.

“Ngapain sih kamu, ikutin aku terus?”

Gadis itu terdiam kemudian menunjuk rumah di sampingnya. Martin yang tampak marah ikut terdiam memperhatikan rumah di pinggir jalan yang cukup besar.

“Itu rumah kamu?” tanya Martin dan Angel mengangguk tanda ya.

“Oh.. sorry kirain kamu ikutin aku terus. Kalau gitu pulang sana. Aku mau pulang juga!”

Martin memastikan gadis itu telah masuk ke rumahnya, hatinya tenang. Ia berpikir gadis itu cantik namun sayang ia bisu. Andai saja ia tidak bisu ia akan terlihat sempurna. Ketika beberapa meter berjalan. Gadis itu kemudian kembali berlari mendekatinya. Nyaris saja Martin naik pitam namun ketika gadis itu muncul dengan alat pompa ia mulai mengerti kebaikan gadis itu. Martin menatapnya gadis itu yang baik hati. Kemudian mereka berpisah.

Keesokan harinya.

Martin sedikit emosi ketika sahabatnya Hendra tak henti-henti mengejek dia tidak laku. Hari Valentine semakin dekat. Namun ia belum saja mendapatkan gadis impian. Akhirnya ia pun memutuskan bolos dari pelajaran selanjutnya. Ia menarik sepedanya kabur dari sekolah dengan ejekan teman-temannya. Ia mengayuh arah sepedanya tampak arah. Kemudian hujan turun. Ia terhenti di sebuah pohon kecil untuk berteduh dari hujan besar tersebut.

“Sialan Hendra , pake ngeledekin gua. Dia ga tau aja cewek impian gua kayak apa. Emangnya gua murahan kayak dia semua juga diembat! Bikin keki aja!”

Ketika ia mengeluh. Hujan tak semakin mengecil namun semakin besar. Tiba tiba muncul Angel gadis bisu yang ia jumpai dengan sebuah payung berjalan melihatnya. Gadis itu kemudian menyapanya dengan tepukan tangan. Martin yang sedang melamun sedikit kaget ketika melihat Angel.

“Ngapain kamu ujan-ujan keluyuran?”

Kali ini gadis itu tidak lagi terdiam , ia mengambil tas yang berisi buku kecil kemudian menuliskannya.

“Habis pergi lihat burung kemarin. Ingat?”

“Oh. Inget , ngapain dilihatin terus. Emang itu burung kamu?”

“Bukan. Itu burung tak dikenal. Kasian takut jatuh lagi. Dan ternyata tidak. Kamu keujannya ya?” tulisnya

“Ya, iyalah emang kalau disini berdiri ngapain?”

“Tunggu ya.. aku pulang ambil payung buat kamu?”

“Hah, ga usah.. repotin aja..”

Angel tersenyum kemudian berlari bersama payungnya menembus hujan lebat. Mungkin ia tidak mendengarkan suara larangan Martin karena hujan besar membisingkan suasana. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali dengan pakaian yang basah walau mengunakan payung. Ia tersenyum sambil memberikan payung itu pada Angel.

“Idih. kamu ngeyel amet sih. Uda bilang jangan! Liat deh kamu jadi basah kuyup gitu”

“Ga pa pa.. aku uda biasa. Ini payung pake ya.. aku mesti pulang dulu!”

“Terus aku balikin payung ini gimana?”

“Kamu masih inget kan rumahku. Ntar kalau sempat kembalikan, kalau tidak sempat ya sudah buat kamu saja!”

“Oh.. ya udah!”

Martin melihat gadis itu berlari menghilang diantara hujan. Ternyata Angel berlari di sebuah tempat orang lain berteduh. Ia melihat seorang ibu yang terdiam menunggu hujan dengan payung yang ia tidak pakai. Kemudian memberikan payung itu pada ibu tersebut, ia berhenti dijalan tadi sebelumnya ia berkata pada ibu itu untuk meminjam payungnya sesaat karena tidak mungkin ia pulang ke rumah mengambil payung. Lalu payung yang ia gunakan sekarang ia berikan kepada ibu itu. Payung miliknya kini dipakai oleh Martin

***

Martin menuju rumah gadis itu untuk mengembalikan payung yang ia pinjam hujan lusa lalu. Ia tiba ke rumah yang cukup besar. Namun tampak sepi, ia mengetuk pintu dan kemudian muncul Angel menyambutnya. Tampak basa-basi Martin mengembalikan payung tersebut. Ia menatap wajah Angel yang cukup cantik dari kepala hingga kakinya. Dan mulai berpikir.

“Mungkin kalau Angel aku bawa ke Valentine nanti. Mereka bakal kaget ya. Cantik. Tapi dia kan bisu. Gimana ntar jadi ejekan lagi! “

Ia pun melewatkan angan-angan itu. Dan pergi menuju sekolahnya. Angel menatap pria itu dengan tersenyum. Melambai-lambaikan tangannya terlihat girang memberikan salam perpisahan. Di sekolah, kembali terjadi perdebatan dengan Hendra

“Tin, Valentine itu besok. Mana cewek kamu?” ledek Hendra dan Albert terdiam sambil berpura pura menulis

“Udalah Tin. Kita tau kok. Kamu homo hahaha” seluruh kelas tertawa dan Martin mulai tidak tahan

“Gua bukan homo. Gua ada pacar. Namanya Angel !!”

Seluruh isi kelas yang bising menjadi sunyi mendengar ucapan Martin. Hendra tidak percaya begitu saja.

“Oh.. kalau gitu besok buktikan. Tapi kalau sampe dia ga ada atau kamu cuma bohong. Kamu kita anggap homo, semua orang uda pikir gitu juga. Ok!!”

“Ok!!”

Martin terlanjur mengeluarkan janji yang tidak bisa ia pungkirin. Sepanjang perjalanan ia mulai berpikir kesalahan fatal yang ia katakan. Namun tidak ada jalan lain selain menjalankan semuanya dengan terpaksa. Ia pun pergi menuju rumah Angel. Angel menyambutnya dengan gembira. Lalu terlihat kaget mendengarkan ajakan Valentine dari Martin.

“Mau ga kamu besok ikut Valentine Day di sekolahku?”

“Emang boleh?” tulis Angel.

“Boleh.. tapi janji satu hal ya! Sama aku!”

“Apa?”

“Maaf sebelumnya. Jangan pernah tunjukin ke semua orang kalau kamu itu bisu?”

Wajah Angel seketika terlihat murung,walau tersinggung ia pun bersedia menyanggupinya. Martin pun mengatur semuanya. Mulai dari semua pembicaraan yang tidak boleh menunjukkan ia adalah seorang bisu. Hingga penjemputan dan apapun yang dapat membuatnya tidak malu karena membawa Angel ke sekolahnya. Hari itu pun ditunggu.

Keesokan harinya.

Martin terpaku ketika menjemput Angel dengan sepedanya. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun putihnya. Ia pun membawanya ke sekolah. Di sekolah telah terlihat semua murid yang membawa pasangan masing-masing. Ketika Martin dan Angel tiba. Semua mata terpaku tak percaya. Mengapa Martin bisa membawa seorang gadis cantik. Termasuk Hendra. Lawan taruhannya.

“Ini Angel. Pasangan gua!” kenal Martin pada Hendra yang juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian keduanya meninggalkan Hendra dengan perasaan malu karena harus mengakui kehebatan Martin. Pesta berakhir sukses dengan kemenangan Martin. Kemudian Martin dan Angel dapat pulang dengan senyuman besar. Dalam perjalanan, Angel menepuk pundak Martin dari sepedanya.

“Kenapa?”

“Mau anterin aku ke rumah pohon burung itu ga?” tulis Angel

Martin pun melaju sepedanya ke rumah pohon tersebut. Ketika mereka tiba.Angel menangis histeris. Ini pertama kalinya Martin mendengar suara pertama dari gadis itu. Ia menangis karena burung kecil itu terjatuh lagi dan kali ini terluka cukup parah hingga kakinya mengalami luka. Martin dan Angel tidak dapat berbuat apa apa selain membawa burung itu ke rumah Angel. Setelah mengobati lukanya . burung itu dirawat di rumah Angel.

“Kamu kenapa begitu peduli sama burung kecil ini”

“Karena burung ini hidup di kandang yang dibuat oleh Kakek untuk aku sebelum meninggal?” tulis Angel.

“Oh..”

Lalu Angel pun bercerita bahwa ia memang datang ke kampung Kakeknya untuk mengambil barang-barang yang hendak dipindahkan dari rumah kakeknya, jadi ia hanya menikmati liburan di sini. Hingga ayah dan ibunya datang menjemputnya.

“Jadi kamu akan pergi dong?” tanya Martin

“Iya.. kapan-kapan kamu datang ya ke daerah aku di Jawa?”

“Hm. Kalau ada waktu datang dong. Kan rumah ini tetap perlu dijaga.”

“Iya pasti kok.. lagian aku masih lama disini.. tenang aja!”

Martin pun semakin dekat dengan gadis itu. Setiap hari mereka selalu merawat burung itu bersama. Hubungan yang semakin dekat dari hari ke hari. Hingga Hendra memergoki Martin bersama gadis itu dan menyadari gadis itu cacat. Ia mulai berambisi membuat malu Martin di seluruh kelasnya.

Ketika Martin pergi ke sekolah dan semua memandangnya lucu. Ia tak mengerti apa yang mereka tertawakan hingga ketika ia tiba di kelasnya. Muncul tulisan.

“PACAR MARTIN ITU CACAT ALIAS BISU. KASIAN DEH”

Martin spontan marah. Dan menghapus tulisan itu, namun semua orang mulai tau. Dan ia pun menjadi malu karenanya. Hendra datang menghampirinya

” Ternyata levermu ama gadis cacat ya hahahaha”

Mendengar ejekan itu . Martin marah dan menghajar Hendra, mereka terlibat perkelahian dan dihukum oleh guru mereka.

Martin yang telah malu, menjadi bodoh sehingga ia mulai berpikir untuk memperbaiki nama baiknya dengan memacari seorang adik kelas yang ia tidak cintai. Mereka pun jadian.

Sementara itu Hendra mengunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Angel. Ia pun membongkar semua tujuan Martin kepada Angel.

“Jadi dia deketin kamu cuma buat bikin aku malu karena dia keliatan laku, punya pacar. Padahal dia cuma manfaatin kamu. Mana mau dia sama kamu. Cacat. Bisu gitu” kata Hendra

Angel berlari menangis mendengarkan kata kata itu. Ia mulai curiga ketika melihat Martin menghilang sejak beberapa hari lalu tanpa pernah menemuinya. Ia tiba di rumahnya penuh air mata. Hatinya terluka. Sedangkan Martin tidak pernah tau jika rahasia tujuannya kepada Angel telah dibongkar oleh Hendra. Ia memang tak pernah mengunjungi Angel untuk beberapa hari karena kekasih barunya selalu ingin ditemanin setiap saat.

***

Angel merawat burung kecil itu hingga kembali normal. Ia pun berpikir untuk mengembalikan burung itu ke rumah kecilnya. Ketika ia mencoba memanjat ke rumah pohon itu ia terjatuh. Martin tiba tiba muncul dan menolongnya. Namun Angel mendorong tubuhnya dengan wajah marah. Martin menjadi bingung.

“Kok kamu marah, kenapa?”

Angel tidak berkata apapun. Ia pergi begitu saja meninggalkan Martin Tanpa sadar ketika terjatuh. Liontin anting yang Angel kenakan terjatuh satu di lantai. Martin mengambilnya lalu mengejar gadis itu yang sedang berjalan dengan kaki kesakitan. Martin berusaha memanggil Angel. Namun ia tidak mengerti mengapa gadis itu marah padanya. Ia pun menghentikan langkah gadis tersebut. Angel mengeluarkan sebuah tulisan.

“Aku memang cacat. Tapi aku ga bodoh. Aku bukan mainan yang bisa kamu gunakan buat acara Valentine kamu sebagai wanita pajangan! Terlebih buat taruhan kamu sama temen kamu!!”

Martin sontak kaget ketika rahasia yang ia simpan rapat. Ia melihat Angel menangis dan hatinya merasa tak enak. Lalu membiarkan gadis itu pergi. Ketika gadis itu semakin menjauh ia menyadari kesalahanya. Lalu berteriak

“Angel Maaf, Maaf !”

Angel terhenti , namun hatinya terlanjur sakit. Ia pun meninggalkan pria itu seorang diri. Martin menatap liontin anting di tangannya. Ia merasa tidak pantas untuk bicara dengannya. Kemudian kembali ke rumah pohon kecil burung tersebut. Ia pun ingin menembus kesalahannya terhadap Angel. Rumah pohon itu tampak rusak karena dibangun seadanya. Ia pun ingin memberikan hadian kepada Angel dengan membuat rumah baru untuk burung-burung yang akan hidup di sana.

Martin pun menjadi sibuk setiap harinya. Dengan penuh perjuangan ia membangun rumah tersebut. Dan berhasil dengan sempurna tiga hari kemudian. Rumah burung di atas pohon itu menjadi indah dan rapi. Ia pun segera menuju rumah Angel. Angel sesungguhnya selalu memperhatikan apa yang dilakukan Martin setiap harinya. Ia menyadari laki laki itu tidak seburuk yang ia pikir. Namun ia sadar kepergiannya sesaat lagi akan tiba. Ia pun sadar dirinya yang cacat dan bisu hanya menjadi celahan Hendra bila bersama Martin.

Ia pun meminta pembantunya untuk bilang kepada Martin kalau ia telah kembali ke kampung halamannya. Martin tampak shock mendengarkan kepergian gadis itu begitu cepat. Ia termenung bersalah, kemudian memberikan liontin anting yang dijatuhkan Angel kepada pembantunya agar diberikan kelak bila bertemu kembali. Dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. Angel pun menatap kepergian Martin penuh duka. Martin pun kembali ke rumah dengan perasaaan sedih.

Beberapa hari kemudian Jepang datang menginvasi Indonesia. Daerah tempat tinggal Martin menjadi salah satu konflik. Ia pun harus segera mengungsi bersama orang tuanya. Sebelum ia pergi ia sempatkan untuk melihat rumah burung kecil di atas pohon. Tampak burung kecil itu menjadi dewasa dan hendak terbang. Dan ia menemukan sesuatu di rumah tersebut.

Sebuah liontin anting yang ia titipkan kepada sang pembantu dan sebuah surat kecil tulisan Angel di kertas.

“Terima kasih atas rumah kecil ini. Kelak mungkin kita tidak akan pernah sadar kita adalah sebuah takdir. Simpanlah satu liotin ini sebagai kenangan terakhir yang bisa kuberikan kepadamu. Jika kita berumur panjang kita akan bertemu, jika tidak biarkan kehidupan lain menanti kita. Satu di hatiku. Satu di hatimu untuk selamanya”

Martim menangis dengan berat hati ia menyimpan liontin tersebut. Dan ia pun mengungsi untuk selamat dari perperangan. Angel pun menghilang dengan selamanya. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu. Setelah perang usai. Martin pergi ke Belanda untuk kuliah dan kembali dengan menikahi seorang wanita yang akhirnya menjadi nenek Agnes. Ia tak pernah menyadari liontin itu tersimpan dan masih ada hingga ia membersihan isi gudangnya.

*****

Kembali ke masa kini.

Agnes tanpa terasa menitikkan air mata ketika mendengarkan kisah kakeknya. Tidak seperti biasa ia selalu mengantuk ataupun beralasan untuk tidak pernah niat untuk mendengar. Kali ini kisah tersebut telah meruntuhkan sanubarinya untuk mendengar kisah tragis cinta tersebut. Hanya satu pertanyaan yang bisa ia berikan kepada sang kakek.

“Kakek apa yang akan kakek lakukan bila bisa bertemu Angel lagi”

“Itu tidak mungkin.. dia mungkin telah meninggal usia kakek sudah 70an sekarang, ketika dulu ia lebih tua 3 tahun dari kakek. Mungkin telah meninggal. “

“Ya.. jawab dong kalau andai saja!”

“Ok. Kakek mau bilang satu hal sama dia. Kisah Valentine antara kakek dengan dia adalah kisah terakhir yang paling indah dalam hidup kakek. Karena itulah Valentine pertama kakek”

Angel memeluk kakeknya. ia begitu terharu terhadap kisah cinta sang kakek.

***

Beberapa tahun kemudian Agnes mendapatkan seorang laki laki yang ia cintai dan akhirnya menikah. Dalam sebuah undangan yang tak terduga, datang seorang wanita tua dengan sebuah tongkat di tangannya bersama sang cucu. Nenek itu mengenakan kalung yang tak asing bagi Agnes. Nenek itu memberikan ucapan selamat. Agnes hanya memandang nenek itu seperti asing namun tidak pada kalung ya ia gunakan.

Kakek yang duduk di kursi paling ujung. Mendapatkan giliran untuk bersalaman. Kakek melihat dengan jelas liontin yang nenek itu pake. Air matanya terhanyut begitu saja. Sang nenek bertanya kepada cucu itu melalui cucunya yang mengerti bahasa isyarat tangan dari sang nenek.

“Kakek, nenek saya ingin berkata sesuatu pada kakek “

“Apa nak?”

“Kakek sudah tua tak perlu malu menangis di hadapan anak anak muda hehehe” ledek nenek itu

“Siapa nama nenekmu?”

“ANGEL..”

Tamat

agnes davonar

BACA JUGA

MY LAST LOVE : http://ekstra.kompasiana.com/group/fiksi/2009/12/22/my-last-love/

MY BLAKCBERRY GIRLFRIEND :http://hiburan.kompasiana.com/2009/11/19/my-blackberry-girlfriends-kisah-heboh-curhat-laki-laki-gara-gara-beli-blackberry-second/

KISAH TRAGIS PUTRI ORANG TERKAYA DI INDONESIA :

http://hiburan.kompasiana.com/2009/11/14/oei-hui-lan-kisah-tragis-putri-orang-terkaya-di-indonesia/

ARTI SAHABAT SETELAH MEMBACA KISAH INI

http://ekstra.kompasiana.com/group/fiksi/2009/11/11/arti-sahabat-sesungguhnya-setelah-membaca-kisah-in/

PUSI TERAKHIR REMAJA INDONESIA PENDERITA KANKER GANAS

http://hiburan.kompasiana.com/2009/11/04/puisi-terakhir-gadis-remaja-indonesia-yang-telah-pergi-untuk-selamanya/

Bookmark and Share
The End

Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen

January 28th, 2010

“Kenapa anda tidak menembak Soekarno waktu kudeta dulu?” , Kapten Westerling ditanya. Apa jawabnya? Kapten yang pernah mengatakan  bahwa Soekarno adalah tokoh yang paling dibencinya, menjawab: “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Soekarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan”. Dengan kata lain Westerling  ingin menghina Soekarno, bahwa pelurunya lebih mahal daripada nyawa Soekarno.

Indonesia tentu saja geram dengan penghinaan itu. Beberapa kali ada usaha untuk mengekstradisi Westerling ke Indonesia. Sayangnya usaha itu tak pernah terwujud sampai meninggalnya Westerling tahun 1987 dalam usia 68 tahun di Purmerend Belanda. Beberapa jam sebelum meninggal akibat serangan jantung, Westerling dikabarkan marah-marah pada wartawan Belanda yang tidak pernah berhenti menguber noda masa lalunya.

Permintaan untuk mengekstradisi dan mengadili Westerling terutama bukan karena penghinaan tadi. Tapi juga karena kekejamannya di masa agresi militer Belanda plus percobaan kudetanya terhadap Presiden Soekarno. Kekejaman Westerling dituding memakai cara-cara Gestapo. Tudingan ini bukan hanya dari pihak Indonesia, tapi tudingan pada Westreling ini justru sangat gencar datang dari orang Belanda sendiri, terutana kaum peduli HAM.

Harian “De Waarheid” di Belanda menurunkan berita bulan Juli tahun 1947, isinya tentang kekejaman Westerling yang dinilai sama dengan kekejaman pasukan Jerman di PD II.  Kemudian harian “Vrij Nederland” Juli 1947, juga merinci bagaimana kekejaman Westerling. Misalnya menyuruh dua tawanan bertarung. Lalu yang kalah ditembak mati. Termasuk mengeksekusi orang-orang tak bersalah di depan umum. Maksudnya untuk menakut-nakuti penduduk lain agar mereka mau buka mulut tentang persembunyian gerilyawan.

“Semua orang kampung, juga perempuan dan anak-anak, dikumpulkan dan ditembaki satu per satu. Saya pura-pura mati dan menjatuhkan diri di antara timbunan mayat berlumuran darah   Saya tidak berani bergerak sebelum merasa yakin, Westerling dan pasukannya itu benar-benar telah pergi jauh”.  Begitulah kesaksian seorang penduduk di Makassar atas aksi kekejaman Westerling.

Ketika masih bekerja di Jakarta, saya pernah mewawancarai seorang pejabat militer yang bermukim di bilangan Matraman Jakarta. Wawancara itu antara lain menyinggung tentang pengalamannya bertemu Westerling. Pak Suryadi bercerita, dia sempat ditahan di sel oleh Westerling. Di sel itu selama hampir tiga hari  dia digantung dengan kepala di bawah dan kaki di atas. “Rasanya saya sudah hampir mati saja. Untung saja saya tidak sampai dibunuh”.

Raymond Paul Pierre Westerling, lahir di Istanbul 31 Agustus 1919, adalah tentara bayaran Belanda. Ayahnya Belanda, ibunya Turki. Tapi ada juga yang mengatakan ibunya orang Yahudi, ada yang mengatakan orang Yunani yang lahir di Turki. Simpang siur. Maklumlah, sejak usia 5 tahun Westerling mesti hidup sendiri di panti asuhan karena ditinggal kedua orangtuanya. Mungkinkah kekerasannya disebabkan sejak usia dini dirinya terpaksa tumbuh sendiri di jaman perang yang ganas,  tanpa belaian kasih sayang orangtua?

Kapten ini biasa juga dipanggil “Turk”, panggilan yang biasanya ditujukan buat orang-orang berdarah Turki di Belanda.

Dia bisa bergabung dengan kesatuan Belanda, setelah mendatangi konsulat Belanda di Istanbul dan menawarkan diri sebagai sukarelawan perang. Kebrutalannya dan nalurinya sebagai penjagal mungkin membuat perang menjadi tempat yang cocok untuknya. Dia sendiri pernah mengakui, dalam perang dia menemukan kesenangannya. Keahliannya dalam kemiliteran adalah sabotase dan peledakan. Dia digojlok dalam satuan komando dengan training  yang karena begitu kerasnya disebut “neraka dunia”, di Pantai Skotlandia yang dingin kosong melompong tanpa penghuni. Latihan keras untuk meraih baret hijau itu antara lain bertarung dan membunuh dengan tangan kosong, tanpa suara.

Berbekal segudang training berat kemiliteran, akhirnya Westerling sang tentara bayaran ditugaskan ke Indonesia  untuk menumpas pemberontakan. Tugas sebagai pimpinan pasukan komando baret merah berada di pundaknya.

Seorang eks anak buahnya menggambarkan Westerling sebagai, “Orang yang kejam, tidak menghargai hidup dan suka melanggar janji. Dia bisa membiarkan tahanan di sel berhari-hari tanpa diberi makanan. Kadang dijanjikannya bahwa tawanan akan dilepaskan kalau mereka mau menolong Westerling. Tapi setelah tawanan itu sudah terlalu lemah dan tidak bisa lagi berjalan, malah langsung ditembak mati”.

Bahkan bagi anak buahnya sendiri, kekejamannya kadang dinilai keterlaluan. Sampai kadang ada yang menolak melaksanakan perintahnya, karena tak sampai hati menembak tawanan. Akibatnya anak buah yang membangkang  tentu saja harus menerima hukuman indisipliner dari sang kapten ini.

Di Indonesia Westerling dikenal sebagai “algojo” yang melakukan pembantaian berkubang darah, terutama di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Dari kota Makassar sampai kabupaten Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Kejadian itu sekitar Desember 1946 – Februari 1947. Korban terbanyak adalah di Galung Lombok, kabupaten Barru. Untuk mengenang sejarah kelam itu, pemerintah kota  membangun tugu di kota Makassar, disebut monumen korban 40.000 jiwa. Apakah betul sebanyak 40.000 jiwa, hingga kini masih diperdebatkan kebenarannya jumlahnya. Namun ada satu hal yang jelas. Nyaris semua kesaksian, baik pihak Indonesia maupun pihak Belanda sendiri membenarkan bagaimana kejinya kekejaman Westerling. Dia adalah prajurit yang sangat mudah menembak mati seseorang, tanpa alasan jelas. Seperti menembak burung saja. Itu belum terhitung menyiksa tawanan secara tidak berperikemanusiaan.

Untuk menggambarkan kekejaman Westerling yang berdarah dingin itu, J. Dancey seorang perwira Inggris bercerita, “Suatu pagi saya mendatangi Westerling untuk minum dan ngobrol bersama. Tiba-tiba dengan tenang dia mengambil potongan kepala dari keranjang sampah di samping meja kerjanya. Katanya itu potongan kepala dari pimpinan pemberontak yang baru saja dipenggalnya”. Westerling seakan ingin mengajari perwira Inggris itu, “begini lho caranya kalau mau menumpas pemberontakan!”.

Situasi perang kadang membuat seorang prajurit mesti bertindak “saya yang mati atau kamu yang mati”. Sehingga mau tidak mau,  kadang mesti membunuh. Namun itu tidak berarti prajurit tidak pakai aturan dan diperbolehkan membunuh sesuka hati. Tetap ada aturannya. Jika tidak, maka bisa  kena tuduhan melakukan pelanggaran HAM.

Karena melakukan pembunuhan seenak perutnya sendiri, maka perbuatan Westerling tergolong pelanggaran HAM dan dituding melakukan kejahatan perang. Westerling memang menumpas pemberontakan dengan caranya sendiri. Dengan cara bengis dan kejam. Padahal ketika itu sesuai ketentuan Westerling harus berpegang pada Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional. Karena keluar dari pedoman komando, Westerling pun dipecat tahun 1948. Di Belanda pun, status Westerling masih sering diperdebatkan. Pahlawan atau penjahat?

Sebagian pihak di Belanda pernah mengelu-elukan Kapten Westerling sebagai pahlawan  yang berhasil menumpas pemberontakan. Tapi ada juga kaum kritis di Belanda yang mengatakan Westerling itu cuma seorang penjahat perang.

Westerling dikerumuni wartawan di aiport di Brussel setelah melarikan diri dari Indonesia

Jika saya ke Indonesia, kadang ditanya, “Kenapa sih kamu menikah dengan orang Belanda?. Mereka itu kan penjajah?!”. Bahkan saya pernah bertemu orang yang menolak menyopir mobil karena di antara rombongan ada orang Belandanya.

Jaman sudah berubah. Sejarah bergulir dengan cepat. Namun dendam sejarah masa lampau masih membuat sebagian orang Indonesia tetap menyimpan citra kelabu tentang Belanda.
Faktanya, justru rakyat Belanda sendiri yang mendesak pemerintah Belanda untuk minta maaf terhadap rakyat Indonesia atas kejahatan perang di masa lalu. Bahkan penyelidikan dan penelitian tentang kejahatan dan pelanggaran HAM agresi militer Belanda diungkap sendiri oleh para sejarawan Belanda dan pers Belanda sendiri.

Karena itu sekarang mulai sedikit terkuak misteri, mengapa di masa hidupnya Westerling bisa leluasa bergerak sana-sini. Ini janggal.  Apalagi gara-gara kebengisannya di Sulawesi Selatan, ketika itu  Westerling sudah dipecat dari kesatuannya. Tapi anehnya, sesudah itu Westerling malah berhasil mendirikan organisasi rahasia, mengumpulkan kekuatan, pendukung dan punya kekuatan senjata. Puncaknya di tahun 1950 malah melakukan kudeta terhadap Indonesia sebagai negara berdaulat. Padahal sehebat-hebatnya Westerling, seberapa hebat sih kekuatan seorang tentara sewaan?

Aneh. Sudah jelas-jelas melakukan kejahatan perang, dipecat, tidak punya fungsi strategis apa-apa di kemiliteran tapi kok bisa lepas dari jerat hukum? Ditambah masih kurang ajar berani  mengkudeta Soekarno pula. Padahal ketika itu banyak suara, baik dari pihak Indonesia maupun Belanda sendiri yang ingin Westerling diseret ke mahkamah militer.

Boro-boro diajukan ke pengadilan, tahu-tahu setelah pemecatannya, malah terdengar kabar Westerling berhasil mengumpulkan 500.000 pengikut dan mendirikan organisasi rahasia bernama “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI), dilengkapi kesatuan bersenjata yang dinamakan “Angkatan Perang Ratu Adil” (APRA).

Dengan organisasinya itu, tahun 1950 Kapten “Turk” alias Westerling bekerja sama dengan Darul Islam Jawa Barat mengadakan kudeta yang dikenal dengan peristiwa “kudeta 23 Januari”. Di balik kudeta ini kemudian terungkap juga keterlibatan Sultan Hamid II, eks perwira KNIL (beristrikan wanita  Belanda), putra sulung Sultan Pontianak. Motif kudeta di antaranya  ingin mendirikan negara sempalan yang bernama Negara Pasundan.  Pasukan Westerling  menembaki setiap tentara TNI yang ditemui. Sebanyak 79 pasukan Siliwangi dan enam penduduk sipil gugur.

Peristiwa penyerangan APRA, Bandung, 27 Februari 1950

Tapi kudeta itu berhasil digagalkan pasukan TNI. Kegagalan kudeta itu antara lain karena diwarnai desersi anak buah Westerling sendiri. Pemerintah dan militer Belanda sendiri mengaku tidak pernah  mendukung kudeta itu. Walaupun demikian, tak bisa disangkal adanya andil dari “oknum” Belanda - siapapun dan apapun namanya, terhadap suksesnya Westerling meloloskan diri ke Belanda.

Sejak peristiwa kudeta gagal itu, Westerling semakin menjadi buruan Indonesia. Namun berkat koneksinya dengan beberapa pejabat militer, akhirnya Westerling dengan menumpang pesawat Catalina berhasil lari ke Singapura. Di negara ini dia sempat ditahan oleh pasukan Inggris selama dua minggu. Namun selanjutnya “Kapten Turk” berhasil lari ke Belgia. Sesudah itu secara diam-diam masuk ke Belanda. Permintaan Indonesia untuk mengekstradisi Westerling tak pernah dikabulkan.

Pemerintah Indonesia tentu saja tahu bahwa tuntutan HAM tidak pernah mengenal batas kadaluarsa. Jika hingga kini tak pernah terdengar adanya tuntutan Indonesia terhadap Belanda terkait masalah ini, mungkinkah karena didasari pertimbangan politis tertentu?

Lolosnya Westerling dari jeratan hukum, menimbulkan pertanyaan yang beberapa lama tidak pernah terjawab. “Mengapa selama itu Westerling bisa lenggang kangkung di balik semua pelanggaran yang sudah dilakukannya? Adakah orang kuat di belakang Westerling? Adakah konspirasi di balik kudeta Westerling? Siapa orang kuat di balik kudeta Westerling? Dari mana Westerling bisa memperoleh senjata? Seberapa besar kekuatan tentara bayaran Westerling hingga bisa membentuk pasukan elit-nya sendiri untuk melakukan kudeta?”.

Latar belakang Westerling ternyata tidak sesederhana yang diduga. Westerling pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, pernah bekerja untuk dinas rahasia Belanda di London dan akhirnya benang merahnya…..tahun 1944 pernah bekerja sebagai pengawal pribadi Pangeran Bernhard.

Akhirnya teka-teki di balik kejanggalan semua ini terkuak, melalui penelusuran dan penelitian sejarawan Belanda bernama Harry Veenendaal dan wartawan Belanda, Jort Kelder.
Setelah mengadakan penelitian selama 8 tahun, keduanya berhasil mengumpulkan bukti dan dokumen tentang keterlibatan Pangeran Bernhard di balik kudeta Westerling. Rupanya suami Ratu Juliana itu ingin seperti Lord Mountbatten yang pernah menjadi raja di India. Jika kudeta Westerling itu berhasil, menurut bukti-bukti yang ada, disebutkan Pangeran Bernhard ingin menjadi raja di Indonesia. Apakah sang Pangeran ingin mempunyai fungsi penting lain daripada “cuma” sebagai suami ratu?

Pangeran Bernhard

Temuan di atas berdasarkan kesaksian dari laporan Marsose dan buku harian sekretaris pribadi istana, Gerrie van Maasdijk. Sekretaris ini dulu dipecat setelah konfliknya dengan Pangeran Bernhard. Penemuan itu dirangkum dalam buku berjudul “ZKH”, Zijne Koninkelijke Hoogheid (Paduka Yang Mulia Pangeran). Menurut penyelidikan ternyata Westerling pernah mengadakan kontak rahasia dengan staf Pangeran Bernhard sehubungan dengan kudeta itu.

Penelusuran mengarah ke bukti-bukti adanya bantuan rahasia penyaluran senjata dari pihak Pangeran Bernhard terhadap pasukan Westerling. Bahkan ada temuan yang menunjukkan bahwa sang Pangeran sudah mengantisipasi jika kudeta itu berhasil. Yaitu permintaan bantuan kepada Jendral Douglas Mac Arthur sebagai panglima di pangkalan Pasifik untuk mengirim pasukannya, jika kudeta Westerling sukses dan menimbulkan perang saudara.

Kalau kita harus menentukan pemenang di antara Westerling, Soekarno, Pangeran Bernhard: siapakah setelah perang yang pantas disebut sebagai pemenang? Westerling yang walaupun disebut penjahat perang, tapi sampai mati tidak pernah diseret ke mahkamah militer? Presiden Soekarno yang gagal dikudeta Westerling (tapi berhasil dikudeta “geger 1965”)? Pangeran Bernhard yang terkesan “immun” karena posisinya sebagai suami sang Ratu?

Entahlah. Orang bilang, di dalam perang yang menang jadi abu, kalah jadi arang. Semua ketiga  tokoh di atas sudah “Rest in Peace”. Bagi orang-orang di “alam RIP”, soal kalah dan menang tidak lagi penting. Toh kehidupan sudah memberi setiap orang jatah kemenangan dan kekalahannya masing-masing. Kemenangan bagi seseorang, mungkin disebut kekalahan di mata orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Yang jelas, cerita sejarah perang mungkin saja bisa jadi cerita menarik. Tapi sayang sekali nyaris tak ada cerita tentang damai di dalamnya.

Walentina Waluyanti

Bookmark and Share
The End

Diva Politik Paling Rakus Sedunia?

January 26th, 2010

Gadis itu miskin, pemalu tapi ayu yang kelak mampu “memporak-porandakan” panggung politik negaranya, bahkan dunia. Ketika itu kehadirannya belum diperhitungkan. Ibunya meninggal ketika usianya masih 8 tahun. Dan ayahnya terlalu miskin untuk bisa membiayai hidupnya. Begitu miskinnya sampai rumah mereka pun tanpa kamar tidur. Tempat tidurnya hanya sebilah papan yang diganjal kaleng susu bekas sebagai penopang.

Gadis cantik itu datang ke ibu kota dengan kopor kecil dan uang cuma cukup untuk makan 3 hari. Dia menumpang di rumah paman dan bibinya yang kaya raya. Di rumah itu sering diadakan pesta dengan dansa dansi untuk kalangan atas.

Gadis itu hanya bisa menatap tingkah polah orang-orang kaya itu dari balik jendela dapur. Walaupun di rumah itu dia tinggal bersama anak-anak perempuan paman dan bibinya, tapi entah kenapa Imelda tak pernah ikut bersama mereka di pesta itu. Yang jelas, Imelda yang miskin memang tak punya pakaian pantas untuk ikut bergabung dengan orang-orang kaya di pesta itu.

Suatu ketika seseorang menemukan bahwa gadis itu pandai menyanyi. Lalu ada usul untuk mencarikan pinjaman pakaian buatnya. Maksudnya agar dia juga bisa ikut di pesta itu, dan bisa menghibur tamu dengan suara merdunya. Sejak itu kehadirannya mulai dilirik. Dan orang-orang mulai menyadari betapa menariknya gadis ini.

Akhirnya kecantikan gadis itu sampai ke telinga penyelenggara miss beauty. Gadis itu dianggap layak terpilih mewakili ibu kota untuk pemilihan ratu kecantikan antar propinsi. Hasil kontes kecantikan itu, Imelda Romualdez –  nama gadis itu, terpilih sebagai juara kedua.

Sejak menyandang gelar ratu kecantikan, si cantik pemalu itu tak lagi pemalu. Tampaknya dia mulai menyadari, daya tariknya bukannya  “nothing”. Dilayangkannya surat protes ke walikota Manila. Dengan lantang diprotesnya bahwa gelar juara satu ratu kecantikan seharusnya ditujukan buat dirinya. Dan juri telah salah memilih. Akibat protesnya itu, walikota  menjuluki Imelda bukan “Miss of Manila” tapi “Muse of Manila”.

Protes itu sempat ditayangkan koran-koran di masa itu. Wajahnya mulai dikenal publik. Ketika Imelda diajak sepupunya ke kantor parlemen, dan makan di kantin, wajah Imelda menarik perhatian seorang senator. Senator itu adalah Ferdinand Marcos, yang kelak menjadi presiden Filipina, diktator yang berkuasa selama 20 tahun. Setelah 11 hari pacaran, Marcos bertekuk lutut dan akhirnya memutuskan menikahi Imelda. Segalanya pun berubah bagi Imelda……..

Kisah hidup Imelda bagai kisah Cinderella di abad modern. Tapi ada bedanya. Cinderella akhirnya hidup berbahagia untuk selama-lamanya. Sedangkan Imelda nampaknya hidup ber-”ambisi” untuk selama-lamanya. Di masa kekuasaan Marcos, siapapun tahu bagaimana dominasi Imelda di panggung politik. Dominasi first lady ini bahkan dinilai melebihi kekuasaan suaminya sebagai presiden. Karena itu cap diva politik pun melekat padanya.

Pernah menjabat sebagai Gubernur Metro Manila, menteri dan beberapa kali ikut pemilihan presiden, walaupun gagal. Bahkan sampai tahun ini usianya menginjak 81 tahun, dia masih berambisi mengikuti pemilihan anggota kongres untuk tahun 2010. Cuma Imelda yang tahu apakah dia berbahagia dengan semua itu. Yang jelas, ambisinya dinilai kelebihan takaran sampai mengesankan kerakusan yang luar biasa.

Tak heran, tahun 2009 lalu nama Imelda masuk dalam daftar “the greediest people of all time” versi Newsweek magazine. Tercatat sebagai salah satu dari 11 orang yang paling rakus di dunia. Siapa yang suka digelari seperti itu? Wanita cantik, tapi kok paling rakus di dunia sih? Sampai Imelda tersedu-sedan di televisi membela diri akibat gelar tak enak yang ditimpakan padanya itu.

Ketika cincin perkawinan dilingkarkan di jari Imelda, insting politik Marcos bagai mengendus potensi pesona Imelda. Setidaknya begitu tuduhan beberapa kalangan. Ketika itu dirinya masih kandidat presiden. Kalkulasi poltik Marcos mulai berjalan. Pesona Imelda plus gelar ratu kecantikan tentu mampu mendongkrak perolehan suara dalam pemilu. Wajah cantik Imelda sekaligus investasi politik Marcos. Dan memang terbukti begitu.

Sebelum era Marcos,  para presiden maupun kandidat presiden Filipina hampir tak pernah melibatkan istri dalam kegiatan politik. Istri-istri mereka cuma sekedar housewife dan cuma “konco wingking” saja. Tapi Marcos tidak mau menyia-nyiakan kejelitaan istrinya. Gelar ratu kecantikan dan wajah cantik Imelda adalah “vote getter” handal buat Marcos. Istrinya diikutsertakan aktif dalam setiap kampanye. Dan Imelda menangkap bola itu dengan agresif.

Symbiosis mutualisme antara keduanya memang tokcer. Marcos butuh vote getter, dan Imelda haus perhatian. Imelda yang tadinya miskin sengsara yang dulunya tidak pernah diperhitungkan lingkungannya, kini mulai menikmati perhatian massa yang berpusat kepadanya. Hasilnya, Marcos memperoleh kemenangan telak. Ia berhasil mengalahkan Presiden Macapagal di Pemilu tahun 1965.

Setelah itu seluruh dunia tahu kisah kerakusan Imelda. Juga seluruh dunia tahu bagaimana lebih dari 900 kasus penggelapan dan korupsi menghadang Imelda, yang hingga kini belum semuanya tuntas.

Dirinya pernah disebut sebagai kolektor permata berlian terbanyak di dunia. Kolektor gedung mewah, tidak saja di Filipina, tapi di negara lain termasuk Amerika. Belum terhitung koleksi lukisan pelukis termasyur dunia dan benda-benda seni, saham, deposito dan lainnya yang ditaksir bernilai milyaran  dollar AS. Bahkan dia pernah dikabarkan memiliki berlian-berlian bangsawan Eropa yang diperolehnya dari rumah lelang. Di antaranya gelang yang di masa lalu adalah hadiah dari Napoleon Bonaparte untuk Tsarina Josephine. Imelda bisa belanja gila-gilaan. Di masa kekuasaannya, kalau Imelda mau belanja permata, jalur masuk ke kompleks perbelanjaan ditutup agar tidak ada orang lain yang bisa masuk berbelanja. Imelda tinggal main tunjuk saja. “Ini bagus, itu bagus”, instruksinya pada pramuniaga. Dan tahu-tahu rak permata satu toko nyaris kosong semua. Contoh gila-gilaan lain, hanya beli permen di New York dan Roma, dalam sehari saja bisa habis 5 million dollar AS.

Siapa yang tidak tahu kisah sepatu Imelda? Dia disebut kolektor sepatu lebih dari 3000 pasang yang tidak sedikit di antaranya berlapis emas. Meskipun jumlah  itu disangkalnya. “Ah, itu bohong, nggak bener itu. Sepatu saya cuma 1060 pasang saja kok”, begitu Imelda ngeles. Wah, Imelda kalau sudah ngeles memang bikin orang jadi gemes. Apalah beda 3000 dan 1060 buat rakyat Filipina yang banyak hidup di bawah garis kemiskinan itu. Toh kedua angka itu masih ada hitungan ribu-nya. Kini Imelda dikabarkan mulai bangkrut. Hampir semua kekayaannya terus diburu dan dipreteli oleh pemerintah. Meskipun diduga masih banyak yang kekayaan yang berhasil disembunyikannya.

Di masa kejayaannya, Imelda dikenal publik tak berhenti menimbun segala benda mewah yang jumlahnya tak bisa dimengerti logika. Sehingga perilakunya itu menyumbang sebuah kata baru untuk kamus modern yaitu kata Imeldific, berarti “ostentatious extravagance”.

Kata “imeldific” dalam kamus  itu memang diilhami oleh perilaku Imelda, untuk menerangkan watak yang suka pamer dan boros.

Akan menjadi daftar yang terlalu panjang jika semua timbunan kekayaan Imelda dan Marcos disebutkan di sini. Tetapi jika koleksi sepatunya saja yang saking banyaknya itu, tak akan pernah sempat  dipakainya semua sampai akhir hayatnya, maka pertanyaannya, “apa sebenarnya obsesi di balik menimbun kemewahan?”.

Obsesi Imelda mungkin bukan cuma wajah Imelda saja. Tapi juga wajah kita. Banyak di antara kita yang memperoleh kebanggaan dengan cara-cara obsesif seperti Imelda. Ya, tentu saja ada banyak alasan untuk membenarkan perbuatan itu. Kita biasanya mencari pembenaran untuk membenarkan perilaku ini. Contohnya melakukan kegiatan sosial membantu si miskin. Tidak salah kan?

Sebagaimana pembelaan Imelda terhadap tuduhan bahwa dirinya adalah orang yang paling rakus di dunia. “Saya memang rakus, tapi “rakus” dalam memberi. Apa yang saya miliki, adalah apa yang saya berikan pada orang lain”. Kedengaran mulia kan? Lalu dipaparkannya sederet bantuan amal yang sudah dilakukannya untuk negara. Pro dan kontra selalu ada. Lawan politiknya mengeksplorasi semua yang negatif tentang dirinya. Namun tak sedikit juga rakyat Filipina yang memujanya sebagai figur yang memberi citra cantik bagi wajah Filipina di dunia internasional.

Terlepas dari pro dan kontra, perilaku Imelda itu memberi cermin tersendiri. Yaitu timbunan barang-barang mahal, lux, mewah tidak bisa mengubah begitu saja orang miskin menjadi kaya.

Imelda mungkin hidup bergelimang kemewahan sampai akhir hayatnya. Tapi dengan “simbol kebanggaan” melalui timbunan gigantis benda-benda mewah itu, menunjukkan bahwa kemiskinan sesungguhnya berada di dalam “jiwa” Imelda.

Kemiskinan itu tak pernah lenyap.

Imelda dan Dewi Soekarno di pesta HUT ke-80 Imelda, Juli 2009

Trauma kemiskinan masa lalu itu selalu melekat di jiwa. Akibatnya dirasa perlu memiliki dan menimbun segala kemewahan untuk meyakinkan dunia bahwa dirinya tidak lagi semiskin dulu.

Timbunan barang-barang semewah dan semahal apapun, bukan jaminan bisa mengubah “jiwa yang miskin” menjadi kaya seketika.

Bahkan kemewahan yang paling mahal pun tak mampu mengusir kemiskinan yang sudah terlanjur melekat di dalam jiwa.

Walentina Waluyanti

Bookmark and Share
The End