My last Love - cerpen 99

December 21st, 2009

” Sebuah kisah cinta antara Angel seorang gadis lumpuh dan Martin seorang pendira AIDS, Bagaimana mereka menunjukkan pada dunia, Tidak ada yang berbeda dengan apa yang orang lihat, mereka hanyalah manusia yang berusaha untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat”

Tentang Angel.

Seorang gadis berusia 23 tahun. Bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan seluler. Ia memiliki seorang kekasih bernama Hendra. Angel begitu bergembira saat pulang dan memeluk ibunya.

“ Bu, Hendra akan melamarku malam ini dan kami akan bertemu di taman kota, tempat dimana pertama kali bertemu..” kata Angel pada ibunya.

“ Bagaimana kamu yakin nak?”

“ Tentu saja aku yakin, sebab kami sudah merencanakan itu, dan Hendra bilang malam ini iya akan melamarku..”

“ Kalau begitu lekaslah kamu pergi dan berganti pakaian terbaikmu..”

Angel bergembira malam yang ia tunggu selama mereka berpacaran lebih dari 3 tahun kini menjadi akhir dari kisah cinta mereka.

Tentang Martin.

Martin berumur 25 tahun. Pria playboy dan terlahir dari keluarga jutawan.Jam menunjukan pukul 7 malam. Tiba-tiba pintu kamarnya terdengar ketukan. Martin sedang tertidur, ia bangun dan membuka pintu dengan wajah kesel. Seorang aju dan ayahnya terlihat didepan pintu.

“ Kenapa sih? Ganggu orang tidur aja..!!!”

“ Maaf tuan, Ayah anda sudah menunggu di ruang tamu untuk makan malam keluarga.”

“ Bilang padanya, aku ada dibawah sebentar lagi..” Kata Martin tidak melawan.

Ajudan itu pergi, Martin merapikan mukanya yang kusut karena semalam ia baru saja pergi dugem dan pulang pukul 7pagi, setelah rapi ia pun langsung ke bawah menemui ayahnya di meja makan. Bersama ibu dan adiknya Sheila.Ia duduk begitu saja.

“ Begini cara kamu membesarkan anakmu? Pagi jadi malam, malam jadi pagi. “ kata ayah ketus.

“ Sudahlah pak, Martin ayo makan.”

Dengan setengah hati martin makan. Tapi baru mencicipi sedikit sarapan. Ia sudah menghilang dengan wajah kesel ayahnya. Martin pergi dengan mobil BMWnya menelusuri jalan yang sudah penuh dengan lampu warna warni. Kota ini akan merayakan natal dalam waktu beberapa hari lagi.Ia hanya berujar dalam hati.

“ Ayahku kaya, untuk apa berkerja. Tujuh turunan pun tidak akan pernah habis.”

Seorang gadis menelepon padanya. Tampaknya gadis itu adalah incarannya untuk malam ini, Mereka tampak asyik sibuk berbicara bersamaan, DIitengah jalan.

Kembali ke Angel.

Ibunya sudah berdiri di depan pintu. Angel menyalakan motor vespanya. Lengkap dengan pakaian terbaiknya.

“ Aku pergi dulu ya..”

“ Kenapa tidak kamu minta di jemput saja.” Tanya ibunya.

“ Tidak apa bu, Hendra langsung pulang kerja. Kan nanti kena macet. Lagi pula aku ingin pergi masing-masing saja. Jadi bertemu disana.”

“ Ya, sudah nak. Hati hati ya.”

Angel pun melaju motornya sambil membayangkan apa yang akan terjadi dalam hari terindahnya.

Kembali ke Martin.

Martin tampak tertawa, gadis itu membiuskan kata-kata indah di telinganya. Ia selalu ingat jika ia bisa memberikan apapun yang diinginkan oleh gadis yang menyukainya, ia rela memberikan uang , permata ataupun emas yang diingkan. Saat ia berjalan, ia tidak menyadari lampu merah diatasnya. sebuah vespa yang melaju di lampu hijau. Martin terkejut, mobilnya melaju. Menabrak vespa itu hingga terpental. 10 meter jauhnya. Yang ia ingat, seorang gadis terkujur kaku dijalan. Hatinya risau, apakah ia harus melihat korban itu. Atau melarikan diri, tapi ia tau. Bila ia mendekat, maka ia akan membuat masalah dengan dirinya sendiri diantara kerumunan orang yang mulai mendekati korban.

Ia pun memutuskan satu kenyataan— lari dari kejadian itu.

Tentang Hendra.

Ia menunggu tanpa adanya kejelasan ditaman. Hatinya cemas, ia mencoba menelepon Angel berulang-ulang tapi sama sekali tidak diangkat. Satu jam berlalu, hatinya mulai cemas. Ia berpikir, Angel menolak dirinya. Hingga ia menelepon terakhir kali dan mendapatkan suara asing, suara seorang pria yang mengatakan kalau gadis yang memiliki hendphone itu. Sedang dirawat dalam ruangan unit darurat. Ia langsung menuju rumah sakit, menyimpan cincin tunangan untuk Angel. Saat ia tiba, ibu Angel tampak berdiri dengan tangisan khawatir.

Kembali ke Martin.

Ia mulai sadar, banyak saksi yang melihatnya dengan nomor mobilnya. Ia ceritakan masalah ini kepada ayahnya. Ayah meminta ia bertanggung jawab, tapi ibunya menolak. Ia sadar putranya bisa berada di penjara bila ia menyerahkan diri. Uang tidak berarti bagi putranya untuk lepas dari Penjara. Satu keputusan saat itu juga. Martin harus pergi keluar negeri. Melarikan diri dan membuat alibi dengan orang lain yang berada di mobil, dengan uang ayahnya bisa membayar orang lain untuk berpura-pura mengaku melakukan perbuatan yang tidak ia lakukan.

Natal terlewatkan dengan masalah diantara ketiganya. Hendra bersedih dengan keadaan kekasihnya. Angel tidak pernah tau keadaanya, Martin melarikan diri dengan rasa gundah dan bersalah.

2 bulan berlalu.

Angel masih berada di rumah sakit. Ia mulai sadar, tapi kakinya telah dinyatakan hilang. Ia harus mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Hendra menemani kekasihnya. Memberikan dukungan batin dan kekuatan yang tidak bisa Angel bayangkan untuk hidup. Angel pun berusaha menerima kenyataan kini ia cacat.

Martin berada di Australia menghabiskan waktunya dengan minum dan minum untuk melepas kegelisahan hatinya.

6 bulan berlalu.

Angel berdiri untuk pertama kalinya dari kursi roda. Hendra menopang kakinya untuk berjalan. Walaupun merasa berat di hatinya. Ia sadar ia tidak akan pernah menjadi normal.

Martin semakin gelisah, ia ingin pulang. Ibunya bilang padanya tunggulah hingga 6 bulan ke depan. Hanya satu yang ingin ia tanyakan

“ Ibu bagaimana keadaan korban yang aku tabrak?”

“ Dia tidak mati, ia masih hidup.”

“ Syukurlah, tapi aku tetap ingin tau.”

“ Kamu akan tau kelak bila kamu pulang, lebih baik kamu tetap disana hingga kasus ini ditutup.”

1 tahun berlalu.

Angel mulai bisa berjalan dengan menggerakan kursi roda lewat tangannya. Hendra mengajaknya untuk bertemu orang tuanya. Apa yang ia dapatkan saat ia sedang duduk di sofa ruang tamu. Tanpa sengaja ia mendengar apa yang ibu Hendra katakan.

“ Ibu tidak ingin punya menantu lumpuh dan cacat seperti itu.”

“ Ibu kenapa bilang begitu, bagaimanapun dia adalah Angel yang sama, sama seperti saat aku membawanya pertama kali.”

“ Berbeda. Ia gadis cacat.. bukan gadis cantik yang dulu kamu bawah.”

Keduanya bicara, dan Angel mendengar. Ketika mereka sadar. Angel telah mengatakan satu hal yang begitu berat untuknya.

“ Maafkan aku, mulai saat ini aku akan melepaskan Hendra untuk selamanya.”

Hendra berusaha untuk tetap bertahan, tapi akhirnya ia pun menerima keputusan Angel.

Martin telah kembali setelah ia mendapatkan kepastian kalau kasusnya telah kelar dengan orag lain yang bersedia mengantikan dirinya di penjara.

***

Angel mencoba untuk bekerja normal. Ia tidak akan ditolak di kantor lamanya, tapi dengan kaki yang pincang dan terkadang harus mengunakan kursi roda. Ia merasa seperti seorang yang tak berguna, hanya bisa merepotkan siapapun. Ketika ingin naik escalator ataupun menaikin tangga semuanya terasa berat. Setiap malam ia hanya bisa menangis, melihat keadaanya, ibunya menyadari keadaan putrinya, hatinya pun perih tapi hanya bisa berharap tuhan memberikan kekuatan untuk anak semata wayangnya setelah ayah Angel meningal.

Martin berhasil mendapatkan apa yang ia ingin tau, tentang korban yang selalu membayangin dirinya. Dan sumber informasinya mengatakan tentang gadis itu. Ia mendapatkan kantor Angel. Ia segera menuju kantor itu yang ternyata merupakan bagian dari perusahaan ayahnya. Saat itu ia melihat Angel tampak berusaha menaiki tangga. Hatinya tergerak untuk mendekat. Membantu mendorong kursi rodanya.

“ Terima kasih..” Kata Angel padanya.

Martin terdiam, hatinya begitu pilu melihat Angel begitu cantik tapi jadi cacat karenanya.

“ Tidak masalah.”

“ Kamu kerja dikantor ini lantai berapa?”

“ Lantai 3.”

“ Kamu?” Tanya Angel balik.

Martin bingung menjawab pertanyaan Angel, ia tidak pernah berkerja hingga akhirnya ia mengarang sebuah kisah.

“ Aku baru kerja disini, di lantai dua,”

“ Oh ya..:”

“ Andai saja aku di lantai satu, pasti aku ga perlu repotin orang hehehe. Jadi ga enak hati..” kata Angel.

Meraka tiba di eskalator. Sekali lagi Angel mencucapkan terima kasih pada pria itu.Martin pulang saayt itu pula dengan wajah bersedih. Ia ingin menangis melihat dosa yang ia lakukan pada Angel. Ia pulang kerumah ayahnya dan meminta perkerjaan di kantor itu. Ayahnya begitu heran dengan sikap putranya tapi menerima keputusan Martin. Ia langsung menjadi direktu dalam perusahaan itu. Dalam satu hari ia memutusan untuk memindahkan kantor dimana Angel bekerja dari lantai 3 ke 1. Setiap harinya ia selalu memandangin Angel saat ia bisa, ia tak pernah mengalami satu keadaan yang begtu sulit dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk mendekati Angel, mencoba untuk mengatakan satu kejujuran yang tak bisa ia ucapkan saat ini. Tentang hal yang membuat Angel menjadi seperti saat ini.

Dari hari ke hari, mereka semakin dekat. Martin membuat banyak kemudahan di kantor untuk Angel agar bisa mengunakan kursi rodanya secara bebas. Ia makan bersama Angel di kantin yang tidak pernah ia jamah sebelumnya. Mengenang sosok Angel yang berhati mulia, sosok yang rendah hati dan menerima kenyataan hidupnya sebagai gadis cacat.Suatu hari karena bosan, Martin mengajak Angel untuk makan di luar.

“ Makan denganku di luar? Tidak salah kamu kan direktur disini?”

“ Emangnya direktur tidak boleh makan bersama kamu.”

“ Bukan begitu, aku hanya takut merepotkan direktur bila jalan bersamaku. Kota ini tidak ramah dengan kursi roda, aku tidak ingin merepotkan direktur bila jalan bersamaku hingga harus mendorong kursi ini.”

“ Tenang saja, ayo katakan apa yang ingin kamu makan, ini perintah dari Direktur jangan pernah menolak!!”

“ Baiklah. Aku ingin makan Sushi Tei, sungguh aku sudah lama tidak pernah makan disana.”

“ Kalau begitu ayo kita makan.”

Mendengar Angel ingin makan sushi tei, Martin langsung meminta ajudan ayahnya untuk membooking semua kursi yang ada di restorant itu hanya untuk mereka. Ketika Angel tiba di sushi tei, ia terkejut melihat restorant itu hanya ada mereka berdua. Ia hanya mendengar kata terakhir Martin.

“ Makanlah semua yang kamu inginkan..”

Mereka pun makan dengan lahap. Martin begitu menikmati keadaanya bersama Angel, hingga mereka menyadari kalau natal akan datang dalam beberapa minggu lagi.

“ Kalau natal nanti, apa yang kamu inginkan Angel.”

“ Aku kalau natal selalu meminta banyak hal, tapi sayangnya tidak pernah terjadi tuh. “

“ Kalau begitu katakan lah, aku ingin tau..”

“ Sungguh kamu ingin tau?”

“ Tentu saja aku ingin tau.. ayolah sebutkan.”

“ Aku ingin bisa berjalan lagi..”

Hendra tertegun, hatinya miris dan wajahnya menunduk.Tadinya ia berpikir ingin memberikah hadiah kepada Angel, apapun yang Angel inginkan. Kini mendengar permintaan sulit itu, ia bersedih.

“ Adakah hal lain yang bisa kamu katakan selain itu,?”

“ Tidak ada, aku tidak ingin meminta soalnya. Kamu tahu tahun lalu ketika aku sudah meminta eh tiba-tiba malah ga pernah terjadi..”

“ Kalau boleh tau, kamu tahun lalu minta apa?”

Angel tertunduk, ia sadar natal tahun lalu begitu kelabu, ia meminta Hendra meminangnya dan semua benar-benar gagal.

“ Aku tidak bisa katakan, itu sudah menjadi masa lalu, kalau kamu? Katakan dong apa yang kamu mau?”

Martin mendekat kepada Angel, matanya tampak serius.

“ Aku tidak ingin apa-apa selain hanya bisa melihatmu tersenyum. Itu cukup buatku.”

Angel pun tertawa. Mereka melewatkan makan siang itu begitu gembiranya. Setelah makan siang, Angel turun ke loby. Saat itu Martin hendak menggendong tubuh Angel mobil. Tanpa sengaja Angel melihat Hendra sedang bersama wanita lain melewati mereka. Angel terdiam melihat mantan kekasihnya, Begitu pun Hendra. Hanya Martin dan kekasih Hendra yang tak mengerti apa yang membuat keduanya saling bertatapan.

Hendra pun berjalan dan masuk ke mobil. Angel melihat Hendra pergi darinya. Ketika ia di mobil, ia menangis. Martin begitu bingung. Dan bertanya apa yang terjadi. Angel pun mengatakan satu hal tentang natal tahun lalu dan harapannya.

“ Aku ingin menikah, tapi kekasihku tidak bisa karena aku sudah menjadi cacat..”

Martin hanya terdiam, hatinya semakin tak berdaya.

****

Natal telah tiba, Martin mulai mengerti satu alasannya untuk menjadi seorang pria pada utuhnya. Ia memberikan hadiah kepada Angel, sebuah hadiah yang mungkin terlalu berharga untuk Angel. Sebuah kalung berlian di leher Angel. Martin menyadari satu hal, ia mulai mencintai Angel. Ada yang harus ia katakan di acara makan malam natal bersama mereka. Di atas meja makan dengan lilin merah menyala, Martin menyatakan cinta kepada Angel.

“ Apakah kamu yakin ingin menjadi kekasih dari seorang gadis cacat sepertiku?

“ Aku berjanji dalam hatiku dan atas nama Tuhan kalau, aku bersungguh-sungguh ingin menjadi bagian dalam hidupmu Angel, apapun yang terjadi dengan keadaanmu, kamu adalah gadis yang kuinginkan dalam hidupku, sekarang dan selamanya.”

Kalimat itu membuat Angel begitu bahagia, walaupun ia ragu pada awalnya. Pada akhirnya Martin benar-benar membuktikan satu hal kepada Angel. Ia benar-benar mencintai gadis itu.Mereka pun berpacaran secara resmi. Keluarga Martin yang tidak pernah melihat Martin demikian berubahnya dalam hidup menyambut kegembiraan putranya begitu bahagia.Suatu ketika dimalam hari, Angel merasakan kuasa Tuhan, tiba-tiba jari kakinya mampu bergerak. Ia mulai menyadari satu hal, kalau ia mulai bisa merasakan kakinya kembali setela lama lumpuh tanpa bergerak.

Martin tidak pernah mengerti. Mengapa tubuhnya semakin lama semakin lemas. Hingga akhirnya ia jatuh sakit. Ia terdampar di rumah sakit. Angel datang dan membuat keluarga martin begitu terkejut.

“ Siapa dia ?” Tanya ibu Martin pada Martin yang terbaring ketika Angel bersamanya.

“ Ini kekasihku bu..”

Keluarga Martin terdiam. Ia tidak pernah meyangka kalau anaknya punya pacar yang cacat. Semua bisa menebak kalau tentu saja keluarga martin tidak pernah bisa menerima hubungan mereka. Tapi Martin tidak peduli. Saat itu, setelah kelua dari rumah sakit. Ia benar-benar mendapatka hadiah terburuk dalam hidupnya. Martin positif HIV. Sebuah kenyataan yang begitu pahit dalam hidupnya, ntah gadis mana yang ia tidurin dan menularkan penyakit itu padanya.

Ia paham hidupnya seperti kiamat. Tapi dalam kesempatan itu, ia terus berjuang untuk hidup. Angel mengatakan pada Martin kalau kakinya mulai bisa bergerak. Martin melihat itu sebagai keajaiban, ia pun pergi memeriksa keadaan kaki Angel dan dokter mengatakan kemungkian sembuh normal adalah 20 persen. Berita yang indah untuk Angel, tapi sayangnya dokter mengatan harus segera dilakukan operasi untuk membuat kakinya menjadi normal karena ada beberapa bagian urat pada kaki angel yang harus di ganti.

Martin memutuskan untuk membawa Angel ke rumah sakit terbaik di dunia. Angel menolak pada awalnya tapi inilah yang terjadi di malam sebelum itu semua terjadi.

“ Angel, aku selalu ingat keinginan kamu di hari natal. Kamu ingin berjalan. Tuhan telah mendengarkan impianmu itu, sekaranglah jalanmu. Kamu harus ikut aku pergi. Lakukan ini untuk kebahagiaanmu, jangan pikirkan biayanya karena aku bisa membantu.”

“ Tapi kamu terlalu baik untukku, aku tidak ingin berhutang budi.”

“ Kamu tau, aku punya keinginan permintaan natal juga. Kamu ingin tau?” jelas Martin.

“ OK katakan.”

“ Aku ingin kelak meihat kamu berjalan dan aku bisa bahagia bersamamu setelah itu dan..?”

“ Dan apa?”

“ Akan kukatakan kalau kamu sudah mau ikut aku ke untuk menyembuhkan kakimu,”

“ Baiklah..”

Mereka pun berangkat. 3 bulan sebelum natal. Operasi berjala dengan baik, tapi keadaan martin yang terlalu lelah membuatnya semakin buruk.Tapi lelahnya itu dibayar dengan semangat angel yang ingin sembuh dan berjala di saat natal. Semua terjadi, semua yang dilakukan dokter berhasil. Angel pun sembuh, ia mulai bisa berjalan dengan perlahan. Martin yang setia menjaganya selalu ada disampingnya.;

Hingga natal pun tiba. Angel berdua dengan martin. Di sebuah tempat yang indah., wajah martn begitu pucat. Martin pun meneruskan apa yang hendak ia katakan kepada Angel sesaat sebelum Angel di operasi.

“ aku sudah maafkan kamu sejak kita bertemu..?” kata Angel yang membuat Martin bingung.

“ Kamu maafkan untuk apa?”

“ Kamu tidak perlu katakana apapun, aku sudah memaafkan dan mencintai kamu dengan setulus hatiku.”

“ Angel, bagaimana kamu bisa tau?”

“ Aku tidak akan pernah lupa kejadian itu, sesaat sebelum kejadian itu aku melihatmu. Walau samar-samar aku bisa tau itu kamu.”

“ Aku benar-benar menyesal Angel, maafkan aku..”

“ Lupakan semuanya Martin. Aku selalu menerima keadaan ini sebagai takdir.”

“ Angel ada satu hal lagi yang ingin kamu tau..”

“ Katakan Martin?”

“ Aku positif HIV..”

Angel terdiam. Dan ia mengatakan satu hal untuk martin.

“ Ketika kamu melihatku sebagai gadis cacat, kamu tidak pernah merasa malu ataupun merasa takut bila aku merepotkan kamu. Aku begitu tersentuh, setiap manusia memiliki sisi yang tak bisa ia hindarkan tentang ketakutan akan petaka. Tapi kamu berbeda Martin, kamu menyadarkan aku untuk kuat, oleh karena itu, walaupun kamu menderita HIV, kini saatnya aku melakukab hal yang sama!”

“ Kenapa kamu mau? Kamu tidak takut padaku.”

“ Karena inilah takdir kita, apapun yang terjadi dengan keadaanmu. Kamu adalah bagian dalam hidupku yang akan selalu ada. Aku akan selalu ada disampingmu..”

Martin dan Angel menikah beberapa bulan kemudian. Setahun kemudian Angel sudah bisa berjalan tanpa tongkat, dua tahun kemudian. Mereka melahirkan anak dengan ajaibnya normal tanpa penyakit apapun. Tiga tahun kemudian di natal 2009., Martin meninggal karena penyakitnya.

Seperti kata Angel

“ Bagaimanapun keadaan kita dan siapapun yang memiliki keadaan sulit, janganlah merasa kamu akan sulit karenanya. Karena kita tidak bisa memilih apapun dalam hidup kita, selain bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan di masa lalu. Tapi percayalah masa depan akan indah bila kita beusaha untuk menerima keadaan kita.”

Kupersembahkan kisah ini untuk semua penderita AIDS di dunia, percayalah kalian adalah makluk tuhan yang paling bahagia dengan keadaan apapun.

Untuk sahabatku yang telah pergi dengan keadaan sama, aku merindukanmu.

Agnes davonar

Tamat.

The End

Novel My BlackBerry Girlfriend Resmi di terbitkan 22 desember 2009.

December 12th, 2009

Salam hangat untuk semuanya.

Akhirnya setelah menunda peluncuran novel My BlackBerry Girlfriend yang rencananya akan dirilis tanggal 5 Desember 2009. Saya memutuskan untuk meresmikan peluncuran novel itu tanggal 22 Desember 2009. Adapun penundaan peluncuran itu karena jadwal novel sebelumnya Oei Hui Lan : Kisah tragis putri orang terkaya di Indonesia terlalu dekat. Well, ternyata penundaan ini juga sangat memberikan banyak waktu untuk saya mengatur beberapa hal termasuk pihak-pihak yang ingin ikut andil dalam novel ini. Karena banyaknya sponsorship yang ingin masuk, akhirnya secara resmi saya mengucapkan terima kasih untuk XL, Kaskus dan Trinity Optima Production yang bersedia menjadi bagian dari novel ini.

Novel My BlackBerry Girlfriend sendiri awalnya dirilis dalam bentuk cerita pendek yang pertama kali dimuat di situs forum terbesar di Indonesi Kaskus dan situs pribadi saya www.agnesdavonar.net. Banyaknya orang yang begitu simpatik terhadap kisah Martin membuat rantai penyebaran kisah Martin yang mencari Angel terus berkembang hingga akhirnya menjadi Fenomenal. Kisah My BlackBerry Girlfriend sendiri langsung menjadi bacaan terbanyak sejak di rilis di kompasiana dengan total pembaca melewati 100.000 pembaca dan terus berkembang hingga saat ini. Dari berbagai database yang saya himpun total pembaca cerita pendek ini mencapai 500.000 pembaca sejak di edarkan. Dan lucunya lagi banyak facebooker dan BlackBerry user yang membantu penyebaran kisah ini.

Banyaknya orang yang begitu simpatik akhirnya membuat saya memutuskan untuk membuat seri novelini menjadi bagian penutup akhir tahun 2009 untuk novel saya. Novel My BlackBerry Girlfriend menjadi sejarah pertama di Indonesia sebagai novel yang soundtracknya diisi oleh musisi-musisi papan atas Indonesia seperti Sherina, Ungu, St 12 dan Arulez dan 6 lagu lainnya yang dibingkai dalam novel setebel 280 lembar halaman. Novel My BlackBerry Girlfriend juga menjadi novel pertama di dunia dengan tema BlackBerry. Saya menyakinkan kalau seri novel ini akan penuh dengan kisah romantic serta komedi cinta yang bener-bener membuat anda akan merasa ikut dalam perjalanan kisah Martin, Karena karakter utama ini cowok, saya juga mengajak teman-teman pembaca cowok untuk membaca kisah ini. Karena inilah novel pertama saya yang bergaya cowok abis..

Nah, sebagai informasi untuk kalian.

Novel ini rencananya akan dirilis dalam layar lebar di liburan sekolah nanti bulan Juni dan Juli yang akan disutradarain oleh Findo yang sukses dengan Paku kuntilanak, Love in Perth. Jadi buat yang pengen liat judesnya Angel dan betapa uniknya sosok Martin nunggu aja ya.. J.Novel ini juga akan menjadi salah satu andalan provider XL untuk menjadikan novel digital mobile pertama di Indonesia. Jadi pemilik Jaringan Xl bisa membaca novel ini lewat hendphone mereka. Selain Xl, Kaskus situs terbesar di Indonesia juga ikut andil sebagai sponsor utama novel ini. Nah, kalau sudah begitu kisah Martin dan Angel yang kocak dan inspiratif ini bakal jadi novel penuh warna untuk kalian baca.

Buat harganya don’t worry masih enak di kantong kok lebih murah daripada majalah playboy pastinya hehehe. Buat temen-temen di Malang jangan lupa untuk datang di lauching buku saya tanggal 29 desember 2009. Lokasi dan tempat akan di kabarkan lagi..

Seperti biasa, saya akan memberikan diskon 20 persen untuk 50 pembeli utama buku ini lengkap dengan tanda tangan saya. Karena persediaan terbatas, email secepatnya ke Agnesdavonar@hotmail.com dapatkan juga survenir khusus dari sponsor buat yang beruntung.

Special thks for; Kaskus, Trinity Optima, Xl, Kompasiana.

The End

Sekolahku Dulu, Sekolahku Kini

December 8th, 2009 Tagged

Sekolah dulu dan sekolah kini.

Hari ini saya tiba di Jakarta, tiba setelah sekian lama tak kembali. Saya tau, hal pertama yang saya lakukan ketika kembali ke Indonesia adalah mencari makanan kesukaan saya. Nasi uduk. Makanan yang tidak akan saya temui ketika berada di tempat saya saat ini. Taiwan, tempat dimana saya putuskan untuk tinggal setelah lulus SMU dulu.Nasi uduk kesukaan saya, letaknya tidak akan pernah saya lupakan. Berada di belakang sekolah dimana saya dulu pernah bersekolah 6 tahun lamanya. Sekolah yang menjadi sejarah dalam hidup saya karena disanalah pertama kalinya saya belajar menulis dan membaca.

Sekolah SD saya sudah menghilang dan jejaknya telah musnah tanpa kejelasan yang saya ketahui dan itu adalah hal yang menyedihkan untuk saya. Saat saya melewati halaman belakang sekolah saya, saya langsung teringat masa-masa kecil dulu. Masa dimana saya masih berumur 6 tahun hingga 12 tahun.Saat itu saya masih duduk di kelas satu sekolah dasar, ibu saya mengajak saya untuk sekolah. Karena tidak pernah sekolah sebelumnya, saya menangis tidak ingin masuk ke kelas. Tapi ibu tidak kehilangan akal, ia mengajak saya berkeliling sebentar di sekolah. Lalu menemukan seorang ibu yang berdagang nasi uduk. Ibu menawarkan saya untuk makan nasi uduk saat itu. Saya langsung jatuh cinta pada rasanya, lalu ibu berkata.

“ Gimana, enak?” Tanya ibu.

“ Enak Bu.”

“ Masih mau lagi..” tanya ibu dan saya mengangguk bertanda mau.

“ Kalau kamu memang mau, kamu harus sekolah dulu, ibu janji. Setiap pagi ibu, akan membelikan kamu nasi uduk.”

Karena masih kecil, saya mudahsekali terbujuk. Akhirnya saya pun menerima tawaran ibu. Saya pun sekolah untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Ibu guru langsung menyambut saya untuk masuk ke kelas ketika melihat ibu datang bersama saya. Saya merasa canggung, melihat ruangan kelas yang berisi orang-orang asing yang tidak saya kenal. Sekolah saya saat itu, sekolah yang mungkin tidak begitu besar. Muridnya tidak begitu banyak. Termasuk jumlah murid di kelas saya yang hanya 15 orang, tapi itu tidak menjadi halangan untuk memulai pelajaran hari ini.

3 tahun lamanya. saya belajar membaca dan menulis hingga akhirnya bisa melakukan semua. Guru yang sejak pertama kali mengajar saya hingga saat lulus sekolah dasar bernama ibu Lina. Dia guru yang bijaksana. Banyak hal yang saya dapatkan selama belajar bersama beliau, termasuk bagaimana hidup bertoleransi dan bermasyarakat. Tentu saja itu hal yang perlu diajarkan, karena semua murid-murid dikelas saya beraneka ragam suka dan ras. Ada yang Jawa, Ambon, Batak hingga keturunan China seperti saya. Banyak hal yang kami pelajarin hingga suatu ketika, saat pelajaran geografi. Kami sedang membahas Negara-negara ASEAN.

Bu Lina saat itu sedang menjelaskan tentang Negara Singapura yang memiliki tingkat ekonomi dan teknologi yang tinggi. Bu Lina menjelaskan kepada kami kalau anak-anak sekolah di Singapura sejak sekolah dasar sudah mendapatkan pendidikan komputer dan belajar mencari apa yang mereka tau lewat Internet sehingga murid-murid di Singapura lebih pintar. Kami murid-murid begitu terkesima mendengar penjelasan beliau, karena di sekolah kami saat itu, kami sama sekali tidak punya komputer. Bahkan kami hanya punya mesin ketik yang saat itu menjadi alat paling popular di setiap sekolah. Sahabat saya, Andi. Tiba-tiba bertanya kepada Bu Lina.

“ Ibu manfaat belajar komputer dan mencari ilmu di internet untuk apa sih, kita kan gak gitu ngerti?”

“ Andi, Komputer dan dunia teknologi informasi. Dapat membantu kita belajar lebih cepat dan lebih baik tanpa kesulitan untuk menjawab setiap apayang kita inginkan. Contohnya, kalau kamu ingin tau bagaimana kehidupan di Singapura atau di Jepang, kita bisa dapatkan informasi itu lewat internet. Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan teknologi komputer dan internet. Belajar komputer bisa membuat kita mengerjakan pekerjaan kantor lebih mudah, ibuyakin kalian akan mengerti kelak ketika sudah dewasa.”

Saya begitu penasaran dan dan Andi bertanya lagi,

“ Bu, kenapa sekolah kita tidak ada komputer?”

Ibu guru hanya tersenyum dan membalas.

“ Andi, sekolah kita ini bukan sekolah yang mewah, bahkan untuk bisa terus berdiri menjadi sebuah sekolah saja dan memiliki murid-murid seperti kalian. Kita sudah beruntung.”

Kami saling melirik dan tidak paham.

“ Lalu Bu, maksudnya kita tidak akan memiliki komputer dan internet seperti anak-anak di Singapura untuk belajar. Jadi kapan kita sepandai mereka ?” Tanya saya.

Ibu guru hanya tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya. Kami sadar artinya tidak mungkin untuk sekolah kami mempunyai komputer dan internet. Bisa di maklumin, sekolah kami saat itu hanya terdiri dari beberapa anak-anak yang tidak mampu, orang tua di sekolah kami kebanyakan hanya pekerja buruh dan berpenghasilan rendah termasuk ayah dan ibu saya. Lalu ibu guru, meminta kami menuliskan karangan bertemakan keinginan. Setiap murid mulai menulis keinginan yang mereka kehendaki, ketika semua dikumpulkan. Betapa terkejutnya ibu Lina. Semua murid termasuk saya, menulis keinginan untuk belajar komputer dan internet agar mereka sepintar anak-anak Singapura.

Karena tidak ingin mengecewakan murid-murid yang begitu antusias mengenal teknologi. Pulang sekolah, ibu guru mengajak kami pergi ke warnet yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolah kami. Bu Lina yang bijaksana rela mengeluarkan uang dari saku pribadinya untuk mengajarkan kami bagaimana menggunakan komputer dan bermain internet. Kami yang jumlahnya 12 orang( 3 teman kami sudah berhenti sekolah dengan alasan pribadi) memenuhi satu komputer yang membuat pemilik warung internet itu cemburut karena tempatnya jadi sesak hehehe.

Selama satu jam lamanya kami belajar, memang tidak langsung bisa. Tapi ibu guru mengatakan satu kalimat yang tidak akan pernah kami lupakan.

“ Anak-anak dengarkan ya, suatu saat komputer akan menjadi sarana pendidikan yang tidak akan pernah terlepas dari kehidupa kalian. Mulai saat ini, bila kalian mempunyai uang, tabunglah untuk belajar menggunakan komputer. Karena kelak itu akan berguna dalam hidup kalian. Jadi bila kalian ingin belajar komputer, kalian bisa menabung dan kumpulkan uang tabungan kalian untuk kembali kita belajar komputer disini.”

Kami murid-murid sadar sekali, untuk bermain komputer dan internetdi warnet saat itu tidaklah murah. Seharga 6000 Rupiah perjam, sangatlah tidak mungkin untuk murid-murid di sekolah kami yang bahkan terkadang tidak mendapatkan uang jajan sekolah dari orang tua mereka. Apalagi menabung untuk memiliki komputer, untuk sekolah saja rasanya sulit, mustahil bermimpi punya komputer.Kata-kata ibu guru kami tanam dalam-dalam di hati. Berharap ibu guru berbaik hati untuk mengajarkan kami di lain kesempatan dan kami bertekad menabung agar bisa melihat layar komputer yang begitu menabjukkan untuk kami.

Sebenarnya saya bisa merasakan apa yang ibu guru inginkan dalam hatinya ketika melihat anak-anak begitu atusias melihatnya mengajarkan komputer. Tentu saja ia berharap, sekolah kami memiliki komputer. Sekolah kami tidak gagap internet. Tapi sayang, sekolah kami hanya memiliki kapur dan papan tulis yang sudah usang untuk menulis. Oleh karena itu beliau selalu mengingatkan kami untuk menabung dan belajar komputer selagi bisa, dasar kami memang anak-anak nakal. Bukannya menabung untuk belajarkomputer, kami malah memilih membeli mainan di jalan hingga akhirnya kami tidak punya uang untuk belajar komputer. Kalau sudah begitu, ibu guru yang sekali lagi harus mengeluarkan uang pribadinya mengajarkan kami di warnet, padahal gajinya tidak begitu besar.

Hati Bu Lina yang begitu agung akhirnya mengantarkan kami lulus hingga kelas Sekolah dasar. Sekolah kami tidak punya kelas lebih tinggi dari pendidikan Sekolah dasar, sehingga setiap muridnya harus pindah setelah lulus SD.Saya dan teman-teman saling berpelukan dan mencium tangan ibu guru yang mulia itu setelah sadar hari itu menjadi hari terakhir kami berada di sekolah ini. Dan yang saya dengar setelah itu, Bu Lina pun berhenti mengajar dan pindah dari sekolah itu. Kami tidak pernah mengerti apa alasannya, yang pasti sekolah kami ditutup setelah itu dan kami kehilangan kontak

Tapi saya masih ingat selalu apa yang ibu katakana pada kami, ketika kami berpisah dan ia berharap apa yang ia impikan.

“ Ibu berharap segera setelah kalian lulus, adik-adik kelas kalian bisa merasakan pendidikan yang lebih baik dan setidaknya lebih baik dari saat ini.”

Kami mengerti maksud ibu berkata demikian tentunya ia berharap generasi dibawah saya mendapatkan pendidikan yang seperti hal layaknya sekolah lain yang memiliki komputer dan fasilitas yang lebih manusiawi. Kenangan masa silam sekolah saya dulu terhenti ketika saya akhirnya menemukan warung yang menjual nasi uduk. Saya makan dengan lahap, ibu penjual itu pun sudah meninggal dan digantikan oleh anaknya yang mungkin sudah tidak mengenal saya. Tapi rasa makanan itu masih sama di lidah saya walau sudah bertahun-tahun lamanya hilang dalam ingatan saya.Saya duduk dan ingin bertanya kepada ibu penjual itu.

“ Bu sekolah didepan ini, masih aktif atau sudah tidak?”

“ Sudah tidak aktif.”

“ Loh kenapa bu?”

“ tidak ada yang sekolah disana, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah ini.”

“ Loh kenapa gitu,” Tanya saya heran.

“ Karena di seberang sekolah itu akan dibangun sekolah lagi yang baru, jadi murid-murid yang ada disana dipindahkan kesana.”

Saya menjadi panasaran, karena jarang saya berkeliling di deerah sekolah saya dulu. Saya pun mencari-cari sekolah pengganti itu. Ketika saya tiba, memang terlihat sekolah baru yang lebih besar dan bersih. Ketika saya masuk ke sekolah itu, masih ada aktifitas sekolah yang mengajar. Saya hanya terheran-heran melihat jumlah siswa di sekolah ini yang begitu banyak dan berbeda sekali dengan jumlah murid di sekolah saya dulu yang mungkin tidak sampai 50 orang untuk semua kelas. Ketika berjalan-jalan hingga ujung halaman sekolah itu, saya menemukan sebuah ruangan yang bertulisan komputer.

Ketika melihat ke dalam kelas komputer itu, seorang guru sedang mengajar. Saya jadi teringat ibu Lina yang dulunya mengajarkan kami komputer. kalau saja dia waktu berputar lebih cepat, mungkin ia akan bahagia melihat sekolah baru kami ini sudah memiliki komputer. Saya merasa tidak enak menganggu murid-murid yang sedang belajar karena mereka melihat saya, akhirnya saya berjalan dan tiba-tiba melihat seorang ibu yang sedang berjalan melewati saya. Rasanya wajah Ibu itu tidak asing untuk saya, Walau wajahnya sudah menua, saya tidak akan pernah lupa sosok Ibu Lina.

Dan ternyata dugaan saya benar, saya memanggil ibu Lina. Dan beliau melihat saya, air mata saya berjatuhan dan memeluk ibu Lina. Tidak saya sangka kami bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya.Bu Lina begitu bahagia melihat saya kini tumbuh menjadi dewasa, dan saya bahagia karena satu hal sobat.

Ibu Lina menjadi kepala sekolah di sekolah baru ini, saya yakin anak-anak sekolah disini akan menjadi anak-anak yang pandai kelak karena adanya beliau. Saya juga senang, karena impian Bu Lina agar sekolah yang ia bina menjadi lebih manusiawi dan tidak gagap teknologi dapat terpenuhi.

Satu kalimat yang membuat hati saya begitu pilu ketika mendengar perkataan ibu Lina.

“ Kini ibu lega, ibu dapat melihat murid-murid sekolah ini mengenal komputer, rasanya mengenang masa lalu ketika mengajar kamu dan yang lain. Hati ibu terasa perih, tapi saat ini ibu bahagia impian kamu dan anak-anak yang pernah sekolah di sini terwujub.”

” Saya melihat anak-anak sekolah disini bahkan sudah bisa merasakan akses komputer dan internet ya, bu?”

” Ibu menekankan kepada mereka seperti dulu ibu menekankan pada kamu, kita hanya bisa selangkah lebih maju sebagai bangsa Indonesia bila mau berubah. Belajar terhadap kemajuan teknologi, dan kini ibu bahagia. Anak-anak mulai sadar begitu pentingnya dunia teknologi informasi, bahkan ada anak ibu yang menjadi juara komputer kemarin..”

Mendengar kalimat itu, saya begitu terharu hingga tak bisa menghentikan air mata saya. Bu Lina yang sungguh saya hormati, kini beliau telah pergi untuk selamanya. Tapi impiannya agar anak-anak Indonesia lebih maju mengenal dunia seperti anak-anak negera lain mulai terwujub. Saya mulai melihat banyak anak-anak kecil hingga remaja mengenal komputer lebih baik daripada jaman saya. Kalau demikian halnya saya yakin ibu Lina akan tersenyum untuk impiannya walau nafasnya telah pergiuntuk selamanya.

tamat

tulisan ini diikutsertakan dalam kontes MICROSOFT BLOGGERSHIP 2010.

Agnes Davonar

Tentang penulis : Agnes Davonar adalah dua bersaudara yang menulis blog sejak tahun 2007. Tahun 2009 mereka terpilih sebagai the most influental blogger 2009 dan the best writting kontes xl pesta blogger 2009. Saat ini Agnes Davonar aktif sebagai penulis novel yang diterbtikan di dua negara sekaligus, Taiwan dan Indonesia.

sumber foto :

http://www.smpn1diwek-jombang.sch.id

Jam Masuk Sekolah (ANTARA/Ujang Zaelani)

thks

The End

POLISI BERNAMA ANGEL : CERPEN 91

December 5th, 2009

Dulu, gua berpikir. Kalau menjadi polisi itu hanya kerjaan buat orang-orang yang pengen jadi pahlawan kesiangan . Gua juga berpikir kalau polisi adalah orang yang menakutkan dan lebih buruk lagi polisi selalu gua konotasikan sebagai penjahat suap. Sejujurnya, gua ini punya pengalaman buruk dengan polisi. Gua punya banyak kesan buruk tentang polisi, mulai dari kasus cicak vs buaya yang bikin gua jadi tambah sebel sama polisi. Semuanya berubah, sampai gua berkenalan dengan seorang cewek. Cewek yang berkerja sebagai polisi.

Semoga saja kisah gua ini menjadi bagian dari sejarah yang dapat mengubah keadaan, keadaan kalau tidak semua polisi itu buruk.

Nama gua Ivan, Sebagai seorang pria yang bekerja di Kantor pemasaran apa. Gua sering menggunakan motor untuk pergi ke kantor gua. Sebagai pria lajang berusia 24 tahun, gua bukan pria kaya yang dapat warisan dari orang tua gitu aja, gua sadar hidup gua harus bekerja keras untuk sukses. Sejak tiga tahun lalu, gua selalu melewati daerah kota untuk sampai ke kantor gua. Sejak tiga tahun itu, gua selalu berhenti di lampu merah dimana gua selalu lihat seorang polisi pria yang berdiam dan mengatur lalu lintas setiap harinya. Nah, selama dua minggu kemarin, gua pulang kampung buat mudik, setelah gua balik hari ini berbeda dari sebelumnya, gua berhenti di lampu merah dan menemukan seorang wanita sebagai polisi lalu lintas.

Sebagai seorang polisi, dia itu terlihat cantik. Bahkan tidak cocok menjadi polisi. Karena begitu terpesona sama wajah dia, Gua lupa kalau lampu merah uda lewat, gua masih berhenti. Saat gua membelok, polisi wanita itu langsung memberhentikan gua. Melihat gua dengan tajam, gua sadar kalau gua bakal ditilang. Dia langsung mengajak gua untuk ke sebuah kantor polisi yang terletak ga jauh dari jalan raya. Dalam hati gua berpikir kalau pasti ujung-ujungnya polisi ini bakal minta duit. Karena gua selalu inget kalau gua ditilang jalan terakhir untuk lolos dan males hadapin sidang adalah dengan uang damai.

Gua merabah kantong celana jeans gua, gua sadar tadi gua masih punya 20 ribu. Polisi wanita itu menyuruh gua duduk dimeja. Gua langsung berujar.

“ Salah saya apa bu?”

“ Menurut kamu?”

“ Ga tau.” Kata gua pura-pura bego.

“ Kamu berhenti ditengah lampu merah. Itu pelanggaran.”

“ Ya ampun bu, saya gak sengaja soalnya lagi ngelamun.” Kata gua sambil melihat seragam dia yang bertuliskan nama dia “ Angel.”

“ Tidak ada alasan, kamu kena pasal 283, berkendaraan tanpa konsentrasi.” Kata polisi itu dan langsung bikin gua menggunakan jurus lama gua, Polisi itu meminta sim dan stnk gua, gua langsung nyelipin uang 20 ribu.

Dia memeriksa sim gua dan wajahnya memperhatikan gua dengan penuh sesuatu, gua pikir dia pasti jatuh cinta sama muka gua yang ganteng. Terus dia ngelihat uang gua, dalam hati gua. Pasti ini polisi mengerti maksud gua. Dia melihat gua dengan wajah tanda Tanya, gua tersenyum.

“ Untuk apa uang ini?” Tanya polisi itu.

“ Untuk damai, bu..” kata gua sambil tersenyum, tiba-tiba polisi itu langsung bangkit dari kursi.

“ Kamu mau coba-coba sogok saya ya?”

“ Hah..” kata gua kaget melihat expresi wajah polisi itu marah.

Belum sempat gua kaget mencari alasan, tiba-tiba terdengar suara tabrakan di depan lampu merah. Seorang pengendara motor terjatuh karena tertabrak bajaj. Polisi wanita itu langsung pergi meninggalkan gua menuju lokasi kecelakaan. Gua hanya bengong dan ikutan kaget melihat kejadian itu. Gua ngeliat dari jauh, tuh polwan sibuk membantu korban. Gua yang tadinya kaget karena polwan itu marah, tiba-tiba terkesima oleh kecelakaan itu hingga lupa kalau gua sedang berurusan dengan polisi karena di tilang. Gua nunggu sekitar 15 menit dan tiba-tiba polwan itu uda ilang bersama mobil ambulan yang datang. Dalam hati gua,” astaga gua baru nyadar kalau sim dan stnk gua ditangan polisi itu.”.

Karena tidak ada yang berjaga dikantor polisi itu karena sibuk ngurus kecelakaan dan gua ga mau nunggu akhirnya gua pergi menuju kantor gua. Gua ga mau dipecat karena terlambat sampai ke kantor karena kerjaan ini sangat berarti buat gua. Akhirnya setelah selesai kerja, gua berpikir untuk ke kantor polisi tadi untuk bertemu dengan polwan yang memegang sim dan stnk gua. Saat gua kesana, dia memang ada disana. Tapi uda gak dengan seragam polisinya. Dia uda pakai baju biasa hingga gua nyaris ga kenal. Untungnya seorang penjaga pos polisi memberitahu gua kalau itu polisi wanita yang berjaga tadi siang.

Gua deketin dia yang lagi membereskan barang-barang dia di meja. “ Permisi kata gua.” Dan tiba-tiba dia ngeliat gua dengan bingung. “ Sapa ya?” Tanya dia. Gua pun menjelaskan kalau gua orang yang tadi siang ditilang sama dia dan mau ngambil sim dan stnk gua. Tiba-tiba dia jadi ingat, dan yang membuat kesal adalah dia ketinggalan sim dan stnk gua di rumah sakit.

“ Jadi gimana dong ?” Tanya gua.

“ Ya terpaksa kamu harus ke rumah sakit. Soalnya saya gak sengaja ketinggalan disana.”

“ kan ibu yang ninggalin disana, tanggung jawab dong.” Kata gua kesel. Dia ngelihat gua dengan wajah kosong.

“ Kamu sadar gak kalau tadi kamu itu harusnya ditilang.”

“ Ya sadar sih, tapi kan saya butuh stnk dan sim saya juga. Kalau mau tilang kan tinggal pilih salah satunya.”

Tiba-tiba dia langsung menarik tangan gua. Mengajak gua keluar kantor polisi dan berkata.” Yauda kita ke rumah sakit, kamu anterin saya.” Tanpa banyak bicara gua pun mengantarkan dia. Sepanjang perjalanan kita ga bicara sama sekali. Sampai akhirnya tiba di rumah sakit. Menunggu beberapa saat, dia keluar dengan sim dan stnk gua. Dalam hati gua, baru kali ini gua ngeliat polisi yang mau aja nurutin keinginan gua untuk minta sim dan stnk gua, padahal biasanya kan pada matre.

“ Ini,SIM,STNK dan uang sogokan kamu. Karena besok saya gak akan tugas di Jakarta lagi. Kali ini saya maafkan kamu.”

Gua jadi ga enak hati karena melihat dia memaafkan gua. Tiba-tiba hujan lebat. Gua ga mungkin pulang hujan-hujanan. Polisi itu juga sepertinya ga pulang. Karena merasa ga enak hati, gua menawarkan dia untuk makan malam di kantin rumah sakit. Tanpa gua duga, dia mau.Kita duduk sambil menikmati soto, gua memperhatikan dia. Gua rasa dia ga cocok jadi polisi, lebih cocok jadi model deh. Iseng-iseng gua pun bertanya.

“ Sorry kalau boleh Tanya, nama ibu siapa?”

“ Angel.” Kata dia dan gua bilang nama gua Ivan dan bertanya lagi.

“ Kenapa sih, kok ibu mau jadi polisi? Apalagi polisi lalu lintas, kan cape. Panas. Uda gitu saya jujur deh bu, ibu lebih cocok jadi model daripada jadi polisi hehehe.”

Dia melihat gua, dan tiba tiba berkata “ Jadi Polisi ga ada salahnya kok.”

“ Sorry-sorry aja ya bu, saya jujur aja. Polisi itu kan kesannya arogan, matre. Uda gitu suka cari kesalah-salahan orang buat dapatin duit.” Kata gua dan Angel melihat gua dengan tanpa terkejut.

“ Sebenarnya, pandangan itu ada karena dari hati kamu saja yang berpikir kalau polisi bisa didamaikan dengan uang bila kita bersalah. Dulu, sebelum jadi polisi. saya juga seperti kamu.berpikir gitu..”

“ Lah emangnya ibu sebelum jadi polisi jadi apa?”

“ Jadi orang biasa aja, lagian kamu panggil saya ibu. Emangnya kamu pikir saya uda tua. Umur saya juga ga jauh dari kamu kalau tadi saya lihat sim kamu.”

“ 24 Juga?” tebak gua dan dia tersenyum dan berkata panggil saja dia Angel.

“ Lalu kenapa dong Ngel kamu mau jadi polisi?”

“ Ceritanya panjang..” kata dia dan gua ga menyerah berkata kalau ingin denger.

“ Ok, saya akan cerita tapi berjanjilah untuk membuang perasaan buruk kamu tentang polisi. Karena bisa-bisa kamu akan bernasib seperti saya.”

“ Ah masa sih.. coba cerita..”

Gua terdiam, Angel meneguk air putih. Lalu mulai bercerita tentang apa yang membuatnya menjadi seroang polisi. Dulu ketika dia menjadi seorang mahasiswa. Dia sering pergi ke kampusnya yang terletak di plaza hasyim. Dia kuliah di salah satu universitas terkenal asal Filipina yang membuka cabang sekolah bisnis. Setiap harinya dia selalu naik mobil, karena jadwal kuliah dia selalu jam 5. Daerah itu selalu 3 in 1. Angel pun tidak kehilangan akal, dia parker mobilnya deket gramedia. Lalu jalan kaki menyeberang untuk ke kampusnya.Setiap hari dia, menyeberang ke arah jalan. Dia selalu melihat seorang polisi muda yang berpakaian seragam sambil mengatur jalan.

Karena terlalu alergi dengan polisi, Angel selalu berkonotasi negative. Apalagi dia sering ngeliat polisi itu memberhentikan motor pengadara yang lewat. Dia pikir polisi itu pasti minta uang damai, dia pun jadi kesel dengan polisi itu.Suatu ketika, hal yang berbeda terjadi. Polisi itu terlihat kehujanan, hujan lebat sekali. Tapi dia tetap mengatur jalan yang macet dengan pluitnya yang terdengar nyaring. Angel pun meledek dalam hati “ Syukurin kehujanan, hukuman dari Tuhan karena sering molotin pengendara”. Di hari selanjutnya. Ia melihat hal yang berbeda, polisi itu berlari menyeberang hanya untuk mengantarkan seorang nenek yang ingin menyeberang. Tepat di depan Angel. Angel pun masih berpikir kalau polisi itu pasti Cuma cari muka berpura-pura baik padahal dia kan suka jahatin orang buat cari duit.

Di hari selanjutnya, nasib sial buat Angel, karena mobilnya mogok. Dia gak punya pendidikan motor yang cukup. Alhasil dia kesel sendiri karena ga ada orang yang mau menolongnya untuk menghidupkan mobilnya. Dia hanya bengong sambil memaki-maki mobilnya. Tiba-tiba polisi itu muncul, Angel yang lagi kesel langsung berpikir polisi itu mau cari duitdari dia dengan mencari kesalahannya.

“ Mas, kalau mau cari duit dari saya, mending ga usah deh, saya ga punya duit “ Teriak Angel kepada polisi itu yang mungkin kaget dan mengeleng-gelengkan kepalanya.

“ Kenapa mobilnya berhenti disini.”

“ Ga liat mogok.” Kata Angel ketus.

Polisi itu tanpa banyak bicara, langsung membuka mesin mobil. Memeriksa beberapa saat. Mengotak-ngatik beberapa mesin dan menutup kembali sambil berkata pada Angel.

“ Coba nyalain lagi mobilnya..” Angel pun tanpa banyak bicara mencobanya dan tiba-tiba mobilnya menyala, ia pun berteriak kegilangan. Polisi itu mendekat ke jendela mobilnya. Angel melihatnya dan polisi itu berkata.

“ Non, gak semua polisi itu seperti yang non pikirin. Uang bukan segalanya dalam hidup.”

Angel hanya terdiam dan melihat polisi itu pergi, tapi ia dapat melihat nama polisi itu Ivan. Ia pun pergi sambil menahan malu karena telah menduga-duga hal yang buruk tentang polisi muda itu. Selanjutnya setiap ia ingin kuliah, ia mulai sering memperhatikan polisi muda itu. Walau secara sembunyi-sembunyi karena merasa malu bila melihat polisi itu.Sampai suatu ketika hujan yang begitu lebat polisi itu kehujanan tapi masih sibuk berdiri ditengah hujan. Angel yang sedang menggunakan paying, tiba-tiba merasa hatinya terdorong. Ia mendekati polisi muda itu, meletakkan payungnya diatas polisi muda yang tampak menggigil karena kedinginan. Polisi itu hanya melihatnya, Angel berkata.

“ Nama saya Angel. Saya yang dulu pernah ditolong gara-gara mobil mogok.” Kata Angel dan polisi itu hanya tersenyum dan berkata .” Hai Angel, kok hujan-hujan gini di tengah jalan.”

“ Nggak sih, saya mau nyeberang, terus ngelihat mas. Merasa aneh aja, kok hujan-hujan gini masih sibuk ngatur lalu lintas. Ya saya kasih payung ini aja.”

“ Loh kalau payung ini saya pakai, kamu gimana?”

“ Saya kan tinggal lari ke mobil. Terus ga akan kehujanan.”

“ Ga usah Angel, aku uda biasa kok.”, Angel bilang “ Gapapa kok, kamu kedinginan sampai menggigil gitu.pakai aja.”

Polisi itu melihat Angel.“ Kalau gitu saya anterin kamu nyeberang, terus payung ini saya pinjam dulu ya.”

Angel setuju, polisi itu mengantarkanya ke mobil. Angel pun bertanya namanya. “ Ivan, nanti saya kembalikan payung ini ya. “ sebut polisi itu yang langsung kembali sibuk mengatur lalu lintas. Angel pun melihat pria itu dengan rasa iba, ia tak menyangka begitu beratnya tugas pria muda itu. Padahal selama ini ia pikir polisi itu kan pemalas dan taunya Cuma duit. Duit dan duit. Keesokan harinya mereka kembali bertemu. Polisi itu memberikan payung kepada Angel. Tanpa ia duga, jam makan siang sudah dimulai.

“ Angel, sebagai ungkapan terima kasih, gimana kalau aku saya traktir kamu makan siang di gajah mada.” Sebenarnya Angel agak takut karena apa jadinya kalau dia terlihat jalan dengan polisi, apalagi ditengah-tengah jalan umu. Tapi melihat ketulusan hati Ivan, ia pun menerimanya. Mereka makan dan berbincang-bincang. Angel tidak kehilangan kesempatan untuk bertanya banyak hal kepada Ivan. Salah satunya mengapa ingin menjadi polisi. Ivan bilang, ia sejak kecil ingin menjadi polisi. Ia sadar impian itu mungkin agak menakutkan bagi sebagian orang. Karena konotasi polisi yang buruk di mata masyarakat. Tapi ia sadar, polisi memiliki dua sisi. Sisi yang tidak bisa dilupakan masyarakat, kalau polisi adalah bagian dari masyarakat dan bertugas untuk rakyat.

Ivan sendiri bilang, ia ingin menjadi polisi karena sewaktu kecil ia pernah tersesat di jalan. Dan seorang polisi dengan baik hati mengantarknya, menenangkannya. Ia pun sejak saat itu bermimpi ingin jadi polisi. Sekali lagi ia tekankan kepada Angel, tidak semua polisi itu buruk, hanya sebagian saja. Itu pun mereka punya alasan tertentu. Tapi semua tidak terlepas dari kehidupan aspek masyarakat yang berpikir kalau segala sesuatu bisa dilakukan dengan uang, sehingga terjadilah jalan damai. Sejak hari itu, Angel dan Ivan pun jatuh cinta. Mereka menjadi sepasang kekasih, lucu sekali untuk Angel yang awalnya membenci polisi kini malah memiliki pacar seorang kekasih polisi.

Suatu ketika mereka sedang bersama, menikmati hari liburnya sambil bermain di taman. Angel bertanya kepada Ivan. “ Ivan apa impian kamu dalam hidup?” Tanya Angel.

“ Saya hanya ingin semua orang berkata dalam hatinya dan menyadarkan banyak orang. Sebenarnya mereka membutuhkan polisi. Tapi dengan kesadaran sendiri, bukan paksaan” kata Ivan.

“ Loh, itu saja impian kamu? Tidak ada yang lain”

“ Tentu saja ada, menikah sama kamu hehehe” Kata Ivan. Angel pun tersenyum.

“ Ivan, kamu tidak takut bila menjadi polisi itu memiliki resiko, bisa saja kamu nanti tewas dalam bertugas.. “ kata Angel yang sebenarnya ragu untuk berkata demikian.

“ Saya akan bangga bila mati saat bertugas daripada saya mati dengan keadaan penuh uang di saku , tapi itu semua hasil korupsi dari masyarakat.”

“ Bahasa kamu terlalu sulit saya pahami. “ kata Angel.

“ Kamu emangnya Tanya-tanya gini kenapa sih? Mau coba-coba jadi polisi ya?” ledek Ivan.

“ ah, ga mungkin lah.” Kata Angel.

“ Mungkin dong, seperti yang kamu bilang, kalau saya tewas saat bertugas, artinya kamu yang harus wujubkan impian saya itu.”

“ Udah ah. Amit-amit deh ngomongnya..”

Tiba-tiba suara bordering, Ivan mendapatkan panggilan dari atasannya. Jalanan macet dan ia harus segera membantu melancarkan. Padahal hari ini dia libur, tapi demi semua keprofessionalan. Ia pun berkerja. Sebelum ia pergi dari Angel. Ia hanya berkata.

“ Angel, ga usah dimasukin hati ya. Kamu tau, kamu itu gadis yang cantik dan saya beruntung memiliki kamu. Kalau saya gak jadi polisi, mungkin saya gak akan menjadi takdir kamu.”

Angel tersenyum. Dan berkata “ Kalau gak kenal kamu, mungkin selamanya saya akan benci polisi. Hehehe”

Ivan pun pergi, tanpa Angel sadarin kalau itu adalah pertemuan terakhir mereka. Angel harus memaklumi perkerjaan kekasihnya. Ia mulai terbiasa dengan panggilan kerja mendadak Ivan. Tapi saat dia pulang ke rumah, ia mendapatkan kabar yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Ivan ditabrak oleh truk yang mencoba menerebos lampu merah. Ivan meninggal seketika, karena saat itu ia sedang berada di tengah jalan. Angel hanya bisa menangis, ia kehilangan kekasihnya.Tapi ia tidak pernah melupakan impian Ivan. Ia pun memutuskan untuk berhenti kuliah dan menjadi seorang polisi. Sebuah perkerjaan yang tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya.

Saat gua mendengar kisah itu, tiba-tiba gua menangis. Gak tau kenapa gua ingin menangis. Angel sendiri terlihat tegar.Angel melihat gua dengan aneh, dan bertanya .” Kenpa nangis.”

“ Sejak kecil saya memang sensitive, suka menangis kalau dengar cerita sedih.”

“ Ok. Hujan uda redah,saya mau pulang dulu.”

“ Angel, tadi kamu bilang, hari ini. Hari terakhir kamu kerja. Kenapa?”

“ Ya, karena saya akan dipindah tugaskan ke Bengkulu.”

“ Jauh dong.. terus saya gak akan pernah ketemu kamu lagi.”

“ Kalau kita takdir, kita pasti ketemu.”

“ Gitu ya. Makasih ya untuk kisah kamu.” Kata gua.

“ Ngomong-ngomong, kalau boleh jujur. Nama kamu mirip dengan polisi yang saya cerita tadi.”

“ Oh ya.? Siapa?”

“ Ivan.”

Sebuah kebetulan yang sangat aneh,lalu gua mulai merasa bisa menebak satu hal.

“ Kalau ga salah, dulu ada polisi lalu lintas yang selalu di jalan lampu merah, tiba-tiba dia hilang dan diganti kamu. Jadinya nanti dia akan gantiin kamu lagi dong.”

Angel menunduk, dan berkata.

“ Tidak Ivan, dia itu kekasih yang saya kisahkan. “

Hati gua pun terkecoh, milis. Tak percaya kalau orang yang selama ini gua lihat di jalan itu kekasih dia yang meninggal. Angel benar-benar menyadarkan gua akan satu hal, tidak semua yang gua pikir itu benar. Tidak semua polisi itu jahat, tidak semua polisi itu matre.Dan gua bersyukur, dia berhasil membuat impian kekasihnya yang punya nama sama kayak gua itu berhasil. Setidaknya berhasil menyadarkan gua kalau polisi itu juga manusia.

Manusia yang membutukan kehidupan dan tugas mulia. Walaupun tidak semuanya benar, tapi setidaknya masih ada yang berhati mulia seperti kisah angel dan ivan.

so teman-temanku sekalian pembaca kisah ini, semoga kalau lain kali ketemu polisi bernama Angel, berhati-hatilah.

KISAH INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK IVAN SANG POLISI DALAM KENANGANKU.

Tamat.

The End