Jul
02
Filed Under (Kisah hidup) by lieagneshendra on 02-07-2009

http://i.a.cnn.net/si/2007/writers/tim_layden/10/10/marion/jonestx.jpgDari balik jeruji penjara, Marion Jones menulis sebaris kalimat ini. ”Anakku, ibu meminta maaf karena untuk sementara tidak berada di samping kalian. Ibu berada di suatu tempat yang disebut penjara. Ibu harus berada di tempat ini untuk kesalahan yang ibu buat pada masa lalu. Ibu telah berbohong karena takut akan mengubah keadaan kita. Ibu minta maaf untuk hilangnya waktu tak ternilai bersama kalian.”

Saat membacakan kembali kalimat-kalimat dalam suratnya yang diberi judul ”Surat untuk Anak-anak” itu di hadapan Oprah Winfrey, air mata Jones kembali meleleh, persis seperti ketika ia menuliskannya di Penjara Carswell, Texas.

Marion Jones adalah mantan atlet top Amerika Serikat. Namanya meroket setelah merebut lima medali, tiga di antaranya emas di Olimpiade Sydney 2000. Perempuan kelahiran Los Angeles, 12 Oktober 1975, itu menjadi ratu sejagat. Wajah jelita dan tubuh aduhainya menghiasi sampul majalah tenar, di antaranya Sports Illustrated, Time, dan Vogue.

Tujuh tahun setelah sukses di Sydney, Jones mengaku menggunakan steroid sebelum Olimpiade Sydney. Ia lantas mengembalikan seluruh medalinya kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC). Badan Antidoping Amerika Serikat (USADA) kemudian menjatuhkan sanksi dua tahun dan membatalkan semua catatan prestasi serta hadiah yang didapat Jones selepas 1 September 2000.

Pada 5 Oktober 2007, Jones secara resmi dinyatakan bersalah telah berbohong kepada agen federal dalam serangkaian penyelidikan doping selepas Sydney 2000. Jones, yang dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan, pada hari itu juga menyatakan mundur dari dunia atletik. Jones mulai menjalani hukumannya di Carswell pada 7 Maret 2008 dan dibebaskan pada 5 September 2008.

Barangkali Jones adalah tipe atlet yang kerap disebut ”from hero to zero”, tetapi bagaimanapun ia telah memberi teladan kepada semua orang tentang arti kejujuran dan sportivitas, dua kosakata yang mulai pudar maknanya di dunia olahraga yang sudah dikuasai industri dan gelimang uang.

Jones pada masa jayanya adalah atlet atletik paling kaya. Penampilannya di lintasan atletik bisa menghasilkan setidaknya 70.000 dollar AS per kejuaraan. Dari bonus dan sponsorship serta honor iklan, Jones bisa menghasilkan setidak-nya 1 juta dollar AS setahun. Jones hidup dalam gelimang kemewahan dan tinggal di sebuah mansion di Chapel Hill, North Carolina, bertetangga dengan Michael Jordan, mahabintang bola basket NBA.

Namun, selepas Sydney 2000, hidup mewah Jones harus dibarengi dengan penderitaan. Ia menjual harta-hartanya untuk menghadapi persidangan doping. Jones bahkan harus menjual seluruh propertinya untuk membayar pengacara. Jones lantas mengaku bersalah karena tidak ingin kehilangan hartanya yang paling berharga, keluarga, terutama dua anak lelakinya, Monty dan Demir.

”Kebohongan itu harus ibu bayar dengan hal yang sangat mengerikan, kehilangan kalian berdua selama enam bulan. Waktu berharga yang tidak mungkin ibu gantikan sampai kapan pun,” tulis Jones dalam suratnya kepada Monty dan Demir.

Dihantui rasa bersalah

Bukan semata teladan kejujuran dan sportivitas yang ditunjukkan Jones sehingga ia tetap menjadi orang ”besar” di tengah keterpurukannya. Dalam wawancara dengan Oprah, Jones mengaku, ketenaran dan kekayaan tidak memberinya kebahagiaan karena selalu dihantui rasa bersalah.

”Hal terberat dalam pengakuan saya adalah, mengetahui bahwa orang tahu, Jones adalah manusia biasa, dengan segala kekurangan dan kelemahannya,” ujar Jones.

Lepas dari penjara, Jones juga mengaku lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya, terutama melakukan apa pun sesuai kehendaknya. ”Di penjara, hidup kita diatur oleh perintah. Bangun tidur harus melakukan ini atau itu sesuai perintah. Semua orang diperlakukan sama, tidak peduli siapa, termasuk Marion Jones,” ujar Jones.

Bagi Jones, pengakuan dan hukuman kurung badan yang mengakhiri kariernya di lintasan atletik adalah puncak dari tuduhan-tuduhan penggunaan doping yang sudah diterimanya, bahkan ketika ia mulai merintis karier di bangku SMA. Saat mantan suaminya, CJ Hunter, terbukti menggunakan doping dan dilarang tampil di Sydney 2000, Jones mati-matian berkilah bahwa ia tetap atlet yang bersih dari doping.

Malah, Jones pernah menyatakan, perceraiannya dengan CJ Hunter disebabkan ia tak ingin citranya sebagai atlet bersih dinodai oleh kasus doping mantan suaminya itu.

Pada sepanjang kariernya sejak masih berlari untuk Universitas North Carolina, Jones memang dekat dengan orang-orang dalam bisnis doping. Selain dengan CJ Hunter, Jones juga pernah dilatih oleh Trevor Graham, pelatih yang terkenal karena menjadi penyuplai doping bagi atlet-atletnya. Setelah bercerai dengan Hunter, Jones kemudian menikah dengan sprinter Tim Montgomery, yang juga terlibat skandal doping.

Kini, Jones tak lagi berlari dan jauh dari gemerlap kemewahan, tetapi hidup bahagia dengan Monty, Demir, dan suami ketiganya, Obadele Thompson.

Sementara di seluruh dunia, doping masih menjadi musuh utama dunia olahraga dan memakan korban atlet-atlet top dari cabang-cabang populer, terutama atletik, renang, balap sepeda, dan bisbol. Konspirasi antara pemasok obat-obatan, pelatih, dokter, dan atlet membuat dunia olahraga tak pernah sepi dari skandal doping.


Artinya Kurang Lebih:Yang Manakah Yang Ukurannya Paling Besar Di Bawah Ini??
B.Gajah C.Bulan

Artinya Kurang Lebih:Apakah Nama Depan Dari George W. Bush??
A.Peter
B.Edmund
C.Torben
D.George

Buset….Nih Ibu Grogi Apa OON??

Jun
26
Filed Under (politik) by lieagneshendra on 26-06-2009

Iwan Satyanegara Kamah - Jakarta
BARACK HUSSEIN OBAMA banyak membuat catatan baru bersejarah bagi bangsa Amerika. Juga bagi kaum muslim sedunia. Selama negeri terkuat di dunia ini terbentuk dan lahir sebagai sebuah bangsa, jauh lebih 230 tahun yang silam, pada Amerika melekat predikat sebagai ras eropa bercorak kristiani yang sangat kental.

Selalu ada kepentingan dan kecurigaan tersembunyi dari seorang presiden. Sejak akhir perang dunia kedua, presiden AS harus mendukung negeri Yahudi yang bernama Israel. Sebelas menit setelah Israel memproklamirkan kemerdekaannya bulan Mei 1948, Presiden Harry Truman langsung mengakui satu-satu negara Yahudi di dunia itu. Penggantinya, bukan hanya mendukung, tetapi melindunginya dengan dukungan militer, uang dan moral.

Kalau mau menang pemilu dan terpilih sebagai presiden, setiap calon presiden harus punya komitmen mati dalam janji kampanye, untuk mendukung Israel. Coba-coba saja menghina Israel dan orang Yahudi dalam kampanye, dijamin orang itu tak akan terpilih. Pasti!

MENYAPA SALAM

Sangat berbeda jauh perlakuan AS terhadap Islam. Makin benci seorang calon presiden AS terhadap islam, mungkin makin mudah meraih simpati pemilih. Namun dalam prakteknya ketika sudah menjadi presiden, tidak sekejam itu. AS selalu akan memanjakan sahabat-sahabat tradisional, yang jutsru kebanyakan negara Islam.

Saudi Arabia, negara menjadi tempat dua kota suci umat Islam, justru diperlakukan sebagai “negara bagian AS ke 51”. Seorang presiden AS, mau-maunya menjemput seorang anak pangeran dari Saudi, hanya untuk kunjungan berobat. Laura Bush, istri Presiden George Bush muda, pernah disindir oleh sebuah pertanyaan sinis, “apakah Anda tidak cemburu dengan Raja Abdullah?”. Mengapa bisa begitu? Karena waktu Raja Abdullah datang ke ranch pribadi Presiden Bush di Texas, dia disambut pelukan oleh tuan rumah dengan ciuman kelewat mesra oleh Bush.

Sejak Bush turun tahta, kebencian AS terhadap Islam mulai meredah. Bush yang selama 8 tahun memerintah, selalu sibuk memusuhi Islam dan memberi label paten negatif dengan embel-embel “terrorist” atau “jihadist” pada Islam. Dia sibuk memburu Osama bin Laden, setan hidup yang dituduh berada dibalik serangan ke AS tahun 2001. Anehnya, keluarga bin Laden adalah mitra bisnis keluarga Bush. Dan, saudara kandung Osama berada dalam satu ruangan dengan ayahnya Bush, mantan Presiden George Bush tua saat terjadi serangan 11 September 2001.

Pengganti Bush malah membawa sebuah pesan kepada dunia Islam yang bertolak belakang darinya. Bukti kesungguhan itu dinyatakan dalam pidato Presiden Barack Obama di Kairo untuk dunia Islam awal Juni 2009.

“Wah hebat ya, Obama pakai ucapan salam alaikum”, komentar teman saya. “Alaah…itu sih biasa”, jawab saya. Memang sudah lama saya tak mendengar ucapan ‘salam alaikum’ keluar dari bibir seorang presiden AS. Presiden Jimmy Carter adalah presiden AS pertama yang mengucapkan ‘assalamu alaikum’ di muka publik, ketika dia datang di siang bolong di bandara Riyadh, Saudi Arabia pada 3 Januari 1978.

Sebelumnya tidak pernah ada ucapan itu dalam protokol kepresiden AS, meskipun Gedung Putih kebanjiran tamu negara dari negeri Islam. Hanya saja pertama kali seorang presiden AS mengucapkan bahasa Arab dalam sambutannya, waktu Raja Faisal datang ke Gedung Putih bulan Juni 1966. “Ahlan wa sahlan”, sambut Presiden Lyndon Johnson. Kejadian serupa diulangi lagi oleh Presiden Ronald Reagan ketika menyambut kedatangan Raja Fahd di halaman Gedung Putih bulan Februari 1985. Tetapi itu hanya ucapan budaya, bukan ekspresi sebuah kepercayaan. ‘Ahlan wa sahlan’ berarti selamat datang dalam bahasa Arab.

Presiden AS yang pertama kali memakai ucapan ‘Assalam alaikum’ adalah Presiden Dwight Eisenhower. Dia menulis surat ucapan selamat jalan kepada Presiden Soekarno yang telah 18 hari melanglang Amerika. Dalam surat tertanggal 5 Juni 1956, dia mengakhiri suratnya kepada Soekarno dengan ‘salutation’, “Assalamu ‘alaikum. Selamat djalan. DWIGHT D. EISENHOWER”.

MENGUNJUNGI SAHABAT

Pada tanggal 14 November 1906, Presiden terpilih Teddy Roosevelt mengunjungi Terusan Panama. Inilah tercatat sebagai kunjungan pertama kali seorang presiden AS ke luar negeri. Sejak itu setiap presiden AS harus berkunjung ke luar negeri sebagai tugas utama diplomatik. Kemana saja mereka? Yang jelas datang ke sekutu tradisionalnya, negara-negara Eropa barat dan ‘halaman rumah AS’, yaitu negara Amerika Latin serta Jepang dan Korea.

Bagaimana negara Islam? Enggan untuk dikunjungi. Sejak perang dunia kedua berakhir, memang ada saja negara Islam yang didatangi presiden AS, meski tak banyak. Hanya Presiden Truman dan Presiden Kennedy yang tak pernah mengunjungi satu pun negara Islam. Kennedy merencanakan datang ke Jakarta pada musim semi tahun 1964, tapi batal karena mati ditembak.

Presiden Franklin Roosevelt adalah presiden AS pertama yang mengunjungi sebuah negeri Islam, yaitu Maroko pada Januari 1943. Itupun bukan mau bertemu tuan rumah, cuma numpang ketemu dengan PM Inggris Winston Churchill. Saat itu Maroko adalah protektorat Prancis. Roosevelt hanya mendatangi 3 negara Islam (Maroko, Mesir dan Iran) selama 12 tahun di Gedung Putih. Tujuannya cuma numpang ketemu pemimpin negeri lain saja, bukan mendatangi si tuan rumah. Mengunjungi negeri Islam nantinya ditiru para penggantinya. Biasanya negara Islam yang didatangi seorang presiden AS, “yang itu-itu juga” dan sudah menjadi sekutu sejarah, seperti Mesir, Turki, Saudi Arabia, Iran (sebelum musuhan tahun 1979), dan Pakistan. Bahkan iseng-iseng ke Bangladesh, yang pertama kali kedatangan seorang presiden AS ketika Presiden Clinton ke sana tahun 2000.

Indonesia sebagai negeri Islam terbesar di dunia, baru pertama kali didatangi oleh seorang presiden AS pada Juli 1969, ketika Presiden Richard Nixon datang ke Jakarta. Saat itu Barack Obama yang kelak menjadi presiden kulit hitam pertama, masih sekolah dan tinggal di Jakarta. Bahkan Presiden Gerald Ford yang hanya 2 tahun 5 bulan jadi presiden, tak pernah ke negara Islam, kecuali ke Indonesia pada Desember 1975. Kedatangannya saat itu disambut oleh hangar bingar konser kelompok musik Inggris Deep Purple di Jakarta yang manggung di Stadion Senayan bersamaan waktunya.

Presiden Jimmy Carter yang waktunya habis memusuhi Iran, hanya sempat ke Iran (beberapa minggu sebelum meletus revolusi iIslam anti-Amerika), Saudi Arabia, Mesir (seminggu dua kali datang waktu mendamaikan dengan Israel tahun 1979). Pengganti Carter, yaitu Presiden Ronald Reagan yang malas berkunjung ke luar negeri karena terbentur aturan astrologi, justru hanya mengunjungi Indonesia (April – Mei 1986), sebagai satu-satunya negara Islam yang dikunjungi selama 8 tahun jadi presiden. Dia tak pernah ke Timur Tengah!

Barulah Presiden Bush tua, Clinton dan Bush muda mulai sering datang ke negeri Islam. Bahkan Clinton yang menjadi presiden AS paling banyak berkunjung ke luar negeri, mendatangi negeri islam di Afrika, yaitu Nigeria dan Senegal, seperti yang dilakukan Presiden Carter. Saking seringnya berkunjung, sebanyak 5% dari 8 tahun berkuasa dihabiskan Clinton di luar negeri! Pernah dia lupa membayar bill (tagihan) minumannya di sebuah pub di Irlandia, sehingga pihak kedutaan AS di Dublin harus mengeluarkan uang.

MERAYAKAN LEBARAN DI GEDUNG PUTIH

Latar pendidikan Bill Clinton yang sekolah di Oxford dan pandangannya yang pluralis, membuat dia lebih lunak dan sangat mengerti islam sebagai sebuah kepercayaan. Dialah presiden pertama AS yang mengunjungi sebuah mesjid ketika berkunjung ke luar negeri. Dia mendatangi Mesjid Istiqlal, Jakarta saat menjadi tamu Presiden Soeharto.

Pada tahun 2000 Clinton membuat tradisi buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih untuk para diplomat Islam dan tokoh-tokoh Islam terkemuka. Tradisi ini dilanjutkan dengan baik oleh Bush yang banyak membunuhi orang sipil muslim di Irak dan Afghanistan. Lebih heboh lagi, Clinton merayakan Idul Fitri pertama kalinya di Gedung Putih pada Februari 1996.  Sekitar 200 tamu (ada yang membawa bayi sedang tertidur), termasuk bintang bola basket Houston Rockets Hakeem Olajuwon, diundang datang ke The Indian Treaty Room of the Old Executive Office Building, Gedung Putih. Mereka diisajikan masakan khas timur tengah, seperti hummus, baba ganuosh dan tabbouleh, merayakan berakhir bulan suci Ramadan.

Setiap tahun pun Gedung Putih juga mengirimkan ucapan selamat berpuasa dan lebaran bagi umat Islam sedunia, sebuah tradisi yang selalu dilakukan sampai kini. Mungkin saja akan dilanjutkan oleh Presiden Barack Obama yang sangat kental dengan latar belakang Islam. Ketika Obama mengunjungi sebuah mesjid besar di Turki, dia diperlihatkan sebuah silsilah Nabi Muhammad, yang cucunya bernama Hussein, yang juga menjadi nama tengah dari Barack Obama.

MENGAKUI NEGARA AS

Tentu berlebihan bila menjuluki AS sebagai musuh Islam dan negara-negara Islam. Dalam sejarah diplomatik, AS justru sering menekan dan memarahi “anaknya” Israel, meski selalu melindunginya. Juga AS sering mengancam serangan nuklir pada negara-negara komunis selama mereka bermusuhan. Tetapi AS tak pernah dan tak berani menegur dan menyakiti Saudi Arabia, menyindir keras Mesir atau mencela negara Jordania. Padahal jelas-jelas, pelaku penyerangan 9/11 hampir 99,99% adalah warga negara Saudi Arabia. Juga dengan Indonesia ataupun Malaysia, mereka sangat berhati-hati mengeluarkan pernyataan keras yang bisa menyinggung perasaan pemimpinnya.

AS dan dunia Islam seperti hubungan “love and hate”. Tetapi tidak dengan Maroko. Sebuah negeri Islam paling barat di Afrika Utara. Negeri kerajaan yang diperintah keturunan langsung Nabi Muhammad itu, adalah sahabat sejati dan absolut bagi AS. Negeri itu kini diperintah oleh Raja Muhammad VI sejak 1999, yang dikenal dengan sebutan “M Six”, yang juga keturunan ke 43 dari Nabi Muhammad.

Ketika AS masih bayi sebagai sebuah negara, tidak ada negeri di dunia yang mau mengakuinya. Hanya Maroko yang melakukannya. Setahun setelah merdeka tahun 1776, Maroko mengakui AS sebagai negara. Sikap ini diperjelas dengan penandatanganan sebuah traktat antara AS dan Maroko tahun 1786, yang menjadi perjanjian paling awet dalam sejarah AS. Perjanjian itu ditandatangani Thomas Jeffrson dan John Adams (keduanya kelak menjadi presiden AS) dengan Raja Muhammad III dari Maroko saat itu. Kesepakatan ini menjadikan Maroko sebagai negara pertama di dunia yang mengakui Amerika Serikat.

sumber

http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/2/233/presiden_as_jadi_islami_

Jun
25
Filed Under (INSERT NEWS) by lieagneshendra on 25-06-2009

Michael Jackson, mendadak dilarikan ke rumah sakit, Los Angeles karena gagal jantung, 25 Juni 2009. Nyawa Jacko tak terselematkan lagi. Ia meninggal dunia sekitar pukul 12.30 siang waktu Amerika. Track record kesehatan Jacko selama ini memang sudah tidak stabil. Jacko tercatat sering sakit-sakitan selama ini.

Tahun 1984, Jacko pernah mengalami luka bakar saat sedang menyanyi untuk pembuatan iklan komersial, Pepsi-Cola. Karena itu, Jacko harus melakukan operasi plastik di bagian kulit kepala demi menghilangkan rasa sakit akibat luka bakar tersebut.

Setelah itu, raja pop dunia ini juga ramai dikabarkan operasi plastik untuk mengubah bagian hidung dan dagunya. Tahun 1993, salah seorang dokter kulit Jacko, Dr. Arnold Klein, mengungkapkan bahwa Jacko memiliki gangguan pada kulit tubuhnya, yang disebut sebagai vitiligo. Penyakit kulit ini disebabkan karena kehilangan melanin, yakni bagian dari pigmen yang menentukan warna kulit, rambut dan mata.

Selain itu, Jacko pernah dikabarkan dirawat di rumah sakit karena sakit di bagian dada, tahun 1990. Tak lama kemudian Jacko menderita dehidrasi hingga harus menunda konsernya pada Agustus 1993. Di tahun yang sama, bulan November konser Jacko juga terpaksa harus di cut karena ia kecanduan obat pereda sakit di tengah-tengah kasus penganiayaan terhadap anak kecil yang dituduhkan padanya.

Tak lama, tepatnya di bulan Desember 1995 Jacko lagi-lagi harus dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan, akibat penyakit dehidrasi dan darah rendah yang dideritanya, saat sedang latihan di Beacon Theater, New York. Namun, kondisi Jacko cepat kembali stabil.

Masih di tengah-tengah kasus pelecehan terhadap anak-anak di bulan Juni 2005, Jacko mengeluh sakit di bagian punggung dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.

Sekitar bulan Mei lalu, sebuah rumor menyebar kalau Jacko menderita kanker kulit. Tapi Randy Philips, presiden CEO of AEG Live, membuat statement di CNN bahwa kondisi Jacko baik-baik saja, seperti biasanya tanpa penyakit apapun.

Akhirnya, Jacko menemui ajal di rumahnya sendiri di Los Angeles dan dibawa ambulans ke UCLA Medical Center. Brian Oxman, pengacara keluarga Jackson menyampaikan pada CNN bahwa Jacko meminum obat sebelum berangkat latihan, tapi ia sendiri kurang tahu obat apa yang dikonsumsi Jacko saat itu.