Amoy, Antara prahala dan tragedi kehidupan

November 1st, 2009
AMOY SINGKAWANG : Para Amoy
merupakan panggilan khas untuk gadis Tionghoa yang belum menikah. Panggilan itu, sejauh yang bisa diketahui berlaku untuk daerah Singkawang dan sekitarnya. Saking populernya sebutan itu, sampai-sampai ada yang sejak lahir sudah diberi nama Amoy. Amoy Singkawang bukan hanya cantik. Tapi, mereka juga pekerja keras. Mereka umumnya ulet dalam bekerja. Karena itu, tak perlu heran bila pria dari mancanegara datang ke sana dan ingin memperistri Amoy Singkawang.
Satu hal yang paling saya kagumi dari para amoy ialah rasa berbakti yang tinggi kepada orangtua mereka. Kemiskinan yang terus menjerat membuat para amoy ingin mengubah nasib keluarga. Pada usia mereka yang relatif muda bahkan ada yang baru hendak menginjak usia 14 tahun, ada yang sudah memilih menjadi pahlawan keluarga. Mereka bersedia menikah denganpria asing yang belum mereka kenal sebelumnya.

Pria asing berdatangan dari mancanegara. Mereka ada yang dari Singapura, Malaysia, Hongkong, dan terbanyak dari Taiwan. Mereka menawarkan jutaan rupiah. Tawaran itu mulai dari 5 juta sampai 20 juta rupiah. Menurut saya, rasa-rasanya sebuah harga yang terlalu murah. Bayangkan untuk mempertaruhkan nasib yang belum jelas dan masa remaja yang sangat indah, mereka hanya dihargai 5 sampai 20 juta rupiah. Bahkan untuk harga yang jauh lebih tinggi dari itu, kok nurani tidak sampai hati.

Biasanya, setelah menikah amoy-amoy itu akan diboyong ke negara si pria. Harapannya tentu saja cuma satu: para Amoy bisa mengirim uang untuk membantu keluarga setiap bulannya. Tapi, dalam kenyataannya tidak semua amoy bernasib baik. Setelah di negara si pria, ada yangdilecehkan secara seksual. Malah ada yang menjadi budak pemuas nafsu binatang. Ada jugayang harus membanting tulang siang-malam. Tak jarang pula amoy-amoy itu menjadi korban penipuan. Bahkan ada yang terpaksa harus menikah dengan pria yang catat fisiknya.

Jadi, bisa saja amoy tidak menjual diri, tapi mereka menjual hati. Namun, jeritan kepedihan danlolongan tanggisan mereka tak pernah ada yang tahu. Mereka hidup di tempat yang asing dengan orang yang belum mereka ketahui seluk beluknya. Sebagian dari mereka terpaksa berbahasa tarzan karena bahasa mereka memang berbeda. Amoy juga tidak pernah tahu bagaimana melewati masa remaja. Dalam sejarah kehidupan mereka tidak pernah ada cerita cinta monyetnya.

Ada kisah menarik. Seorang amoy yang bernama Alang pernah bercerita, ketika menginjak usia 14 tahun, ia sudah di “ekspedisi” ke Hongkong. Oleh Mak Comblang yang membawanya, Alang dinikahkan dengan seorang pria yang cacat kedua kakinya. Semula ia menolak. Tapi, apa daya?. Hidup jauh di negeri orang, di negeri antah berantah, dengan bahasa yang berbeda, uang pun tidak punya, Alang terpaksa mengalah pada sang nasib.

Pernikahan berlangsung sederhana. Mahar nikahnya 15 juta rupiah saja. Setelah itu, Alang pun memulai kehidupan baru. Ia harus bangun pagi dan merawat suaminya. Setelah selesai Alang harus membantu di restoran milik mertuanya. Tak jarang ia dimaki. Hal itu, bukan karena ia bodoh atau tidak tahu diri. Tapi, ibu mertuanya memang cerewet.

Dua bulan sudah berlalu. Alang tetap belum begitu mengerti cerita hidupnya. Yang ia tahu, jauh-jauh ia merantau demi memperbaiki nasib keluarga. Jadinya, ia sering menanggis tanpa tahu apa yang sedang ditangisinya. Menyesali hidupkah? Atau sedang rindu kampung halaman dankeluarga? Yang ia tahu, ia harus bekerja keras di restoran mertuanya dan merawat suaminya di rumah. Ia bekerja tanpa digaji. Segala kebutuhan hidup sudah diatur oleh mertuanya.

Alang berusaha sesabar-sabarnya sambil menunggu kesempatan baik datang menyapa. Bulan-bulan berlalu, tapi kesempatan itu sepertinya tidak pernah datang mengunjungi dirinya. Mengingat kedatangannya demi keluarga, suatu saat Alang terpaksa mencuri. Ironisnya, ia mencuri uang mertuanya sendiri. Kemudian, secara diam-diam ia mengirimkan kepada orangtuanya.

Sejak itu, nasib kurang baik terus mengikuti kehidupannya. Suatu hari ia tertangkap basah mencuri uang yang ada di laci. Tak ayal lagi tamparan keras mendarat di pipinya yang lembut halus. Sejak kejadian itu, Alang tidak diperbolehkan memegang uang sepersen pun. Alang jugakerap mendapatkan perlakuan kasar. Penganiayaan fisik seolah menjadi menu wajib hidupya sehari-hari. Alang yang malang. Alang yang luar biasa. Kepahitan yang ditelannya tak pernah ia ceritakan kepada orang tuanya. Katanya, tak ingin orang tuanya bersedih.

Kondisi serupa, tentu bukan hanya cerita Alang saja. Masih banyak kisah yang sama tragisnya. Amoy-amoy itu semula ingin membahagiakan keluarga dan berharap segera keluar dari lingkaran kemiskinan. Namun, amoy tidak pernah tahu. Adik-adik atau kakak-kakak mereka menjadi malas karena sudah dimanja oleh kiriman rutin uangnya.

Sebagian orang di Singkawang menganggap satu-satunya harapan untuk keluar dari kemiskinan ya dengan cara ‘mengekpor’ anak gadis mereka. Padahal sebuah pernikahan ala ‘ekspor’ bukanlah jaminan perbaikan ekonomi. Karena itu, kalau pun terpaksa harus memilih menikah dengan pria asing, jangan mau dinikahkan begitu saja. Cek dan ricek dulu sebelum memutuskan menerima pinangan. Kenali dulu pihak keluarga si pria dan pribadi prianya sendiri. Setelah komunikasi terjalin –dan memang ada rasa suka dan suka– silahkan dilanjut.

Meskipun begitu, kita perlu salut dan angkat topi kepada amoy-amoy yang berada di luar negeri sana. Mereka pejuang, pemberani, dan berbakti pada orang tua. Namun, kita juga pantas kecewa. Kita boleh kecewa karena amoy yang berani bertarung menempuh tragika hidup itu, ternyata malah menjadi pengecut dan tidak mau menceritakan kisah pedih mereka. Lantas, kalau tidak diceritakan sisi buruknya apakah tidak akan lebih banyak lagi jatuh korban berikutnya? Semoga saja tidak.

Begitulah tragika kehidupan Amoy asal Singkawang yang kali ini dapat saya paparkan. Ini bukan fiksi dan mengumbar imaji, tapi kisah nyata yang menyayat hati. Amoy adalah representasi kaum hawa yang selalu dianggap lemah. Mereka kadang ditindas dengan semena-mena. Pendidikanyang minim, kurangnya pengetahuan, serta keluguan hati mereka, sering di manfaatkan sebagian orang yang mencari keuntungan pribadi. Ya, begitulah. Amoyku sayang dari Singkawang, amoyku malang.

The End

Asal mula perayaan Hallowen

October 30th, 2009

Ucapan ini tampaknya belum atau bahkan sama sekali tidak populer di negara kita. Tapi hampir semua orang tahu, Halloween adalah hari di mana semua orang (di Amerika tentunya) berdandan seram dan menghias rumah dengan berbagai macam hal seram. Salah satu benda yang selalu ditemui pada tanggal ini adalah adanya Jack O’Lantern, semacam hiasan yang dibentuk dari labu yang diisi dengan lilin atau lampu yang menyala. Labu tadi biasanya diukir dengan bentuk yang menyeramkan, sehingga pada saat malam tiba, Jack O’Lantern akan menyala dengan menyeramkan.

Selain Jack O’Lantern tadi, berbagai hiasan seram seperti kelelawar, tengkorak atau tulang belulang, sarang laba-laba, dan terkadang hiasan yang berbentuk seperti perlengkapan sihir seperti sapu terbang dan belanga tempat nenek sihir membuat berbagai obat atau racun sihir akan tampak di mana-mana. Bahkan tidak sedikit hiasan yang menampilkan Vampir atau peti mati ala Vampir nampak di berbagai rumah.

Sebenarnya apa sih yang terjadi sampai ada perayaan serba seram ini?

Seperti aja sejarah di balik perayaan unik ini?

Banyak teori yang berkembang mengenai Halloween ini, tapi teori yang paling banyak diterima adalah bahwa perayaan Halloween ini berasal dari perayaan bangsa Galia kuno yang disebut Samhain, yang secara kasar berarti “Akhir Musim Panas”. Perayaan ini dipercaya sebagai berakhirnya “masa terang” (musim semi dan musim panas) dan dimulainya “masa gelap” (musim gugur dan musim dingin). Bangsa Galia kuno percaya bahwa pada tanggal 31 Oktober, atau di hari Samhain tadi, batas antara dunia nyata dan dunia gaib akan sangat tipis, sehingga para penduduk dunia gaib dapat menyeberang ke alam kita.

Pada perayaan Samhain, biasanya pada penduduk Galia kuno akan mengadakan perayaan besar bagi nenek moyang mereka yang sudah lama meninggal dan “mengundang” mereka untuk duduk makan bersama, sedangkan arwah atau makhluk gaib yang jahat akan diusir dari kediaman mereka. Untuk semakin mempersulit arwah atau makhluk gaib jahat menyebarkan pengaruh negatif di tengah mereka, maka para penduduk akan menggunakan topeng dengan wajah buruk atau berdandan seperti makhluk gaib jahat tadi, sehingga para makhluk gaib jahat tadi menganggap bahwa mereka tidak seharusnya diganggu dan membiarkan perayaan berjalan dengan meriah.

Dari tradisi dan kepercayaan inilah tradisi mengenakan kostum berkembang sampai sekarang, walaupun Halloween di dunia modern sekarang, kostum yang ada bukan lagi kostum seram, tapi berbagai kostum unik mulai dari binatang sampai tokoh superhero atau bahkan tokoh kartun.

Kalau begitu, kenapa namanya berubah menjadi Halloween?

Ternyata nama Halloween ini berasal dari usaha Gereja pada masa itu untuk menghentikan penduduk merayakan hari perayaan Samhain yang dianggap bertentangan dengan perayaan Nasrani. Gereja mengadopsi perayaan Samhain menjadi Hari Para Orang Suci (All Hallows Evening), dengan harapan para penduduk Galia di masa itu akan meninggalkan perayaan yang dianggap tidak gerejawi.

Dari nama All Hallows Evening, penduduk menyingkatnya menjadi Hallow’s Even, dan makin lama nama yang ada makin pendek sehingga menjadi Halloween. Uniknya, walaupun nama dan perayaannya menjadi perayaan gerejawi, Gereja tetap tidak dapat mengubah bentuk dan tradisi yang ada di dalam perayaan ini.

Lalu apa sih sebenarnya Jack O’Lantern?

Jack O’Lantern ini merupakan legenda dari Irlandia. Legenda ini menceritakan mengenai seorang petani licik dan tangguh plus pelit yang berhasil menipu Iblis. Ia berhasil membuat iblis naik ke atas pohon dan kemudian mengukir bentuk Salib di batang pohon tadi, sehingga Iblis tidak bisa turun dengan mudah.

Pada saat kematiannya, Jack tidak diterima di Surga, karena kelicikan dan berbagai tindak buruk yang dia lakukan selama hidup, tapi Iblis juga menolak Jack untuk masuk Neraka karena marah pernah ditipu oleh Jack. Tapi akhirnya Iblis berbaik hati (atau makin jahat) dengan memberikan sebatang lilin untuk menemaninya berjalan-jalan dalam kegelapan, karena tidak dapat diterima di Surga ataupun Neraka. Lilin tadi ditempatkan di dalam Turnip (sebangsa lobak).

Pada imigran dari Irlandia datang ke Amerika sambil terus mempertahankan tradisi ini, sayangnya, di Amerika tidak banyak ditemukan Turnip, sehingga mereka akhirnya memilih sayuran lain yang ada, dan bisa menggantikan Turnip. Pilihan akhirnya jatuh ke labu (pumpkin) yang lebih banyak dan mudah ditemui di Amerika. Dari sini lah, Jack O’Lantern dari labu kemudian menjadi terkenal di seluruh dunia.

Pernah mendengar Trick or Treat?

Salah satu tradisi unik di Amerika untuk menyambut Halloween adalah Trick or Treat. Anak-anak akan berjalan dari rumah ke rumah dengan kostum unik sambil membawa keranjang, dan mengetuk pintu sambil meneriakkan “Trick or treaaaat”. Sebenarnya hal ini adalah ancaman, karena arti aslinya adalah, jika anda tidak memberikan “treat” alias makanan, kami akan melakukan “trick” atau kenakalan terhadap rumah tadi. Pemilik rumah akan keluar dan menghadiahkan berbagai makanan manis seperti coklat atau permen dalam keranjang mereka. Sebenarnya seperti apa sih tradisi awalnya?

Tradisi ini dipercaya muncul di Eropa pada abad ke 9, sebagai bentuk yang modern dari “Soul Day” yang awalnya dirayakan pada 2 November. Pada hari “Soul Day” tadi, para pengemis akan berjalan dari desa ke desa untuk meminta “Soul Cake” yang dibuat dari potongan roti berbentuk segi empat dengan isi Currant (sejenis anggur manis). “Soul Cake” tadi adalah bayaran yang diterima oleh pengemis tadi untuk mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal.

The End

Nyaman dan aman di Jalan raya milik kita bersama

October 27th, 2009

Pesan terakhir ayah..

Sewaktu acara pesta Blogger 2009, saya awalnya tidak mengerti mengapa saya begitu tertarik dengan penjelasan seorang trainingFord yang membawakan tema makalahnya yang berjudul “ Ford driving Skills”. 1 jam lebih saya mengikuti apa yang dijelaskan, hingga pulang ke rumah saya menyadari satu hal. Ada satu pelajaran yang telah membawa saya akan tentang masa lalu dari pelajaran hari itu, sebuah pelajaran yang mengingatkan saya pada ayah yang telah pergi dalam hidup saya.Sebuah kenangan yang benar-benar terjadi dan membuat saya mengerti apa itu arti keselamatan hidup saat berkendara di setiap perjalanan wisata saya.

Jadi begini ceritanya..

Waktu kecil kira-kira saat saya berumur 10 tahun, saya paling jengkel bila berpergian dengan ayah berangkat sekolah. Dengan suara vespa tua tahun 80-an, motor itu berjalan lambat sekali seperti siput. Bahkan saya sempat berpikir, saya mampu berlari lebih cepat dari motor vespa milik ayah. Saya tidak pernah mengerti mengapa ayah selalu mengendarakan motornya dengan pelan dan berhati-hati. Ketika tiba di gerbang sekolah, saya malah harus berlari kencang untuk tiba di kelas karena perjalanan dari rumah menuju sekolah saya membutuhkan waktu 30 menit dengan motor vespanya, padahal kalau saja ayah mau lebih cepat melaju vespanya, mungkin bisa 15 menit kita sampai.

Mengapa saya bilang lari saya lebih cepat dari vespa ayah? Karena jika ayah sedang menyetir motor vespanya, ia selalu berada di jalur sebelah kiri. Padahal saya melihat banyak motor-motor lain yang melaju ditengah bahkan kanan yang bisa membuatnya lebih cepat. Bila ada mobil lewat, ayah memperlambat motornya lebih buruk lagi dan memberikan mobil itu jalan lebih dulu. Itulah mengapa kami membutuhkan waktu yang lebih banyak pada umumnya untuk tiba di sekolah. Saya bingung, mengapa ayah selalu berhati-hati sekali, padahal jalan begitu luas. Tapi bagaimanapun selama kami berjalan, kami selalu tiba di sekolah dengan selamat walaupun terasa sangat menyebalkan.

Sebenarnya saya ingin pergi sekolah berjalan kaki ,saya bila di izinkan. Tapi karena usia saya masih terlalu kecil, ayah melarangnya.Kalau jam pulang sekolah tiba, suara motor vespa ayah yang khas akan selalu ada di depan gerbang sekolah. Tapi hati saya tidak sejengkel saat saya berangkat sekolah karena saat pulang ke rumah, saya bebas kapan saja bebas tiba dirumah. Akhirnya, karena suatu pagi saya terlambat dan ibu guru memarahi saya, saya pun mengeluhkan keterlambatan saya pada ayah, saat pulang sekolah di meja makan rumah kami sambil menikmati makan siang. Saya bicara pada ayah,

“ Ayah, kenapa sih kalau berkendaraan kok lelet amet? Kan Agnes jadi terlambat”

Ayah tersenyum sambil berkata “ Memangnya ada bedanya kamu mengebut dan lelet di jalan?” tanya ayah saya balik.

“ Ya, ada lah.. kan Agnes gak jadi terlambat. Karena ayah bawa motornya lelet, Agnes jadi telat terus..”

“ Jam berapa kamu bangun setiap paginya Agnes?” tanya ayah,

“ Jam 6 pagi..”

“ Berapa lama kamu butuh waktu untuk bersiap-siap hingga kamu siap menumpang motor ayah?”

“ 30 Menit untuk mandi, ganti seragam dan makan pagi..”

“ Berapa lama kita butuh waktu untuk tiba di sekolah dengan motor ayah?”

“ Agnes sudah hitung bisa diatas 25 menit.” Kata saya mengingat karena terjadi setiap harinya.

“ Ok, sekarang siapa yang perlu diubah untuk supaya kamu tidak terlambat?”

“ Tentu saja ayah, kan ayah bisa mengebut dikit supaya bisa tiba lebih awal..”

“ Tidak sayang, ayah tidak akan pernah melakukan apa yang kamu inginkan. Yang perlu diubah adalah kedispilinan kamu..”

Saya terdiam dan bingung dengan maksud ayah dan bertanya “Maksud ayah..?”

“ Kalau saja kamu mau bangun 5 menit lebih awal, tentu saja kamu akan tiba lebih awal pula di sekolah 5 menit.. jangan salahkan ayah. Ayah berkendaraan sudah benar, sesuai aturan dan displin. Jadi kalau kamu mau tidak terlambat lagi, kamu harus bangun 5 menit lebih awal mulai besok..”

Saya terdiam, tidak mau mengerti dengan penjelasan ayah, tapi keesokan harinya saya mulai bangun lebih awal 5 menit. Memang setelah itu tidak pernah terlambat lagi, tapi pertanyaan dalam hati saya tidak pernah terjawab

“ Mengapa ayah harus mengikuti aturan, kalau saja ia bisa lakukan yang lebih baik, toh.. fungsi berkendaraan bukannya untuk mempermudah manusia mencapai tujuan?”

Old Car

Beberapa tahun kemudian, kami mulai mampu membeli sebuah mobil bekas yang digunakan untuk membawa saya dan adik saya berangkat sekolah. Saya pikir kami akan tiba lebih cepat dari motor sebelumnya, ternyata malah membutuhkan waktu lebih banyak lagi. Kalau sudah begini saya dan adik saya harus bangun 10 menit lebih awal. Ayah selalu tersenyum ketika kami tiba di sekolah, walau ia tau saya selalu memasang wajah cemburut.Wajah dimana kekesalan karena ayah berjalan terlalu lama untuk tiba di sekolah.

Suatu pagi yang tidak pernah terlupakan, hal yang membuat saya belajar hingga saat ini mengapa ayah hanya tersenyum kepada saya setiba di sekolah dimulai dari sebuah kejadian yang tidak menyenangkan. Ceritanya begini, kami sedang berada di dalam mobil untuk berangkat ke sekolah, jalanan saat itu memang sedang sibuk karena banyak yang akan berangkat beraktifitas di pagi hari. Ayah menyetir dengan tenang, tapi tiba-tiba motor melewati kami dengan angkuhnya, ayah terdiam sambil menarik nafas. Motor itu nyaris membuat kami celaka, Saya melihat itu dan berkata,

Ih naik motor kok ugar-ugaran, bikin bahaya aja..”

Ayah langsung berkata pada saya,

“ Itulah yang membuat ayah selalu mengajarkan kamu hal yang harus kamu pahami hingga kamu dewasa nanti..”

“ Maksud ayah?” tanya saya bingung.

“ Kamu tau, bagaimana rasanya kita yang barada di dalam mobil ketika melihat motor berjalan semau hati mereka tanpa peduli dengan kita..?”

“ Menjengkelkan..” jawab saya tanpa tendeng aling-aling.

“ Apa jadinya kalau kita yang ada di motor itu dan melakukan hal yang kamu selalu inginkan, yaitu mengebut untuk tiba lebih cepat..”

Saya terdiam, merasakan seperti tamparan dari kalimat ayah terbayang sebuah kecelakaan. Lalu ayah berkata lagi,

“ Lalu apa jadinya kalau kita yang berada di motor dan melihat mobil melaju seenak hati mengebut?”

Saya tidak menjawab pertanyaan ayah, sambil tersenyum ayah berkata.

“ Kamu sudah mengertikan anakku? Mengapa ayah selalu berjalan dengan sebaik mungkin dengan motor ataupun mobil ini, karena bila kita berkendara alat transportasi apapun. Kita harus bisa menghargai hidup kita, kesalahan waktu tiba bukan karena motor ini melaju dengan terlambat atau tidak, tapi karena tidak disiplinnya kita mengatur waktu kita sendiri. kita tidak boleh egois, karena nyawa kita adalah taruhannya. “

Saya menghela nafas dan mulai mengerti mengapa selama ini ayah mengajarkan kejengkelan saya dengan kesabaran dan penjelasan yang selalu saya simpan dalam hidup saya hingga saat ini. Ayah benar, hingga saya dewasa saat ini. Saya tidak akan pernah lupa dengan kejadian yang memilukan terjadi diantara lingkungan dan sahabat-sahabat saya. banyak dari mereka telah pergi menghadap Tuhan karena kecelakaan motor ataupun mobil.Saya bersyukur, saya mengerti pendidikan dan etika berkendara dengan mobil yang saya miliki saat ini karena pendidikan yang ayah tanam kepada saya.

Memang benar, terkadang kita merasa jengkel bila berada di mobil dan melihat motor melewati kita sesuka hatinya. Dan begitu sebaliknya kita berada di motor dan melihat mobil melaju dengan sesuka hatinya. Andaisaja mereka yang berkendara mau mengerti kalau tujuan kita selalu sama, berkendara untuk mencapai tempat yang kita inginkan. Kita bisa saja bersikap lebih saling menghargai dengan batas-batas aturan berkendara dengan benar. Menggunakan tempat yang semestinya kita gunakan bila di jalan raya, niscaya, saya percaya kita akan tiba sampai dengan tujuan dengan selamat.

Dan kita akan bisa saling tersenyum kepada semua orang yang berada diatas tanah aspal yang sedang berharap tiba ditujuan masing-masing.

Well, memang benar banyak hal yang perlu kita sikapi dalam hidup ini.Angka kecelakaan tahun lalu di lebaran cukup tinggi lebih dari 400orang tewas karena kecelakaan, padahal mereka ingin sampai ke rumahdengan tujuan yang mungkin kebahagiaan. Sayangnya malah menjadi kesedihan, kita harus bersikap mulai saat ini.

Berkendaraan dengan hati dan nurani,..

semoga pengalaman ini menjadi pelajaran bagi siapapun..

amien

Agnes davonar

oh ya kalau kalian mau tau banyak tentang tata cara keselamatan berkendaraan atau mengikuti seminar krama berkendaraan bisa masuk ke situs ini http://www.dsflindonesia.com , daftarkan diri kamu., gratis loh

sumber foto:

keetsa.com , agnesdavonar. ericoforter.com

The End

Tulisan peraih penghargaan terbaik pesta blogger 2009 oleh Agnes Davonar

October 24th, 2009

Hari Ini saya bersyukur karena mendapatkan penghargaan sebagai penulis terbaik dalam ajang pesta blogger 2009 dengan tema ” Pluralisme dan kebhinekkan bangsa”, banyak yang ingin tau tulisannya. Uda agak lama sih saya posting, selain mendapatkan penghargaan dari pesta blogger. tulisan ini sebelumnya juga mendapatkan penghargaan dari olitoponedetik.com best insprition story. nah jadi buat yang mau baca silakan dilihat..

” saya bermimpi kelak ketika saya mempunyai anak-anak yang terlahir di dunia ini, mereka dapat hidup sebagai masyarakat majemuk yang tidak dilihat dari warna kulit dan rasnya, tapi dilihat dari watak dan kepribadiannya” agnes davonar

Sejak

kecil hingga saat ini, saya selalu merasa gembira bila mendengar hari puasa akan datang? Bukan gembira karena saya akan menerima hari libur sekolah yang panjang tapi gembira karena bisa mengingat kenangan masa lalu yang begitu indah dan membekas dalam pikiran saya. sebuah masa dimana saya bisa bermain dalam pikiran saya sejenak melepas kerinduan yang kini mulai seiring waktu karena mungkin saya telah menjadi dewasa.

Saya masih ingat, usia saya 5 tahun saat ibu membawa saya merantau dari Kalimantan menuju kota Jakarta. Setiba dari kapal laut, kami naik kereta hingga berhenti di stasiun Pos duri, Jakarta barat. Kami naik becak menuju rumah kami di kawasan padat pemukiman yang sudah ditinggalin ayah terlebih dahulu, sebelum memasuki rumah itu! Ibu hanya bicara kepada saya

“ Dengar ya, Kak. Sekarang ini rumah baru kita.. “

Saya terdiam sambil memeluk adik kecil saya yang saat itu masih berusia 2 tahun. Ayah saya memang lebih dulu datang ke Jakarta meninggalkan keluarga di Kalimantan. Ayah berkerja sebagai dokter tradisional di sekitar rumah kami yang memiliki aneka ragam suku dan ras. Di depan rumah kami terdapat sebuah masjid dan tidak jauh dari sana terdapat sebuah sekolah Kristen. Tetangga-tetangga kami banyak yang berasal dari etnis Melayu, Batak dan Tiong-hua. Saya sendiri adalah Tiong-hua peranakan dari Singkawang.

Karena belum cukup umur untuk sekolah, ibu hanya menyuruh saya untuk diam di rumah. Saya tidak mengenal siapapun di lingkungan baru saya. Tapi ibu dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya walau ia harus terbata-bata bicara bahasa Indonesia mengingat di kampung kami dulu, tidak banyak penduduknya mahir dalam berbahasa Indonesia. Sebagian penduduknya masih kuno dan hanya mengusai bahasa lokal tapi akhirnya, berhasil juga ibu mendapatkan teman-teman untuk mengenalkannya bagaimana pergi ke Pasar ataupun sekedar untuk ngobrol-ngobrol.

Ibu bergaul dengan penduduk setempat yang kebetulan banyak beragama islam. Mereka mengenal ayah saya sebagai pribadi yang santun karena sering memberikan pelayanan kesehatan kepada mereka dengan seikhlasnya. Bisa di maklumi karena sebagian daripada penduduk disana kebanyakan adalah pekerja pabrik atau pedagang pasar yang tak jauh dari rumah kami. Jadi bila setiap saya pergi keluar untuk memberi permen, tetangga saya akan berkata

“ Eh, Putri Ko Ho- lo( nama ayah saya) mau kemana?”

Ya memang demikianlah hal-hal yang terjadi setiap harinya. Ayah tidak kaya ataupun miskin, kami hidup sederhana. Ketika usia saya 7 tahun, ibu memutuskan untuk memasukan sayake sekolah negeri, bukan sekolah swasta. Saya tidak mengerti ia tega memasukkan saya ke sekolah yang kebanyakan dari mereka adalah penduduk pribumi dan hanya sebagian etnis Tiong-hua. Tapi bagaimanapun saya harus sekolah karena kebanyakan dari usia saya sudah bisa membaca dan pulang sambil memakai seragam merah putih.

Saya tidak masuk ke taman kanak-kanak sehingga harus langsung belajar membaca dan menulis. Teman-teman saya banyak yang bilang saya

“China kok sekolah disini? Disini kan sekolah negeri.?”

Memang konotasi tentang sekolah negeri saat itu hanya bagi mereka yang tidak mampu dan kalaupun ada Tiong-hua yang sekolah disana itu karena mereka tidak mampu. Saya pulang dan bertanya pada ibu saya dan ia pun tidak bisa menjawab. Ayah mendekati saya dan berkata,

“ Sayang dimanapun kamu bersekolah,tidak penting itu Negeri atau Swasta?Yang terpenting kamu jadi orang pintar dan berguna? Ayah dan ibu hanya ingin kamu sekolah dan tidak seperti kami yang ingin sekolah pun tidak mampu, jadi bersekolahlah dengan benar! Supaya nanti kamu jadi orang hebat!”

Karena saya masih kecil, saya hanya berpikir “ yang penting saya sekolah”.Saya lalui masa sekolah dasar dengan berbagai hal yang saya pelajari, guru saya pernah berkata,

“ Sekolah kita adalah contoh kebhinekaan yang harus dipertahankan karena dengan itulah bangsa ini berdiri, jadi kalian semua harus saling menghargai dan bisa menerima apapun keadaan teman-teman kalian.”

Ilmu itu kami tangkap, saya dan teman-teman sekolah menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama. Nah kalau sudah bulan puasa, ibu guru mengajarkan saya untuk menghormati mereka yang berpuasa untuk tidak makan dan minum di depan mereka. Saya memang bandel, karena terkadang tidak tahan saya berlari ke toilet dan makan disana. Ketika teman-teman saya melihat, mereka ikut-ikutan makan bersama saya.Padahal mereka sedang berpuasa, kalau sudah demikian halnya maka saya merasa berdosa sekali hehehe.

Saya belajar agama islam walaupun bukanlah seorang muslim, saya bisa sedikit membaca Alquran karena sekolah kami dulu tidak adalah kelas agama lain. Saya mengerti sejarah nabi Muhammad yang menikahi siti khodijah dan bila ujian kenaikan kelas saya selalu mendapatkan nilai 7. 6 tahun lamanya saya belajar agama islam dan menambah wawasan tentang toleransi, karena kalau lebaran imlek tiba guru saya akan memberikan izin libur kepada saya dan teman-teman Tiong-hua lainnya. Kalau sudah masuk saya sekolah saya selalu membawa kue Cendol China yang selalu dilahap abis oleh teman-teman muslim saya.

Ayah mengajarkan saya tentang bagaimana menghargai dan menghormati setiap lingkungan saya, saya masi ingat bila setiap idul fitri akan tiba, tetangga-tetangga kami yang muslim akan datang ke rumah saya untuk membawakan ketupat,ayam opor dan rendang yang gurih. Kemudian ayah akan membalasnya bila kami merayakan Imlek, ia akan memberikan kue Cendol China serta sirup ABC ke tetangga-tetangga kami.Kalau ingat masa-masa itu, saya merasa begitu bahagia karena kehangatan dan kenangan itu sungguh luar biasa membekas di benak saya. tetangga-tetangga kami juga tidak pernah keberatan bila kami harus memasang kemenyan dan lilin-lilin besar didepan rumah kami untuk menghormati leluhur setiap Imlek.

Seiring perjalanan waktu, hubungan kedekatan itu tidak pernah berhenti hingga akhirnya ayah meninggal dunia.Kami sangat terpukul, ia adalah orang yang menjadi panutan serta penopang hidup kami. Tetangg-tetangga kami juga sangat kehilangan sosok ayah, bagi mereka ayah adalah sosok dermawan yang menghabiskan waktu untuk menolong dengan keihklasan. Ayah orang yang tidak pernah memandang uang sebagai tujuan hidup, ia tidak pernah merasa keberatan memberikan pengobatan gratis kepada mereka yang tidak mampu bahkan membantu semampunya kepada mereka yang membutuhkan. Ia tidak peduli waktu bila ada yang meminta tolong padanya, baginya orang kaya, miskin, pengemis dan pemulung adalah manusia yang layak hidup. Pernah suatu ketika seorang anak mengetuk rumah kami dan berkata ayahnya tidak bisa bergerak dari tempat tidur.

Dengan hanya memakai celana pendek ayah berlari ratusan meter menuju rumahnya dan berusaha menolongnya. Dan ketika ayah meninggal, ayah anak itu berkunjung ke rumah, ia meminta ibu saya menerima sumbangan seadanya yang ia miliki padahal ibu saya tau kehidupannya lebih membutuhkan uang itu.

“ Bapak, simpan saja uang ini. Bukan maksud kami menolak tapi bapak lebih membutuhkan uang ini” Ujar ibu saya.

“ Terimalah uang ini, ibu. Saya hanya ingin membuat diri saya tenang dengan ikut menyumbang uang ini agar jasa-jasa beliau tidak pernah mati di hati saya. Uang ini mungkin tidak seberapa tapi saya harap bisa membantu bapak tersenyum karena dapat dikuburkan dengan uang ikhlas saya.”

Ya, saat itu kami memang sedang masa-masa sulit, pemakaman membutuhkan uang yang banyak. Belum lagi biaya rumah sakit sebelum ayah meninggal. Kami menangis sepanjang hari dan para tetangga kami datang untuk menghibur, membantu mengurus adik saya yang masih saja berpikir ayah kami sedang pergi bertamasya. Memasakkan kami makanan karena kami kehilangan nafsu makan dan menjaga rumah kami saat kami pergi ke pemakaman ayah di kampung halaman. Kenangan itu begitu membekas di hati saya.

Setahun berlalu, kami tidak lagi mampu merayakan imlek dengan seperti dulunya. Tapi hati saya benar-benar tersentuh ketika tetangga-tetangga kami yang tidak merayakan datang ke rumah kami tetap datang memberikan ucapan tanpa pernah mengharapkan apa-apa dari kami. Bila Idul Fitri tiba, saya masih bisa merasakan ayam opor, ketupat dan rendang yang gurih hingga akhirnya kami memutuskan untuk hijrah keluar negeri karena ibu mendapatkan perkerjaan. Maka masa-masa itu pun berakhir, kenangan tentang pluralisme Indonesia telah hilang dari tanah baru kami.

Saya tumbuh dewasa dengan nilai-nilai barat yang membekas dalam pendidikan hidup saya tapi saya tidak pernah menghilangkan nilai-nilai timur yang saya dapatkan di tanah kelahiran saya Indonesia. Saya kembali ke tanah air untuk mengenang masa lalu dengan melihat kondisik fisik rumah peninggalan ayah saya. air mata saya berjatuhan mengenang masa lalu karena sesaat lagi rumah itu akan dihancurkan menjadi sebuah apartement mewah (kini Seasons City) Ketika saya berdiri didepan rumah saya, seorang pria datang kepada saya.

“ Kamu anaknya Ko-Hok-lo ya?”

Saya berusaha mengingat sosok laki-laki itu, dia mengatakan kalau dia adalah salah satu pasien ayah yang sempat ditolong. Saya tidak tau bagaimana ia bisa ingat wajah saya yang telah dewasa, ia mengajak saya duduk dirumahnya untuk sekedar minum teh dan mengenang masa-masa ayah saya masih hidup disekitar lingkungan ini. Saya begitu terharu, banyak dari mereka yang masih ingat ayah saya dan saya, semua berdatangan menyalami saya dan berharap saya tidak pernah lupa akan tanah dimana saya belajar arti kebhinekaan dan Pluralisme. Saya katakan pada mereka,

“ Walaupun saya jauh di ujung dunia untuk hidup, saya tidak akan pernah lupa akan kenangan indah saya disini. Terutama bapak-bapak dan ibu-ibu yang telah memberikan pelajaran hidup kepada saya dengan sepenuh hati. Karena pelajaran hidup itulah yang membuat saya bangga sebagai bangsa Indonesia”

Saya masih berharap kelak ketika kembali saya masih bisa merasakan opor ayam, ketupat dan rendang dari mereka.

Kalau sudah demikian halnya matipun saya akan ikhlas.

Agnes Davonar

Agnes Davonar adalah penulis online dan novel cetak yang telah melahirkan 4 buku dan 80 cerita online. tahun ini ia berhasil meraih 3 penghargaan dari detik.com inspiratif blogger , kapanlagi.com friends award dan penulis terbaik 2009 di ajang tertinggi telekomunikasi dan informasi bubu award. Novelis dua bersaudara yang kental dengan tema buka inspiratif dan sosial disetiap bukunya ini telah membuka era baru cerita yang jauh dari kisah cinta tapi sukses menciptakan novel best seller

sekali lagi terima kasih atas dukungan kalian

The End