My Blackberry Girlfriends bagian 3
Kiamat
Gua masih tertidur pulas ketika baru menyadari kalau dari jendela kamar gua uda penuh dengan cahaya matahari. Mata gua terasa perih dan akhirnya gua bangun. Saat gua ngeliat jam dinding di kamar gua, terlihat jelas kalau sekarang sudah jam 12 siang. Gua merasa badan gua remuk dan dada gua terlalu sesak, kata orang ini akibat kalau tidur terlalu lama, bisa juga akibat karena kurang tidur. Kalau jaman gua kuliah dulu, gua selalu bangun jam 7 pagi karena setiap mata kuliah gua uda dimulai pagi itu. Semenjak gua kerja juga begitu, kecuali hari minggu; gua bebas mau bangun jam berapa tapi paling banter juga jam 9 pagi. Personal trainer gua sempat bilang kalau gua telat bangun usahakan langsung menarik nafas dalam-dalam lewat hidung dan ngebuang lewat mulut sebanyak tiga kali.
Usaha itu gua lakuin dan cukup membuat arwah gua yang belum kembali sekarang jadi menyatu lagi. gua coba meregangkan tulang leher gua dengan melemaskan ke kiri dan kanan
Plek.. Pluk.
Suara tulang gua yang uda kembali normal karena terasa nyeri, gua langsung menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan tiba-tiba suara Blackberry gua berbunyi. Suara itu mengingatkan gua akan kejadian buruk semalam yang nyaris bikin gua mati dihajar massa, dengan cemas gua mencoba mencari dimana letak Blackberry gua dan gua dapatkan di ranjang gua. Perlahan gua perhatikan dan ternyata itu isi SMS dari Hendra.
Nyet.. uda bangun belom? Gua pinjem mobil loe jadi seminggu ya.. soalnya gua mau bawa saudara-saudara gua ke Pengandaran. Jangan protes soalnya gua juga terpaksa! Inget jasa-jasa gua sama loe..
Kalau uda begini gua juga uda ga bisa apa-apa, mau marah juga percuma. Si gendut selalu menyusahkan gua, teman kayak gini emang langkah banget. Kadang asyik, kadang nyebelin dan kadang bikin susah. Nasib gua uda ditakdirkan sama dia. Gua menuju dapur gua untuk membuat susu protein agar badan gua ga melar, karena inilah fungsi dari susuh protein; supaya tubuh gua kencang dan berotot. Setelah minum gua duduk di meja dapur, tiba-tiba kebayang kejadian semalam. Wajah Angel masuk ke pikiran gua, gua masih ingat sekali dengan rambutnya yang panjang, matanya yang tajam dan hitam. Bibirnya yang merah dan kulitnya yang seperti porselin. Sayang dia punya sifat buruk, kalau saja kemarin dia bersikap baik—- mungkin dia adalah kesempatan hidup gua.
Gua menemukan dompet gua di meja dapur dan teringat lagi dengan pengeluaran gua semalam sebesar 5 juta untuk minuman Wine yang ga pernah gua sentuh sama sekali.
“ Astaga utang banget banyak amet sih, mau ga mau gua mesti cari kerja neh! Bisa-bisa gua didatangin asma Debt Collector dari bank “
Tapi gua bingung dengan perkerjaan apa yang harus gua dapatkan untuk ngebayar utang gua, gua mungkin gua kembali kerja sama ibu Jelin. Bisa-bisa harga diri gua diinjek-injek dan dikira gua mau lagi jadi simpanan dia. Akhirnya wajah Hendra terlintas di benak gua saat dia berkata;
“ Jadi Sales mobik tuh asyik, dapat gaji dan bonus. Kapanlagi? Loe kan punya pengalaman marketing dan ngerti mobil..”
Gua terdiam sejenak dan berpikir kali ini gua rasa Hendra benar juga, ga ada salahnya kalau kerja jadi sales mobil. Toh gua hanya perlu jelasin apa yang gua bisa jelasin, akhirnya gua menelepon Hendra. Si gendut ngangkat telepon setelah gua telepon sebanyak tiga kali.
“ Sibuk amet sih loe, Dut?” kata gua.
“ Tin, gua kan uda bilang kalau mobilnya mau gua pake ke Pangandaran. Pengertian dikit kek, teman macam apa sih loe ini! mau bikin gua di bilang pelit ya sama saudara-saudara gua?”jawab Hendra ngasal,
“ Eh. Gendut!! Gua nelepon loe bukan nanyain tentang mobil gua! Walaupun tadinya gua berminat nanya!”
“ Jadi?” tanya Hendra bingung.
“ Kemarin loe bilang ada yang butuh sales buat mobil, merek apa sih? Uda gitu dimana!”
“Ooooo.. hehehe gua pikir loe uda lupa tentang ini..” ledek Hendra.
“ Uda deh, cepatan jawab!”
“ Sabar bos.. di showroom Honda dan kerjaannya di Mal puri Indah. Mereka lagi ada pameran disana, kalau loe minat ntar gua kasih nomor kontak loe menejernya. Oh ya inget ya, ada potongan 10% dari pajak penghasilan loe ke gua…!”
Gua langsung mau muntah dengar kalimat terakhir dari Hendra..
“ Anjrit loe. Loe ini manusia mata duitan banget sih! Uda gua pinjemin mobil aja kaga pake ongkos sewa, eh sekarang loe malah mau ngambil gaji gua 10%.. loe uda gila ya!”
Hendra ga kalah jagonya ngelawan kalimat gua.
“ Opps. Bos. Loe pernah dengar ga bagaimana orang China berbisnis? Teman ya teman, saudara ya saudara. Bisnis tetep bisnis. Kalau loe mau ambil kerjaan ini, ambil aja! Kalau ga mau ya sudah! Banyak loh yang antri minta gua masukin ke menejernya..”
“ Reseh loe, 5% itu tawaran terakhir gua!! Titik!”
Hendra terdiam dia terlihat berbisik sama saudara-saudaranya yang dari tadi manggil dia buat jalan karena mereka akan segera pergi ke tempat resepsi perkawinanan.
“ Ok.. ok Deal. Gua lakukan ini karena gua teman baik loe..!”
“ Ngomong sama pantat gua neh..”
Gua menutup telepon karena kesal, gua ga pernah habis pikir kenapa Hendra selalu mengaitkan segala sesuatu dengan keuntungan. Apa karena bokapnya itu pedagang torserba di Bandung?. Akhirnya sore harinya gua mendapatkan telepon dari seorang menejer bernama Henry. Dia kemudian meminta gua untuk datang ke kantornya buat ngeliat portofolia profile gua. Gua setuju untuk datang besok dan berharap ini menjadi pekerjaan yang bisa gua dapatkan, sebab gua membutuhkan uang yang banyak agar bisa ngebayar tagihan kartu kredit gua. Bulan ini pasti jadi bulan paling menderita dalam hidup gua, gua harus hemat-hemat duit, bokap ga bakal kirim duit lagi. Mau minta dikirim salah ga minta juga salah, sungguh gua mau bunuh diri aja karena stress.
***
Keesokan harinya.
Gua tiba di kantor dimana tempat itu terletak di daerah Puri. Menejer kantor itu langsung menyambut gua dengan penuh senyum, gua curiga kalau dia ini gay. Habis kalau ngomong tangannya bisa ngelambai-lambai kayak penari Bali, uda gitu badannya gendut sama kayak Hendra. Dia banyak nanya-nanya seputar pengalaman kerja gua, tapi setelah itu gua kok merasa heran. Dia mulai bertanya tentang kehidupan pribadi gua dan saat itu kita ada di ruangan kantor dia hanya berdua saja.
“ Pengalaman kerja kamu cuma dibidang kantor sebulan, uda gitu jadi sales formulir kampus. Sisanya ga ada ya! Kamu sih bisa masuk jadi tim marketing kita. Wajah kamu ok, tinggi kamu ok. Body kamu juga ok!!” kata dia memuji gua.
“ Terima kasih..” gua hanya senyum-senyum manggut.
“ Oh ya.. uda punya pacar?” tanya dia ke gua dan bingung.
“ Hm.. Nga.. eh.. pernah!” jawab gua bohong.
Kalau gua bilang ga pernah pasti dia akan ga percaya dan akan terus bertanya kenapa dan kenapa?
“ Berapa kali punya pacar?” tanya dia.
“ Dua aja..”
“ Ya ampun, wajah seganteng kamu pacaran cuma dua kali aja..? bohong ya..?” tanya dia
“ Benaran kok..”
“ Ok deh saya percaya. Terus sekarang pacarnya siapa?”
“ Ga ada..”
“ Oh ya… kok bisa?” tanya dia terkejut.
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang membuat gua percaya kalau dia ini gay dan yang paling parah pertanyaan dia seputar.
“ Pendapat loe tentang homoseksual apa?”
Gua terdiam dan mencoba berpikir,
“ Saya sih sebenarnya biasa aja, terbuka dan ga ada masalah..”
“ Wow sama dong kayak saya. saya juga suka berteman sama Gay. kamu punya teman gay juga?”
“ Ga ada hehehe.” jawab gua tersenyum pura-pura.
Dan gua diselamatkan oleh suara telepon di meja kantor dia dan dari apa yang dibicarakan gua yakin kalau dia harus pergi meeting secepat mungkin.
“ Anyway, saya harus rapat dengan orang lain. Kamu mau kerja hari ini juga bisa, soalnya kita lagi kekurangan tenaga marketing. Gimana?” tanya dia.
“ Boleh juga..”
“ Sebentar ya saya panggilin teman kerja kamu sesame marketing buat anterin kamu..”
Menejer itu menelepon sekretarisnya lalu menyuruh seseorang yang gua samar-samar dengar bernama Tony. Lalu beberapa saat kemudian Tony masuk ke ruangan dan membuat gua selamat karena gua merasa ga nyaman menejer itu ngeliatin muka gua terus.
“ Permisi pak..”
“ Ton. Kenalin ini Martin. Dia teman marketing baru kamu, tolong diantar ke lokasi pameran. Biar dia bisa sekalian dikenalin sama anak-anak lain.”
Gua bersalaman dan saling melempar senyum sama Tony. Lalu pergi meninggalkan ruangan setelah pamitan dengan Henry si menejer. Dan satu hal terakhir yang gua liat dari menejer itu, matanya berkedip kepada gua, gua merinding dan segera kelua dari ruangan sambil menarik nafas panjang. Tony ngeliat gua dengan wajah heran.
“ Kenapa loe?” tanya dia
“ Oh gapapa..”
“ Kita langsung berangkat aja ya? Soalnya gua uda siapin mobil..”
“ Boleh juga..”
Tony ini orangnya berkacamata dan tubuhnya pendek, tapi dari pengalaman yang gua denger saat bincang-bincang dalam perjalanan. Dia uda kerja sebagai tenaga marketing selama 2 tahun dan catatan rekor penjualan mobilnya mencapai 200 buah. Gua bingung sekaligus salut, kalau dihitung-hitung dia bisa ngejual lebih dari 15 mobil minimal sebulan. Tony orangnya juga asyik, dia berbagi cerita tentang bagaimana menjadi marketing yang baik dan gua mendengarkan dengan seksama sebagai ilmu gua sebelum bertempur nanti. Tiba di Mal dimana perusahaan membuka pameran, kita berada di lantai dasar ditengah-tengah mal. Ada sekitar 5 orang marketing termasuk gua, disini semuanya cowok dan ga ada marketing cewek. Henry bilang pak Henry ga pernah makai tenaga kerja wanita dalam perusahannya dan itu semakin membuat yakin orang itu adalah gay.
Bekerja sebagai marketing ada caranya! Itu menurut Tony. Dia cerita lewat pengalamannya bagaimana menghadapi customer yang awalnya ga tertarik jadi tertarik. Satu; kalau customernya seorang bapak, gunakan jurus penguasaan yang tingkat tinggi dan matang dalam menjawab setiap fungsi dan kelebihan mobil. Dua ; kalau customernya serorang ibu, gunakan jurus penguasaan daya pikat dan aura laki-laki. Dengan yang ini gua sedikit rincuh, Tony bilang untuk membuat pembeli yang terutama adalah seorang ibu-ibu gua harus pandai memberikan senyum terbaik dan pengaruh kejantanan. Ibaratkan diri kita sebagai gula dan mobil sebagai es batu, ketika keduanya menyatu maka itu adalah minuman yang harus dibeli oleh sang ibu.
Dan yang ketiga untuk pembeli muda, berikan harga yang paling terbaik dan pancing dengan cara kelebihan bila sang customer memiliki mobil tersebut. Kalau dia adalah seorang perempuan jelek, maka pria tampan akan memikatnya. Kalau dia adalah seroang pria jelek maka wanita cantik akan memikatnya. Teori yang aneh tapi kenyataannya gua berhasil menjual 10 mobil hanya dalam tiga hari gua bekerja di tempat ini.Gua ga pernah nyangka ternyata gua punya kemampuan untuk menjadi seorang marketing mobil. Banyak teman-teman marketing lain yang hanya bisa menelan menelan ludah melihat kelihaian gua dalam berdagang.
Karena gua berhasil menjual sebanyak 10 mobil. Menejer gua pun akhirnya berjanji memberikan bonus di akhir bulan. Lumayan loh selain dapat duit dari hasil penjualan gua juga dapat bonus sebanyak 2 persen dari harga mobi. Kalau uda begini mah gua ga akan pusing dengan utang kartu kredit gua, dan malah gua berpikir bakal menjual lebih banyak mobil lagi supaya punya modal buat beli rumah dan mobil baru, ngarap banget sih J hehehe. tapi gua percaya kok segala sesuatu akan berjalan dengan baik kalau kita mau usaha. Hendro tiba-tiba nelepon gua ketika dia mendapatkan kabar ucapan terima kasih dari Henry karena uda mempekerjakan orang sehebat gua.
“ Bro, loe toh mantap abis deh. Ga salah gua mempekerjakan loe disini kan. Si Henry baru nelepon gua kalau dia itu senang banget sama loe..”
“ Senang sama gua..?”
“ Iya Bro..”
“ Alah bahasa loe sok gaul abis deh pake bro. bro.. segala..”
“ Maklum saudara-saudara gua di bandung gaul abis jadi gua ketepa deh.. “
“ Jadi loe nelepon gua cuma mau mastiin kabar ini?”
“ Ya ga juga sih, kan gua kangen sama loe..”
“ Kangen sama gua.. atau kangen sama bonus gaji loe..”
“ Hahahaha tau aja loe.. jadi ga enak hati..”
Gua terdiam karena tiba-tiba ada pemandangan aneh disekitar pameran gua. Gua ngeliat satu cewek yang ga asing dalam hidup gua. Cewek itu berpakaian kantor dan berwarna putih dengan kacamata hitam yang dijadikan bando buat rambutnya yang panjang. Sepatu haknya juga putih membuat jalannya terdengar sampai ke telinga gua yang lagi ngedengar bacot dari Hendro. Astaga gua ga mungkin salah, cewek yang lagi coba masuk ke ruangan pameran mobil gua adalah Angel, wanita yang mabok dan nyaris bikin gua mati dihajar massa. Tapi wajahnya kali ini terlihat segar dan manis, mungkin karena dia ga mabok. Dia berjalan berkeliling melihat semua mobil yang dipajang di pameran, gua kemudian meminta Hendra menelepon guan anti.
“ Dut, gua matiin telepon dulu. Gua ada urusan.”Ujar gua mematikan hendphone gua.
Angel mulai mendekat ke arah gua, wajahnya sama sekali ga akan berubah. Dia cewek yang menyeramkan dan membuat rambut gua rontok karena dijambak. Gua berusaha menutupi muka gua dengan brosur di tangan gua, karena posisi gua saat ini ada di mobil yang akan dia lihat. Tepatnya mobil sedan Camry hitam. Dengan satu tangan memegang tas putih, Angel memperhatikan mobilnya dan gua hanya diam di tempat gua tanpa bergerak selangkah pun. Lalu dia menolehkan kepalanya ke arah gua, melambaikan tangannya memanggil gua. Gua mendekati dia dengan penuh ketakutan tapi bersikap santai.
“ Ada yang bisa saya bantu Bu..”
Dia memperhatikan gua, wajahnya terlihat tidak senang.
“ Emangnya wajah gua setua itu sampai dipanggil ibu..” jawab dia sinis.
“ Maaf.. maaf. Nona.. ada yang bisa saya bantu..”
Dia menolehkan kepalanya ke dalam mobil dan memperhatikan setiap isi dari mobil itu setelah itu dia kembali menolehkan wajahnya ke gua.
“ Berapa harga ini mobil?”
“ Ehm.. sekitar 350 juta.. tapi karena lagi promosi kita bisa kasih kredit yang lebih ringan dengan cicilan bank 3%..” jelas gua sambil menutupin muka dengan brosul.
“ Gua ga suka kredit. Biasa beli tunai, berapa kalau tunai..”
“ Tunai ya.. ehm.. paling kita kasih harga turun 5 juta..”
Angel memperhatikan gua ketika bicara.
“ Rasanya gua kok pernah dengar suara loe ya..” kata Angel..
“ Ah… masa sih.. suara saya pasaran kali ya..hehehe”jawab gua mulai panik.
Angel kembali memperhatikan mobilnya, ia menyentuh mobil itu dengan jarinya yang lentik dan kukunya diberi warna merah.
“ Gua sih sebenarnya minat mau beli mobil ini.. sayang.. Hmm.”
Gua bingung dengan kalimat terakhir dia,
“ Sayang kenapa nona?”
“ Sayang gua ga suka lihat sikap loe jualan pake tutupin muka loe pake brosur, loe pikir gua ini bawa penyakit ya?” kata Angel kesal.
“ Sumpah Nona. Ga ada pikiran saya seperti itu, justru saya lagi kena flu sehingga ga mau nona kena virusnya—makanya saya tutupin muka saya pake brosur ini”jelas gua penuh semangat.
“ Alibi..” kata Angel pergi meninggalkan gua.
Akhirnya gua bisa menarik nafas lega, Angel pergi meninggalkan gua. Sumpah ternyata gua benar-benar salah berpikir kalau tuh cewek hanya gila saat dia mabok. Ga mabok aja uda belagunya minta ampun, gua jadi heran orang tuanya ngajarin sopan santun ga sih sama tuh orang? Kok jadi orang kasar dan ngasal aja kalau ngomong.Gua masih memperhatikan Angel pergi meninggalkan lantai dasar dengan escalator menuju lantai dua.Tony datang dan bertanya,
“ Kayaknya tadi pembeli itu marah-marah ya..”
“ Orang gila tuh, ga mau beli tapi sok mau beli. Pake acara marah-marah segala..”
“ Lah loe ngapain nutupin muka loe pake brosur gitu..”
“ Ah..” pertanyaan yang membuat gua harus berbohong.
“ Gua agak pilek jadi kayaknya mau ke depan dulu cari obat, gua izin dulu ya istirahat. Ntar kalau uda mendingan gua balik.. “
“ Yauda. Sana minum obat, ntar pada ketular lagi sama loe..”
“ Iya.. iya..”
Sebenarnya itu hanya satu alasan gua untuk pergi dari pameran ini sementara karena gua cemas Angel bakal ngeliat gua lagi nanti. Gua membutuhkan waktu dua jam untuk duduk di ruangan Mushollah di Mal agar gua bisa istirahat.Sambil tidur-tiduran gua menuggu waktu itu berlalu dan setelah itu gua kembali menuju pameran. Tony menyambut gua dengan pertanyaan keadaan kesehatan gua. Gua katakan kalau gua sudah membaik. Saat gua sudah siap untuk kembali berdagang, tiba-tiba Tony kembali ke gua sambil memberikan amplop putih kecil.
“ Apaan ini?”
“ Tadi ada yang titipin ini buat loe..”
“ Siapa?” tanya gua bingung,
“ Gua ga tau, kayaknya karyawan food court di atas. Ga gua baca sih.. “
“ Uda berapa lama..”
“ Setengah jam lalu..”
Gua membuka isi amplop itu dengan cepat dan menemukan tulisan yang singkat dalam satu kalimat.
GUA TUNGGU LOE DI ATAS, FOOD COURT
JANGAN COBA-COBA LARI KARENA GUA UDA TAU INDENTITAS LOE.
ANGEL
>>>
Isi surat itu ternyata dari Angel. Ketika membaca isi surat itu, kaki gua langsung lemes. Ternyata usaha gua menutupi diri gua sia-sia. Dia bisa inget muka gua walaupun Cuma keliatan bagian mata dan rambut gua. Sebenarnya gua pengen banget mengabaikan isi surat ini tapi gua yakin itu akan sia-sia karena Angel pasti uda tau siapa gua karena gua adalah pekerja pameran disini. Dia bakal dengan mudah mencari tau gua dari anak-anak marketing lain. Sekali lagi gua pamitan dengan Tony yang mulai bingung dengan sikap gua. Kali ini gua ga perlu bohong kalau gua ada janji untuk bertemu dengan teman di lantai Food court atas. Dengan lemasnya kaki gua melangkah dan menghitung detik-detik paling kiamat dalam hidup gua karena kembali harus bertemu dengan cewek gila bernama Angel.
Gua tiba di food court dan mencari dimana Angel duduk, setelah memutar kepala gua sebanyak 180 derajat akhirnya gua melihat dia lagi duduk sendirian di ujung kursi yang harus gua gapai dengan 20 langkah kaki gua. Gua memasang wajah lugu ketika melihat dia yang lagi minum es campur, sambil mengaduk-ngaduk dengan sendok.
“ Duduk..” salam pertama dia ke guadan gua duduk dengan rapinya.
“ Mau minum apa?” tanya dia ke gua..
“ EHm.. apa aja deh..”
Angel memanggil pelayan es campur dan dengan cepat karyawati itu mendekat sambil memberikan menu, sambil memperhatikan isi menu dia menyempatkan bertanya ke gua.
“ Uda makan?” tanya dia.
“ Uda.. sih..”
“ Makan lagi..”
Angel memesan beberapa menu yang ia sebutkan dan gua dengar sepertinya ayam goreng bakar dua potong, soto buntut lidah sapi dan udang goreng mayones. Dia juga pesan dua minuman jus alpukat untuk gua dan dia. Setelah itu pelayan itu pergi dan pandangan mata Angel langsung menuju ke arah muka gua. Gua berusaha menundukkan wajah gua.
“ Nama loe siapa?”
“ Martin..” kata gua.
“ Umur loe?”
“ 24…” jawab gua singkat.
Angel menarik nafas, dia membenarkan kacamata di atas kepalanya agar rambutnya tidak jatuh.
“ Gua ga mungkin lupa dengan setiap orang jahat yang pernah ada dalam hidup gua, termasuk maling kayak loe. “
Gua langsung memotong kata-katanya.
“ Gua bukan..” belum gua melanjutkan kalimat gua dia uda marah lagi.
“ Jangan potong pembicaran gua kalau lagi ngomong..”
“ O… ok..” kata gua.
“ Gua bakal maafin loe dan ga akan laporin tindakan loe ke polisi walaupun gua bisa saja kalau mau. Loe tau, gua uda nyimpan semua bukti-bukti kejahatan loe! Banyak saksi di lokasi yang inget wajah dan nomor motor loe saat itu. 5219 BS. “
Astaga rasanya sungguh aneh, neh cewek bisa ingat nomor kendaraan motor gua tapi ga bisa ingat apa yang gua lakuin buat dia itu sebenarnya nolong dia.
“ Jadi gua akan buat kesepakatan maaf untuk perbuatan criminal loe..”
Dengan wajah pasrah gua bertanya
“ Apa..?”
Angel terdiam kemudian pelayan datang dengan menu makanan yang kita pesan.
“ Berapa nomor Pin Blackberry loe?”
“ 20002222..” Jawab gua dan Angel langsung mereguest pin dia ke Blackberry gua dan gua bisa tau bunyi itu.
“ Approve dan jangan coba-coba loe hapus lagi. Ngerti..”
“ Iya.. iya…”
Angel kemudian mencoba mengambil makanan dari meja dan mencicipnya sedikit, setelah itu dia bangkit dari kursi dan membuat gua heran.
“ Gua ga jadi lapar gara-gara liat muka loe yang criminal, gua mau pergi. Inget ya!! Kapan pun gua manggil loe di Blackberry loe harus ada!”
“ Maksudnya?” tanya gua bingung.
“ Artinya loe harus siap siaga kapanpun gua butuhkan..!”
Gua langsung bisa menangkap kalau dia seperti ingin memperalat gua. Angel melangkahkan kakinya mendekati gua. Dia mengambil foto gua ke tanpa izin, lalu pergi meninggalkan gua dengan satu kalimat yang menakutkan.
“ Jangan coba-coba lari dari gua, atau polisi yang bakal mencari loe..”
Gua langsung bekeringat dinging menengar kalimat itu, selama hidup gua. Gua paling takut berurusan dengan Polisi, bahkan saat gua ditilang Polisi pun tubuh gua langsung bergemetar. Tapi kali ini jiwa laki-laki gua benar-benar seperti menejer gua Henry, ga berdaya layaknya pria setengah jadi. Gua mencoba mengambil minuman jus untuk membuat diri gua tenang dan berpikir kalau semua akan baik-baik saja. Begitu banyak makanan di meja dan itu sama sekali tidak membuat gua nafsu untuk makan, gua langsung mencoba mengambil langkah pergi meninggalkan food court, dan tiba-tiba pelayan itu mendekati gua sambil memanggil gua.
“ Mas, mas..” teriak pelayan itu.
“ Kenapa mbak?” tanya gua.
“ Pesanannya belum di bayar..”
“ Hah..”
Gua hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala gua, ternyata si Angel yang pesan makanan segitu banyak tapi gua yang harus bayar. Ngaku-ngakunya orang kaya tapi buat bayar makanan aja pelit, kembali lagi gua harus menguras isi kantong gua ngebayar semua yang dia makan. Gua langsung berpikir pulang nanti untuk mampir ke toko bunga, gua mau beli kembang tujuh rupa. Gua benar-benar harus mandi kembang agar terbuang dari aura Sial karena Angel.Hari ini kembali menjadi detik-detik kiamat gua. Wajah Angel dan suaranya terus menghantui gua untuk takut dan kalimat terakhirnya yang membuat gua terus ga bisa tidur tenang.
“ Kapan pun gua butuh loe, loe harus siap siaga? Jangan coba-coba lari atau polisi yang bakal cari loe..”
Tuhan..
Berikan gua kekuatan agar gua bisa hidup tenang













October 16th, 2009 at 6:25 am
aku suka ma tulisan tulisan kamu tapi menurut argumentasiku kayaknya my blackberry girlfiends mirip ma sassy girl yah ato cuma kebetulan aja dan satu lagi a love story 2012nya dilanjutin lagi cos i like this story, ok sukses slalu yah, thanks.
November 24th, 2009 at 5:02 pm
sis,di lanjut donk ceritanya…very nice story nih,ato novel nya udah keluar?kalo udah,pasti gw beli deh hehe…salute for martin,salute to sis agnes…