Tulisan peraih penghargaan terbaik pesta blogger 2009 oleh Agnes Davonar
Hari Ini saya bersyukur karena mendapatkan penghargaan sebagai penulis terbaik dalam ajang pesta blogger 2009 dengan tema ” Pluralisme dan kebhinekkan bangsa”, banyak yang ingin tau tulisannya. Uda agak lama sih saya posting, selain mendapatkan penghargaan dari pesta blogger. tulisan ini sebelumnya juga mendapatkan penghargaan dari olitoponedetik.com best insprition story. nah jadi buat yang mau baca silakan dilihat..
” saya bermimpi kelak ketika saya mempunyai anak-anak yang terlahir di dunia ini, mereka dapat hidup sebagai masyarakat majemuk yang tidak dilihat dari warna kulit dan rasnya, tapi dilihat dari watak dan kepribadiannya” agnes davonar
Sejak
kecil hingga saat ini, saya selalu merasa gembira bila mendengar hari puasa akan datang? Bukan gembira karena saya akan menerima hari libur sekolah yang panjang tapi gembira karena bisa mengingat kenangan masa lalu yang begitu indah dan membekas dalam pikiran saya. sebuah masa dimana saya bisa bermain dalam pikiran saya sejenak melepas kerinduan yang kini mulai seiring waktu karena mungkin saya telah menjadi dewasa.
Saya masih ingat, usia saya 5 tahun saat ibu membawa saya merantau dari Kalimantan menuju kota Jakarta. Setiba dari kapal laut, kami naik kereta hingga berhenti di stasiun Pos duri, Jakarta barat. Kami naik becak menuju rumah kami di kawasan padat pemukiman yang sudah ditinggalin ayah terlebih dahulu, sebelum memasuki rumah itu! Ibu hanya bicara kepada saya
“ Dengar ya, Kak. Sekarang ini rumah baru kita.. “
Saya terdiam sambil memeluk adik kecil saya yang saat itu masih berusia 2 tahun. Ayah saya memang lebih dulu datang ke Jakarta meninggalkan keluarga di Kalimantan. Ayah berkerja sebagai dokter tradisional di sekitar rumah kami yang memiliki aneka ragam suku dan ras. Di depan rumah kami terdapat sebuah masjid dan tidak jauh dari sana terdapat sebuah sekolah Kristen. Tetangga-tetangga kami banyak yang berasal dari etnis Melayu, Batak dan Tiong-hua. Saya sendiri adalah Tiong-hua peranakan dari Singkawang.
Karena belum cukup umur untuk sekolah, ibu hanya menyuruh saya untuk diam di rumah. Saya tidak mengenal siapapun di lingkungan baru saya. Tapi ibu dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya walau ia harus terbata-bata bicara bahasa Indonesia mengingat di kampung kami dulu, tidak banyak penduduknya mahir dalam berbahasa Indonesia. Sebagian penduduknya masih kuno dan hanya mengusai bahasa lokal tapi akhirnya, berhasil juga ibu mendapatkan teman-teman untuk mengenalkannya bagaimana pergi ke Pasar ataupun sekedar untuk ngobrol-ngobrol.
Ibu bergaul dengan penduduk setempat yang kebetulan banyak beragama islam. Mereka mengenal ayah saya sebagai pribadi yang santun karena sering memberikan pelayanan kesehatan kepada mereka dengan seikhlasnya. Bisa di maklumi karena sebagian daripada penduduk disana kebanyakan adalah pekerja pabrik atau pedagang pasar yang tak jauh dari rumah kami. Jadi bila setiap saya pergi keluar untuk memberi permen, tetangga saya akan berkata
“ Eh, Putri Ko Ho- lo( nama ayah saya) mau kemana?”
Ya memang demikianlah hal-hal yang terjadi setiap harinya. Ayah tidak kaya ataupun miskin, kami hidup sederhana. Ketika usia saya 7 tahun, ibu memutuskan untuk memasukan sayake sekolah negeri, bukan sekolah swasta. Saya tidak mengerti ia tega memasukkan saya ke sekolah yang kebanyakan dari mereka adalah penduduk pribumi dan hanya sebagian etnis Tiong-hua. Tapi bagaimanapun saya harus sekolah karena kebanyakan dari usia saya sudah bisa membaca dan pulang sambil memakai seragam merah putih.
Saya tidak masuk ke taman kanak-kanak sehingga harus langsung belajar membaca dan menulis. Teman-teman saya banyak yang bilang saya
“China kok sekolah disini? Disini kan sekolah negeri.?”
Memang konotasi tentang sekolah negeri saat itu hanya bagi mereka yang tidak mampu dan kalaupun ada Tiong-hua yang sekolah disana itu karena mereka tidak mampu. Saya pulang dan bertanya pada ibu saya dan ia pun tidak bisa menjawab. Ayah mendekati saya dan berkata,
“ Sayang dimanapun kamu bersekolah,tidak penting itu Negeri atau Swasta?Yang terpenting kamu jadi orang pintar dan berguna? Ayah dan ibu hanya ingin kamu sekolah dan tidak seperti kami yang ingin sekolah pun tidak mampu, jadi bersekolahlah dengan benar! Supaya nanti kamu jadi orang hebat!”
Karena saya masih kecil, saya hanya berpikir “ yang penting saya sekolah”.Saya lalui masa sekolah dasar dengan berbagai hal yang saya pelajari, guru saya pernah berkata,
“ Sekolah kita adalah contoh kebhinekaan yang harus dipertahankan karena dengan itulah bangsa ini berdiri, jadi kalian semua harus saling menghargai dan bisa menerima apapun keadaan teman-teman kalian.”
Ilmu itu kami tangkap, saya dan teman-teman sekolah menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama. Nah kalau sudah bulan puasa, ibu guru mengajarkan saya untuk menghormati mereka yang berpuasa untuk tidak makan dan minum di depan mereka. Saya memang bandel, karena terkadang tidak tahan saya berlari ke toilet dan makan disana. Ketika teman-teman saya melihat, mereka ikut-ikutan makan bersama saya.Padahal mereka sedang berpuasa, kalau sudah demikian halnya maka saya merasa berdosa sekali hehehe.
Saya belajar agama islam walaupun bukanlah seorang muslim, saya bisa sedikit membaca Alquran karena sekolah kami dulu tidak adalah kelas agama lain. Saya mengerti sejarah nabi Muhammad yang menikahi siti khodijah dan bila ujian kenaikan kelas saya selalu mendapatkan nilai 7. 6 tahun lamanya saya belajar agama islam dan menambah wawasan tentang toleransi, karena kalau lebaran imlek tiba guru saya akan memberikan izin libur kepada saya dan teman-teman Tiong-hua lainnya. Kalau sudah masuk saya sekolah saya selalu membawa kue Cendol China yang selalu dilahap abis oleh teman-teman muslim saya.
Ayah mengajarkan saya tentang bagaimana menghargai dan menghormati setiap lingkungan saya, saya masi ingat bila setiap idul fitri akan tiba, tetangga-tetangga kami yang muslim akan datang ke rumah saya untuk membawakan ketupat,ayam opor dan rendang yang gurih. Kemudian ayah akan membalasnya bila kami merayakan Imlek, ia akan memberikan kue Cendol China serta sirup ABC ke tetangga-tetangga kami.Kalau ingat masa-masa itu, saya merasa begitu bahagia karena kehangatan dan kenangan itu sungguh luar biasa membekas di benak saya. tetangga-tetangga kami juga tidak pernah keberatan bila kami harus memasang kemenyan dan lilin-lilin besar didepan rumah kami untuk menghormati leluhur setiap Imlek.
Seiring perjalanan waktu, hubungan kedekatan itu tidak pernah berhenti hingga akhirnya ayah meninggal dunia.Kami sangat terpukul, ia adalah orang yang menjadi panutan serta penopang hidup kami. Tetangg-tetangga kami juga sangat kehilangan sosok ayah, bagi mereka ayah adalah sosok dermawan yang menghabiskan waktu untuk menolong dengan keihklasan. Ayah orang yang tidak pernah memandang uang sebagai tujuan hidup, ia tidak pernah merasa keberatan memberikan pengobatan gratis kepada mereka yang tidak mampu bahkan membantu semampunya kepada mereka yang membutuhkan. Ia tidak peduli waktu bila ada yang meminta tolong padanya, baginya orang kaya, miskin, pengemis dan pemulung adalah manusia yang layak hidup. Pernah suatu ketika seorang anak mengetuk rumah kami dan berkata ayahnya tidak bisa bergerak dari tempat tidur.
Dengan hanya memakai celana pendek ayah berlari ratusan meter menuju rumahnya dan berusaha menolongnya. Dan ketika ayah meninggal, ayah anak itu berkunjung ke rumah, ia meminta ibu saya menerima sumbangan seadanya yang ia miliki padahal ibu saya tau kehidupannya lebih membutuhkan uang itu.
“ Bapak, simpan saja uang ini. Bukan maksud kami menolak tapi bapak lebih membutuhkan uang ini” Ujar ibu saya.
“ Terimalah uang ini, ibu. Saya hanya ingin membuat diri saya tenang dengan ikut menyumbang uang ini agar jasa-jasa beliau tidak pernah mati di hati saya. Uang ini mungkin tidak seberapa tapi saya harap bisa membantu bapak tersenyum karena dapat dikuburkan dengan uang ikhlas saya.”
Ya, saat itu kami memang sedang masa-masa sulit, pemakaman membutuhkan uang yang banyak. Belum lagi biaya rumah sakit sebelum ayah meninggal. Kami menangis sepanjang hari dan para tetangga kami datang untuk menghibur, membantu mengurus adik saya yang masih saja berpikir ayah kami sedang pergi bertamasya. Memasakkan kami makanan karena kami kehilangan nafsu makan dan menjaga rumah kami saat kami pergi ke pemakaman ayah di kampung halaman. Kenangan itu begitu membekas di hati saya.
Setahun berlalu, kami tidak lagi mampu merayakan imlek dengan seperti dulunya. Tapi hati saya benar-benar tersentuh ketika tetangga-tetangga kami yang tidak merayakan datang ke rumah kami tetap datang memberikan ucapan tanpa pernah mengharapkan apa-apa dari kami. Bila Idul Fitri tiba, saya masih bisa merasakan ayam opor, ketupat dan rendang yang gurih hingga akhirnya kami memutuskan untuk hijrah keluar negeri karena ibu mendapatkan perkerjaan. Maka masa-masa itu pun berakhir, kenangan tentang pluralisme Indonesia telah hilang dari tanah baru kami.
Saya tumbuh dewasa dengan nilai-nilai barat yang membekas dalam pendidikan hidup saya tapi saya tidak pernah menghilangkan nilai-nilai timur yang saya dapatkan di tanah kelahiran saya Indonesia. Saya kembali ke tanah air untuk mengenang masa lalu dengan melihat kondisik fisik rumah peninggalan ayah saya. air mata saya berjatuhan mengenang masa lalu karena sesaat lagi rumah itu akan dihancurkan menjadi sebuah apartement mewah (kini Seasons City) Ketika saya berdiri didepan rumah saya, seorang pria datang kepada saya.
“ Kamu anaknya Ko-Hok-lo ya?”
Saya berusaha mengingat sosok laki-laki itu, dia mengatakan kalau dia adalah salah satu pasien ayah yang sempat ditolong. Saya tidak tau bagaimana ia bisa ingat wajah saya yang telah dewasa, ia mengajak saya duduk dirumahnya untuk sekedar minum teh dan mengenang masa-masa ayah saya masih hidup disekitar lingkungan ini. Saya begitu terharu, banyak dari mereka yang masih ingat ayah saya dan saya, semua berdatangan menyalami saya dan berharap saya tidak pernah lupa akan tanah dimana saya belajar arti kebhinekaan dan Pluralisme. Saya katakan pada mereka,
“ Walaupun saya jauh di ujung dunia untuk hidup, saya tidak akan pernah lupa akan kenangan indah saya disini. Terutama bapak-bapak dan ibu-ibu yang telah memberikan pelajaran hidup kepada saya dengan sepenuh hati. Karena pelajaran hidup itulah yang membuat saya bangga sebagai bangsa Indonesia”
Saya masih berharap kelak ketika kembali saya masih bisa merasakan opor ayam, ketupat dan rendang dari mereka.
Kalau sudah demikian halnya matipun saya akan ikhlas.
Agnes Davonar
Agnes Davonar adalah penulis online dan novel cetak yang telah melahirkan 4 buku dan 80 cerita online. tahun ini ia berhasil meraih 3 penghargaan dari detik.com inspiratif blogger , kapanlagi.com friends award dan penulis terbaik 2009 di ajang tertinggi telekomunikasi dan informasi bubu award. Novelis dua bersaudara yang kental dengan tema buka inspiratif dan sosial disetiap bukunya ini telah membuka era baru cerita yang jauh dari kisah cinta tapi sukses menciptakan novel best seller
sekali lagi terima kasih atas dukungan kalian













October 24th, 2009 at 8:33 am
Bravo. Cerita indah, kenangan indah yang menyentuh. Anda beruntung sekali memiliki ingatan akan kenangan seperti ini.
Tuhan memberkati anda dan keluarga.
October 30th, 2009 at 7:19 am
pantas menang
tulisannya sangat menginspirasi
selamat yaaa
saya mau donk diajari
November 1st, 2009 at 10:45 pm
Dearest Agnes Davonar
Cerita yang sangat inspiratif.
Terimakasih telah berkenan berbagi.
Syaif Niskala
November 3rd, 2009 at 12:30 am
Tuhan punya skenaro mbak, kesulitan yang pernah dialami di masa lalu ternyata sekarang menjadi kekuatan terbesar mbak.. Itu patut dirayakan..
Mainan Anak Online
November 8th, 2009 at 7:25 am
tulisan yang bagus nes.. !! antara melihat naskah layar lebar dengan penghayatan dari pengalaman hidup..
November 14th, 2009 at 9:11 am
LUAR BIASA !!! Baru hari ini saya baca beberapa topik anda, semuanya bagus. dan saya sepertinya ikut merasa apa yang anda rasakan.
sekali lagi LUAR BIASA. Anda pastas menang