Nyaman dan aman di Jalan raya milik kita bersama
Pesan terakhir ayah..
Sewaktu acara pesta Blogger 2009, saya awalnya tidak mengerti mengapa saya begitu tertarik dengan penjelasan seorang trainingFord yang membawakan tema makalahnya yang berjudul “ Ford driving Skills”. 1 jam lebih saya mengikuti apa yang dijelaskan, hingga pulang ke rumah saya menyadari satu hal. Ada satu pelajaran yang telah membawa saya akan tentang masa lalu dari pelajaran hari itu, sebuah pelajaran yang mengingatkan saya pada ayah yang telah pergi dalam hidup saya.Sebuah kenangan yang benar-benar terjadi dan membuat saya mengerti apa itu arti keselamatan hidup saat berkendara di setiap perjalanan wisata saya.
Jadi begini ceritanya..
Waktu kecil kira-kira saat saya berumur 10 tahun, saya paling jengkel bila berpergian dengan ayah berangkat sekolah. Dengan suara vespa tua tahun 80-an, motor itu berjalan lambat sekali seperti siput. Bahkan saya sempat berpikir, saya mampu berlari lebih cepat dari motor vespa milik ayah. Saya tidak pernah mengerti mengapa ayah selalu mengendarakan motornya dengan pelan dan berhati-hati. Ketika tiba di gerbang sekolah, saya malah harus berlari kencang untuk tiba di kelas karena perjalanan dari rumah menuju sekolah saya membutuhkan waktu 30 menit dengan motor vespanya, padahal kalau saja ayah mau lebih cepat melaju vespanya, mungkin bisa 15 menit kita sampai.
Mengapa saya bilang lari saya lebih cepat dari vespa ayah? Karena jika ayah sedang menyetir motor vespanya, ia selalu berada di jalur sebelah kiri. Padahal saya melihat banyak motor-motor lain yang melaju ditengah bahkan kanan yang bisa membuatnya lebih cepat. Bila ada mobil lewat, ayah memperlambat motornya lebih buruk lagi dan memberikan mobil itu jalan lebih dulu. Itulah mengapa kami membutuhkan waktu yang lebih banyak pada umumnya untuk tiba di sekolah. Saya bingung, mengapa ayah selalu berhati-hati sekali, padahal jalan begitu luas. Tapi bagaimanapun selama kami berjalan, kami selalu tiba di sekolah dengan selamat walaupun terasa sangat menyebalkan.
Sebenarnya saya ingin pergi sekolah berjalan kaki ,saya bila di izinkan. Tapi karena usia saya masih terlalu kecil, ayah melarangnya.Kalau jam pulang sekolah tiba, suara motor vespa ayah yang khas akan selalu ada di depan gerbang sekolah. Tapi hati saya tidak sejengkel saat saya berangkat sekolah karena saat pulang ke rumah, saya bebas kapan saja bebas tiba dirumah. Akhirnya, karena suatu pagi saya terlambat dan ibu guru memarahi saya, saya pun mengeluhkan keterlambatan saya pada ayah, saat pulang sekolah di meja makan rumah kami sambil menikmati makan siang. Saya bicara pada ayah,
“ Ayah, kenapa sih kalau berkendaraan kok lelet amet? Kan Agnes jadi terlambat”
Ayah tersenyum sambil berkata “ Memangnya ada bedanya kamu mengebut dan lelet di jalan?” tanya ayah saya balik.
“ Ya, ada lah.. kan Agnes gak jadi terlambat. Karena ayah bawa motornya lelet, Agnes jadi telat terus..”
“ Jam berapa kamu bangun setiap paginya Agnes?” tanya ayah,
“ Jam 6 pagi..”
“ Berapa lama kamu butuh waktu untuk bersiap-siap hingga kamu siap menumpang motor ayah?”
“ 30 Menit untuk mandi, ganti seragam dan makan pagi..”
“ Berapa lama kita butuh waktu untuk tiba di sekolah dengan motor ayah?”
“ Agnes sudah hitung bisa diatas 25 menit.” Kata saya mengingat karena terjadi setiap harinya.
“ Ok, sekarang siapa yang perlu diubah untuk supaya kamu tidak terlambat?”
“ Tentu saja ayah, kan ayah bisa mengebut dikit supaya bisa tiba lebih awal..”
“ Tidak sayang, ayah tidak akan pernah melakukan apa yang kamu inginkan. Yang perlu diubah adalah kedispilinan kamu..”
Saya terdiam dan bingung dengan maksud ayah dan bertanya “Maksud ayah..?”
“ Kalau saja kamu mau bangun 5 menit lebih awal, tentu saja kamu akan tiba lebih awal pula di sekolah 5 menit.. jangan salahkan ayah. Ayah berkendaraan sudah benar, sesuai aturan dan displin. Jadi kalau kamu mau tidak terlambat lagi, kamu harus bangun 5 menit lebih awal mulai besok..”
Saya terdiam, tidak mau mengerti dengan penjelasan ayah, tapi keesokan harinya saya mulai bangun lebih awal 5 menit. Memang setelah itu tidak pernah terlambat lagi, tapi pertanyaan dalam hati saya tidak pernah terjawab
“ Mengapa ayah harus mengikuti aturan, kalau saja ia bisa lakukan yang lebih baik, toh.. fungsi berkendaraan bukannya untuk mempermudah manusia mencapai tujuan?”

Beberapa tahun kemudian, kami mulai mampu membeli sebuah mobil bekas yang digunakan untuk membawa saya dan adik saya berangkat sekolah. Saya pikir kami akan tiba lebih cepat dari motor sebelumnya, ternyata malah membutuhkan waktu lebih banyak lagi. Kalau sudah begini saya dan adik saya harus bangun 10 menit lebih awal. Ayah selalu tersenyum ketika kami tiba di sekolah, walau ia tau saya selalu memasang wajah cemburut.Wajah dimana kekesalan karena ayah berjalan terlalu lama untuk tiba di sekolah.
Suatu pagi yang tidak pernah terlupakan, hal yang membuat saya belajar hingga saat ini mengapa ayah hanya tersenyum kepada saya setiba di sekolah dimulai dari sebuah kejadian yang tidak menyenangkan. Ceritanya begini, kami sedang berada di dalam mobil untuk berangkat ke sekolah, jalanan saat itu memang sedang sibuk karena banyak yang akan berangkat beraktifitas di pagi hari. Ayah menyetir dengan tenang, tapi tiba-tiba motor melewati kami dengan angkuhnya, ayah terdiam sambil menarik nafas. Motor itu nyaris membuat kami celaka, Saya melihat itu dan berkata,
“ Ih naik motor kok ugar-ugaran, bikin bahaya aja..”
Ayah langsung berkata pada saya,
“ Itulah yang membuat ayah selalu mengajarkan kamu hal yang harus kamu pahami hingga kamu dewasa nanti..”
“ Maksud ayah?” tanya saya bingung.
“ Kamu tau, bagaimana rasanya kita yang barada di dalam mobil ketika melihat motor berjalan semau hati mereka tanpa peduli dengan kita..?”
“ Menjengkelkan..” jawab saya tanpa tendeng aling-aling.
“ Apa jadinya kalau kita yang ada di motor itu dan melakukan hal yang kamu selalu inginkan, yaitu mengebut untuk tiba lebih cepat..”
Saya terdiam, merasakan seperti tamparan dari kalimat ayah terbayang sebuah kecelakaan. Lalu ayah berkata lagi,
“ Lalu apa jadinya kalau kita yang berada di motor dan melihat mobil melaju seenak hati mengebut?”
Saya tidak menjawab pertanyaan ayah, sambil tersenyum ayah berkata.
“ Kamu sudah mengertikan anakku? Mengapa ayah selalu berjalan dengan sebaik mungkin dengan motor ataupun mobil ini, karena bila kita berkendara alat transportasi apapun. Kita harus bisa menghargai hidup kita, kesalahan waktu tiba bukan karena motor ini melaju dengan terlambat atau tidak, tapi karena tidak disiplinnya kita mengatur waktu kita sendiri. kita tidak boleh egois, karena nyawa kita adalah taruhannya. “
Saya menghela nafas dan mulai mengerti mengapa selama ini ayah mengajarkan kejengkelan saya dengan kesabaran dan penjelasan yang selalu saya simpan dalam hidup saya hingga saat ini. Ayah benar, hingga saya dewasa saat ini. Saya tidak akan pernah lupa dengan kejadian yang memilukan terjadi diantara lingkungan dan sahabat-sahabat saya. banyak dari mereka telah pergi menghadap Tuhan karena kecelakaan motor ataupun mobil.Saya bersyukur, saya mengerti pendidikan dan etika berkendara dengan mobil yang saya miliki saat ini karena pendidikan yang ayah tanam kepada saya.
Memang benar, terkadang kita merasa jengkel bila berada di mobil dan melihat motor melewati kita sesuka hatinya. Dan begitu sebaliknya kita berada di motor dan melihat mobil melaju dengan sesuka hatinya. Andaisaja mereka yang berkendara mau mengerti kalau tujuan kita selalu sama, berkendara untuk mencapai tempat yang kita inginkan. Kita bisa saja bersikap lebih saling menghargai dengan batas-batas aturan berkendara dengan benar. Menggunakan tempat yang semestinya kita gunakan bila di jalan raya, niscaya, saya percaya kita akan tiba sampai dengan tujuan dengan selamat.
Dan kita akan bisa saling tersenyum kepada semua orang yang berada diatas tanah aspal yang sedang berharap tiba ditujuan masing-masing.
Well, memang benar banyak hal yang perlu kita sikapi dalam hidup ini.Angka kecelakaan tahun lalu di lebaran cukup tinggi lebih dari 400orang tewas karena kecelakaan, padahal mereka ingin sampai ke rumahdengan tujuan yang mungkin kebahagiaan. Sayangnya malah menjadi kesedihan, kita harus bersikap mulai saat ini.
Berkendaraan dengan hati dan nurani,..
semoga pengalaman ini menjadi pelajaran bagi siapapun..
amien
Agnes davonar
oh ya kalau kalian mau tau banyak tentang tata cara keselamatan berkendaraan atau mengikuti seminar krama berkendaraan bisa masuk ke situs ini http://www.dsflindonesia.com , daftarkan diri kamu., gratis loh
sumber foto:
keetsa.com , agnesdavonar. ericoforter.com













October 28th, 2009 at 12:19 am
Sekarang saya berada di posisi ayah. Dan ternyata setiap pagi saya juga mesti buru-buru (ngebut) ngantar anak saya ke sekolah. Bukan salah dia, karena ternyata saya yang selalu telat bangunnya.
Tulisan ini mengingatkan saya untuk lebih disiplin di pagi hari.
Makasih ya… BTW salam kenal dan selamat jadi pemenang di Writing Contest PB 2009
November 1st, 2009 at 9:54 pm
Well..
Kesaksian yg luar biasa…
Tapi kyaknya w butuh wktu yg lama utk mengubahnya…
Dan…1 hal lg..
Gak slamanya org yg brkendaraan lambat juga slamat pe tujuan..
Coz w & teman pernah di tabrak org saat sedang pelan jalannya…
So…???
intinya ci cuman hati2 n waspada aja klw lg brkendaraan
November 23rd, 2009 at 8:56 am
selamat,…*shakehand